
Oleh: Kelompok 8 Mata Kuliah E-Commerce Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang.
JurnalPost - Dewasa ini dalam menghadapi pandemi yang tidak terlihat ujungnya membuat banyak bermunculan pelaku bisnis baru maupun lama yang gencar melakukan strategi marketing dengan menggunakan teknologi atau lebih tepatnya memanfaatkan sosial media, sebut saja pemilik online shop. Dengan berbekal bahan jualan yang sudah ada, membuat postingan tentang produk untuk promosi serta memanfaatkan sosial media yang sedang ng-trend akhir-akhir ini semenjak pandemi awal muncul, seperti platform aplikasi TikTok.
Pemanfaatan sosial media ini bisa disebut ide cemerlang karena peluang yang besar dengan jangkauan yang luas dan mudah dijumpai membuatnya terkesan sederhana namun memiliki efek yang cukup besar untuk keberlanjutan bisnis online dari yang kecil hingga menengah yang bisa mengantarnya menjadi bisnis besar hanya dengan sosial media.
Sebaliknya dengan menggunakan media konvensional, menambahkan sebuah akun social media atau memperluas jaringannya dengan membuat relasi yang lebih luas dengan komunitas digital maka mood akan terus-menerus naik dan pasar semakin tidak terkendali.
Pemilik online shop yang sudah demikian lama bisa memberikan penawaran lebih karena pemilik online shop tidak akan menyia-nyiakan peluang bisnis mereka, sehingga membuat iklim usaha menjadi semakin bersaing. Melihat penawaran terus-menerus ini menimbulkan rasa kecemasan pada pemilik online shop kedepan yang semakin bertambah dan kemunculan bisnis baru menjadi masalah besar bagi yang sudah berada pada posisi terbaiknya.
Salah satu upaya yang bisa dilakukan oleh pelaku usaha untuk bertahan dan menghadapi persaingan baru di dunia maya adalah masifitas promo melalui media sosial. Media sosial yang digunakan sebagai alat digital marketing mampu mendongkrak awareness konsumen (Estrin, Mickiewicz, and Stephan 2016; Octavia and Sari 2018). Awareness ini berfungsi untuk mengingatkan kembali konsumen akan merek yang pernah ada. Karena pada masa pandemi fokus konsumen bukan lagi pada merek mahal atau bukan, tetapi fokusnya adalah kapan pandemi ini berakhir. Media sosial yang digunakan sebagai tool digital marketing mampu mendorong konsumen untuk ingat kembali merek sebuah produk. Selanjutnya, konsumen akan melakukan instant buying menggunakan marketplace. Konsumen akan lebih cepat memutuskan instant buying ketika produk yang dipromosikan menggunakan model digital marketing dan barangnya tersedia di marketplace.
Pelaku UMKM yang memahami perubahan ini, langsung melakukan adaptasi. Adaptasi yang dilakukan adalah terkait promosi dan penjualan. Adaptasi ini sebagai salah satu strategi untuk bertahan dalam masa ketidakpastian. Keberlangsungan sebuah Bisnis level UMKM harus tetap bertahan jika tidak ingin hilang dari pasar. Penelitian (Jaswadi, Iqbal, and Sumiadji 2015) mengungkapkan bahwa komponen penting dalam keberlangsungan Bisnis adalah pelanggan. Dalam penelitiannya diungkapkan bahwa nilai pelanggan dalam menentukan keberlangsungan Bisnis adalah 86% dari seluruh total komponen. Maka dengan demikian mempertahan pelanggan dan mencari perluasan pelanggan baru merupakan strategi yang paling rasional di tengah pandemi.
UMKM yang mampu bertahan di masa pandemi adalah mereka yang mampu menemukan cara bertahan. Salah satu cara UMKM bertahan adalah menambah jenis saluran ekspansi dalam penjualan dan Pemasaran. Ekspansi saluran alternatif jualan dan Pemasaran ini terkait penggunaan media internet (marketplace) beberapa alasan pelaku UMKM menggunakan sarana internet untuk menjalankan bisnisnya mempunyai beragam alasan. Salah satu diantara alasan penggunaan media internet dalam menjalankan bisnisnya adalah memasarkan produk melalui media sosial.
Pemasaran produk/jasa UMKM melalui media sosial menjadi sebuah trend dan keharusan di tengah masa sulit. Namun transformasi perubahan tersebut bukan tanpa kendala. Beberapa pelaku UMKM yang masih enggan menggunakan sarana digital mengaku belum mampu menggunakan internet dengan baik. Selain itu, ada keterbatasan mereka dari sisi infrastruktur yang masih belum/tidak layak terkait akses layanan internet. Melihat dari salah satu fusngsi dari media bagi UMKM yaitu promosi yang memiliki tujuan yang jelas. Umumnya promosi yang dilakukan perusahaan harus didasari oleh beberapa tujuan yaitu modifikasi tingkah laku, memberikan Informasi, membujuk dan mengingatkan.
• Memodifikasi tungkah laku Pasar adalah tempat pertemuan di mana orang-orang hendak melakukan kegiatan pertukaran, orang-orangnya terdiri dari berbagai macam tingkah laku. Begitu juga dengan pendapat mereka tentang suatu barang atau jasa, ketertarikan, keinginan, dorongan, dan kesetiaannya terhadap barang dan jasa tersebut juga berbeda. Maka dari itu tujuan promosi adalah untuk mengubah tingkah laku dan pendapat suatu individu, dari yang semula tidak menerima suatu produk, menjadikannya setia terhadap produk tersebut. • Memberikan Informasi. Kegiatan promosi ditujukan untuk menginformasikan kepada konsumen yang dituju mengenai suatu produk. Informasi tersebut seperti harga, kualitas, syarat pembeli, kegunaan produk, keistimewaan, dan lain-lain. • Membujuk. Pada umumnya promosi ini kurang disenangi masyarakat. Namun pada kenyataannya, saat ini jenis promosi ini banyak bermunculan. Promosi ini dilakukan untuk mendorong adanya pembelian. • Mengingatkan. Promosi bersifat mengingatkan ini dilakukan untuk mempertahankan merek produk dihati masyarakat. Promosi ini dilakukan selama tahap kedewasaan dalam siklus kehidupan produk. Perusahaan berusaha memperhatikan dan mempertahankan pembeli yang ada, karena pembeli tidak hanya sekali melalukan pembelian melainkan harus berlangsung dan terus menerus.
Berdasarkan data yang kami dapatkan perawal tahun 2021 di bulan April tepatnya pada situs kantar jumlah pengguna media sosial Facebook naik sebesar 59%, Instagram 61%, dan Whatsapp 76%. Untuk survei konsumen digital bisnis melalui sosial media di Asia Tenggara mencapai 310 juta konsumen dimana jumlah tersebut merupkan target untuk 4 tahun kedepan tapi terjadi pada tahun 2021 ini karena dorongan pandemi. Di Indonesia sendiri kenaikan jumlah konsumen digital bisnis naik 35 juta disbanding tahun 2018.
Indonesia merupakan salah satu dari 5 negara penyumbang akun bisnis terbesar di dunia, predikat ini didapat bahkan sebelum pandemic bersama Amerika Serikat, Rusia, Brazil dan Inggris, Untuk itu dapat dikatakan digitalisasi konsumen bisnis di Indonesia sudah berjalan secara dan pada saat pandemi ini semakin cepat lagi. Artinya pelaku bisnis diharapkan dapat berjuang cepat mengampil peluang yang ada. Sehingga masa pandemic ini dapat dimanfaatkan pelaku bisnis di Indonesia untuk dijadikan batu loncatan untuk mengembangkan bisnisnya melalui platform bukan hanya sosial media tapi juga masuk kepada e-commerce.
Maka dengan demikian media sosial dapat dikatakan sebagai alat untuk keberlanjutan bisnis online kecil dan menengah di masa pandemi, media sosial telah menjadi tren baru atau strategi baru nya kemajuan teknologi yang dapat digunakan oleh semua kalangan tidak terkecuali bisnis online kecil dan menengah untuk dapat terus bertahan dimasa pandemi.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda