Oleh: Sri Mewan Lestari Putri
JurnalPost.com - Banyak manusia saat ini yang tidak kenal dengan rasa syukur. Selalu merasa kurang dan malas berusaha. Bahkan dengan cara menjatuhkan orang lain menjadi sikap yang sulit dihindarkan. Sikap buruk seperti itu tentunya sudah lama hadir dalam hidup manusia. Bahkan sejak Nabi Adam dihadirkan ke dunia. Siapa sangka sifat manusia dalam kehidupan seperti itu dikisahkan dalam sebuah naslah dari peninggalan di masa lampau. Ya, pada masa lampau. Semua kehidupan sudah dicatat dalam sebuah naskah atau manuskrip. Baik tentang kehidupan, alam, penyakit dan obatnya, religi dan masih banyak lagi.
Salah satu naskah kuno yang di dalamnya memberikan nasihat, serta arahan hidup agar mampu bersyukur atas karunia dari Tuhan Yang Maha Esa, yaitu maskah kuno “Hikayat Si Miskin”. Sudah pernah dengar naskah itu? atau sudah pernah membaca naskah tersebut? Kalau belum tau dan belum pernah membaca sama sekali, sangat merugi! Karena kisah di dalam naskah Hikayat Si Miskin ini sangat menarik, dan nasihat yang sangat luar biasa bagi kehidupan saat ini.
Pada Hikayat Si Miskin ini mengisahkan kehidupan sepasang suami istri yang diusir dari sebuah kerajaan. Mereka dihina dan dicaci maki karena kemiskinan mereka. Akhirnya mereka memutuskan hidup di hutan tanpa rumah dan tiada membawa sepersen pun harta benda. Kehidupan mereka sangat miskin, sang suami hanya keluar masuk hutan menuju pedesaan untuk meminta sesuap nasi. Namun, sangat disayangkan seorang pun tiada yang menolong dan mereka hidup kelaparan di hutan. Sampai suatu hari, sang istri hamil dan mereka segera dikaruniai seorang buah hati yang sudah lama diharapkan. Sang istri pun mengidam ingin buah pelam dan buah nangka yang ada di istana kerajaan. Sang suami dengan ragu menuju kerajaan, ia tidak banyak berharap lebih terhadap permintaan istrinya itu ia ragu raja tidak akan memberikan buah itu. Namun, di luar dugaan, raja dengan baik memberikan buah-buahan itu kepada si miskin. Si miskin pulang dengan amat senang, karena berhasil mendapatkan apa yang diidamkan istrinya itu.
Saat sang istri itu hamil, banyak rezeki dan bantuan yang datang kepada keluarga mereka. Sampai mereka dapat membangun rumah dan memiliki usaha sendiri. Anak yang hadir di keluarga mereka menjadi pintu rezeki bagi mereka. Begitu pun kehamilan anaknya yang kedua, mereka hidup kaya raya dan membentuk sebuah kerajaan baru. Singkat cerita, sepasang suami istri tersebut dihasut oleh seorang ahli nujum, sehingga harta mereka habis dan mereka terpisah dengan sang anak. Ketika anaknya besar, berusaha merebut kekuasaan, dan ia berhasil kembali hidup bersama kedua orang tuanya.
Nah, dari sepenggal kisah di atas kita jadi tahu apa maksud dari “banyak anak, banyak rezeki”. Pastinya dari nenek-nenek kita dahulu sering menyebutkan kalimat seperti itu. Bisa saja hal itu ada benarnya, karena anak termasuk rezeki yang tidak terhingga. Dari kisah Hikayat Si Miskin ini pun, memberikan nasihat bahwa anak termasuk rezeki, dan dari seorang anak rezeki itu hadir. Selain itu, nasihat yang ada pada Hikayat Si Miskin ini jangan pernah merendahkan orang lain. Karena roda dunia ini terus berputar, tidak selamanya hidup di atas dan tidak selamanya hidup berada di bawah. Dengan perbanyak rasa syukur hidup akan semakin tenang, dan dipermudahkan atas segala urusannya.
Jadi, dari sebuah naskah kuno kita dapat belajar banyak pengetahuan tentang kehidupan. Bagaimana cara kita sesama manusia, bagaimana cara kita menghadapi kehidupan ada dalam sebuah naskah. Karena naskah kuno pada dasarnya menceritakan kisah dimasa lampau, untuk diambil hikmahnya dan pelajarannya bagi masa kini.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda