BOJONEGORO, JurnalPost.com – Siapa sangka, makanan tradisional khas Bojonegoro yang dikenal dengan nama ledre kini mampu menjangkau konsumen hingga luar negeri. Di tangan Rumiyati, pelaku usaha asal Desa Purwosari, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, jajanan berbahan dasar pisang tersebut terus dikembangkan melalui usaha yang diberi nama Ledre Sultan.
Rumiyati tidak sekadar mempertahankan keberadaan makanan khas daerahnya. Ia juga berupaya menghadirkan inovasi agar ledre tetap diminati masyarakat, termasuk generasi muda yang memiliki selera beragam.
Usaha yang dijalankannya kini mampu memproduksi sekitar 1.500 batang ledre setiap hari dan melibatkan sembilan pekerja. Bahkan, produk Ledre Sultan pernah menjangkau konsumen di Thailand dan Jepang.
Di balik perkembangan usaha tersebut, Rumiyati juga memanfaatkan layanan perbankan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Bojonegoro. Ia mengaku telah menjadi nasabah BRI sejak sekitar 2015 melalui produk tabungan Simpedes.
Berawal dari Makanan Tradisional, Kini Hadir Enam Varian Rasa
Ledre merupakan salah satu makanan khas Bojonegoro yang dikenal memiliki tekstur renyah dengan cita rasa pisang. Kudapan berbentuk gulungan tipis ini telah lama menjadi pilihan oleh-oleh bagi masyarakat yang berkunjung ke daerah tersebut.
Melihat potensi tersebut, Rumiyati berusaha mengembangkan Ledre Sultan dengan menghadirkan variasi rasa tanpa meninggalkan ciri khas produk tradisionalnya.
Jika sebelumnya ledre identik dengan rasa original, kini Ledre Sultan menawarkan enam pilihan rasa, yakni original, cokelat, stroberi, tiramisu, taro, dan matcha.
Inovasi tersebut dilakukan untuk memberikan pilihan yang lebih beragam kepada konsumen sekaligus memperluas peluang pemasaran.
Tidak hanya menghadirkan variasi rasa, Rumiyati juga menyediakan produk dalam beberapa pilihan ukuran dan harga agar dapat menjangkau berbagai kalangan pembeli.
"Ledre dengan beberapa pilihan harga. Produk tersedia mulai dari Rp15 ribu, Rp25 ribu hingga Rp35 ribu. Perbedaan harga tersebut menyesuaikan ukuran dan berat produk," ungkap Rumiyati.
Pilihan harga tersebut memungkinkan konsumen menyesuaikan pembelian dengan kebutuhan, baik untuk dinikmati sendiri maupun dijadikan buah tangan.
Produksi 1.500 Batang Ledre Setiap Hari
Perkembangan usaha Ledre Sultan juga terlihat dari kapasitas produksinya. Rumiyati mengaku mampu menghasilkan sekitar 1.500 batang ledre dalam sehari dengan dukungan para pekerjanya.
Ketika mendapatkan pesanan dalam jumlah besar, produksi juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan. Dalam satu pesanan, jumlahnya bahkan bisa mencapai sekitar 165 kotak.
"Sehari produksi 1.500 batang ledre. Ada enam varian rasa, seperti original, cokelat, stroberi, tiramisu, taro dan matcha," beber Rumiyati.
Saat ini, usaha yang dijalankannya melibatkan sembilan orang pekerja. Mereka membantu berbagai kegiatan produksi untuk memenuhi permintaan konsumen.
Keberadaan usaha tersebut tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi pemiliknya, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat yang terlibat dalam proses produksi.
Bagi pelaku usaha makanan tradisional, peningkatan kapasitas produksi menjadi salah satu tantangan yang perlu diimbangi dengan upaya menjaga kualitas dan konsistensi cita rasa.
Ledre Sultan Pernah Menjangkau Thailand dan Jepang
Rumiyati juga memiliki pengalaman memperkenalkan produknya kepada konsumen di luar negeri.
Ia menyebut Ledre Sultan pernah dipasarkan hingga Thailand dan Jepang. Sebelum memperluas pemasaran, Rumiyati terlebih dahulu memperkenalkan produknya melalui pemberian sampel kepada calon konsumen.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui tanggapan terhadap rasa maupun tekstur ledre khas Bojonegoro.
"Pernah ekspor ke Thailand dan Jepang juga. Awalnya kasih untuk dicoba, bagaimana tekstur dan rasa ledre Bojonegoro," ucapnya.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan Rumiyati dalam memperkenalkan makanan tradisional Bojonegoro kepada konsumen yang lebih luas.
Upaya membawa ledre ke pasar luar daerah sebenarnya telah berlangsung cukup lama. Pada 2008, makanan khas Bojonegoro ini juga pernah menarik perhatian melalui pembuatan ledre berukuran raksasa yang tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Ledre tersebut dilaporkan memiliki panjang mencapai 300 sentimeter dengan diameter sekitar 65 sentimeter.
Peristiwa itu menjadi salah satu bagian dari perjalanan promosi kuliner khas Bojonegoro yang terus berkembang hingga sekarang.
Jadi Nasabah BRI Sejak 2015, Kini Manfaatkan QRIS untuk Usaha
Dalam menjalankan aktivitas usahanya, Rumiyati juga memanfaatkan layanan perbankan BRI Bojonegoro.
Ia mengaku telah menjadi nasabah melalui rekening Simpedes sejak sekitar 2015. Rekening perbankan menjadi salah satu fasilitas yang digunakan untuk menunjang kebutuhan transaksi keuangannya.
Seiring berkembangnya usaha, kebutuhan terhadap sistem pembayaran yang praktis juga semakin meningkat, terutama ketika Ledre Sultan mengikuti kegiatan bazar atau pameran.
Rumiyati kini turut memanfaatkan pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang diurus melalui BRI Cabang Bojonegoro.
Menurutnya, pembayaran menggunakan QRIS memberikan kemudahan ketika melayani pembeli yang tidak membawa uang tunai.
"Kemarin waktu ada bazar, saya juga pakai QRIS BRI tentu sangat memudahkan jika ada pelanggan yang akan transaksi ledre saya," ujarnya.
Melalui QRIS, pembeli dapat melakukan pembayaran dengan memindai kode menggunakan aplikasi pembayaran yang mendukung standar tersebut.
Bagi pelaku usaha yang mengikuti bazar, fasilitas pembayaran nontunai dapat menjadi alternatif untuk melayani konsumen secara lebih fleksibel.
Pemanfaatan pembayaran digital tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana pelaku UMKM makanan tradisional mulai menyesuaikan diri dengan perkembangan kebiasaan transaksi masyarakat.
Menjaga Kuliner Khas Bojonegoro Tetap Diminati
Perjalanan Rumiyati mengembangkan Ledre Sultan memperlihatkan bahwa makanan tradisional masih memiliki peluang untuk tumbuh di tengah persaingan produk kuliner modern.
Dengan mempertahankan ciri khas ledre, menghadirkan variasi rasa, serta memperluas pemasaran, Rumiyati berupaya menjaga agar produk lokal tersebut tetap memiliki tempat di kalangan konsumen.
Usahanya yang melibatkan sembilan pekerja juga memperlihatkan kontribusi kegiatan UMKM terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di daerah.
Di sisi lain, penggunaan layanan BRI sejak 2015 hingga pemanfaatan QRIS dalam transaksi usaha menjadi bagian dari penyesuaian Rumiyati terhadap kebutuhan bisnis yang terus berkembang.
Pengalaman memasarkan Ledre Sultan hingga Thailand dan Jepang menjadi modal pengalaman bagi Rumiyati untuk terus memperkenalkan kuliner khas Bojonegoro kepada masyarakat yang lebih luas.
Dari Desa Purwosari, usaha Ledre Sultan menunjukkan bahwa produk makanan tradisional dapat terus berkembang melalui inovasi, pengelolaan usaha, dan kemampuan mengikuti perubahan kebutuhan pasar.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda