JurnalPost.com - Jika kita membicarakan mengenai pembangunan pasti di benak kita terfikirkan pembangunan infrasturuktur, padahal pembangunan bukan hanya pada infrastruktur saja, namun juga bisa pada pembangunan sumber daya manusianya. Pembangunan infrastruktur pada tahun beberapa tahun terkahir patut untuk diapresiasi karena berhasil membuat pertumbuhan ekonomi stabil pada kisaran 5% dimana lebih tepatnya pada tahun 2019 kisaran 5,2%. Sehingga hal tersebut diharapakan dapat menjadi pijakan dasar dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Pada tahun 2019 pemerintah sudah mulai membuat strategi dalam membangun sumber daya manusia untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi sebagai bentuk untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penguatan sumber daya manusia dilakukan agar tercapainya manusia unggul yang memiliki korelasi yang erat dengan peningkatan produktivitas kerja dalam memenangkan persaingan ditengah perubahan yang terjadi sangat cepat baik itu dalam bidang bisnis, ekonomi, politik maupun budaya. Pada tahun 2018, Word Bank memaparkan bahwasannya Indonesia menempati peringkat ke 87 dari 157 negara pada kualitas sumber daya manusianya dimana peringkat ini lebih rendah dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Filipina. Oleh karena itu pilihan strategi pembangunan yang difokuskan pada pembangunan sumber daya manusia sangat tepat untuk menjawab tantangan bagi Indonesia dimana Indonesia saat ini berada dalam periode Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang menuntut sumber daya manusia Indonesia yang terampil juga unggul agar memilki daya saing yang tinggi sehingga dapat berkontribusi dalam membangus suatu bangsa.
Pembangunan sumber daya manusia yang jelas terukur serta masif dilaksankan untuk menjawab tantangan pembangunan dan memastikan kontribusinya dalam mencapai visi indonesia di tahun 2045 untuk mewujudkan negara Indonesia yang lebih sejahtera, maju, berdaulat, adil dan makmur, menjadi ekonomi terbesar kelima di dunia dengan Produk Domestik Bruto (PDB) lebih dari 7,3 triliun dollar AS dan pendapatan perkapita di atas 25 ribu dollar AS. Hal tersebut dapat dicapai apabila dipersiapkan dengan sungguh-sungguh dan bersinergi dalam membangun sumber daya manusia. Pembangunan sember daya manusia menekankan pada keseimbangan hubungan antara pendidikan, kesehatan, pekerjaan, ekonomi, kesejahteraan sosial, budaya, politik, teknologi, dan lingkungan. Presiden dari Word Bank mengatakan bahwasannya kunci dari perbaikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan pada suatu negara adalah pendidikan dan juga kesehatan.
Pendidikan menjadi hal yang utama dalam meningkatkan sumber daya manusia dengan memulainya pada sekolah pertama anak yaitu keluarga atau orang tua. Pendidikan moral penting untuk diberikan kepada anak sejak masih kecil untuk membentuk karakter anak menjadi anak yang berbudi pekerti yang tangguh, cerdas, sehat, dan mencintai negara Indonesia. pendidikan berikutnya yaitu pendidikan yang diberikan oleh guru di sekolah, dimana peran dari guru disini sangatlah penting untuk mengajarkan mengenai nilai-nilai agama sesuai dengan keyakinan masing-masing, bagaiman bersikap saat berada di tengah-tengah masyarakat, mencintai lingkungan, kesehatan fisik juga psikis serta menciptakan rasa nasionalisme. Pemerintah juga mengupayakan agar pendidikan dapat dijangkau oleh seluruh rakyat Indonesia melalui program perluasan akses pendidikan seperti KIP Kuliah, BOS, Bidik Misi dan LDPP.
Kesehatan merupakan faktor penentu produktivitas manusia dimana kesehatan ini harus diperhatikan sejka berada pada kandungan. Dalam hal tersebut indonesia mengupayakan melalui program Germas (Gerakan Masyarakat Indonesia Sehat), peningkatan kualitas layanan kesehatan, dan program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional), serta upaya untuk menurunkan permasalahan pada stunting. Stunting merupkan kondisi dimana terdapat kegagalan pada pertumbuhan anak (tubuh dan otak) yang diakibatkan oleh krangnya gizi dalam waktu yang lama. Sehingga hal tersebut mengakibatkan perbedaan bentuk tubuh anak dengan anak normal lainnya seperti lebih kecil dan kurus, lalu memiliki keterlambatan dalam berfikir. Namun hal tersebut dapat dicegah dengan memberi anak makanan yang bergizi seperti buah, sayur, daging dan susu sampai anak memasuki usia minimal 2 tahun.
Penylis: Siti Nafiatul Fikriyah/Prodi Administrasi Publik/Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda