JurnalPost.com - Sumber sampah organik seperti sisa buah dan sayur di Desa Klampis Ngasem Kota Surabaya bersumber dari kegiatan masyarakat dan rumah makan di sekitar wilayah setempat. Sampah yang dihasilkan tergolong sampah organik dengan kualitas bagus, akan tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Jumlah yang dihasilkan pun cukup besar, yakni >25kg per hari. Melihat potensi pemanfaatan yang ada, mahasiswa Teknik Lingkungan UPN "Veteran" Jawa Timur memunculkan inovasi pengolahan sampah organik untuk mereduksi sampah menjadi produk ramah lingkungan berdaya guna dan bernilai jual.
Mahasiswa Teknik Lingkungan UPN "Veteran" Jawa Timur, Bunga Cinta Kasih (21) dan Syahrul Romadon (22), menginisiasi kegiatan pemanfaatan limbah organik yang diolah menjadi produk eco-enzyme dan kompos. Kedua produk tersebut merupakan inovasi ramah lingkungan terbarukan yang bermanfaat bagi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Kegiatan inovasi dikemas dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan mengajak warga Desa Klampis Ngasem dan dihadiri oleh pembimbing lapangan. Kegiatan diawali dengan menyediakan dua jenis tempat sampah khusus organik serta sosialisasi kepada masyarakat agar melakukan pemilahan sampah.
Sampah organik yang dikumpulkan dipilah menjadi sampah hijau dan sampah coklat. Selain sisa sayur dan buah, sampah hijau terdiri dari rumput, ampas kopi, dan teh. Sampah coklat berasal dari dedaunan kering dan ranting di pinggir jalan, sekam, serbuk gergaji, serta jerami. Untuk proses pembuatan eco-enzyme, hanya digunakan sampah sisa sayur dan buah. Sampah ditimbang, dicacah, dan dibersihkan. Dilakukan pembuatan eco-enzyme dengan menyiapkan bahan dengan komposisi molase, sampah organik, dan air mengikuti perbandingan 1:3:10. Beri label pada setiap wadahnya dan lakukan monitoring selama 90 hari.
Gambar 2. Proses Pengambilan Sampah untuk Produksi Eco Enzyme oleh Syahrul (22) dan Bunga (21).
Proses pembuatan eco-enzyme batch pertama dilakukan pada 25 Oktober 2022. Dibuat 3 wadah eco-enzyme dengan kapasitas masing-masing 10 liter. Produk eco-enzyme batch pertama ini menggunakan komposisi kulit buah-buahan dan sayuran seperti kulit buah melon, kulit buah papaya, dan sisa sayur-sayuran yang masih segar. Perbedaan jenis bahan akan menambah variasi dari produk eco-enzyme yang dibuat oleh warga Klampis Ngasem, Surabaya.
Sementara itu, dalam membuat kompos, setelah sampah disiapkan ditambahkan EM4 dan bahan-bahan lainnya. Kompos dibuat di tong sampah bekas dengan dilapisi kain majun lalu dipanen setiap 10 hari sekali. Kompos merupakan salah satu produk hasil daur ulang sampah organik yang memiliki banyak manfaat, mudah dibuat, dan mudah diaplikasikan. Kompos mampu menghemat pembuangan sampah hingga 15kg per hari.
Setelah 90 hari, eco-enzyme dapat dipanen dan digunakan sebagai multipurposes biological product. Eco-enzyme dapat menjadi pupuk organik, pembasmi hama, menyubstitusi penggunaan desinfektan, cairan pembersih lantai, hand sanitizer dan lain sebagainya. Selain itu dapat menghilangkan bau sampah dan sebagai biokatalis dalam pengolahan limbah cair. Semua fungsi yang ada tentu dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari bahkan dapat dijual kepada pihak yang membutuhkan. Oleh karena itu, produk eco-enzyme yang dibuat memiliki potensi yang sangat besar.
Warga antusias mengikuti kegiatan inovasi mulai dari persiapan hingga monitoring produk. Semua yang hadir ikut berkontribusi langsung dalam proses pembuatan serta bersedia mengaplikasikan dan menjadikan produk tersebut sebagai produk unggulan. Salah satu warga yang akrab dipanggil ibu Anis (53) menganggap adanya inovasi eco-enzyme ini mampu menjadi potensi yang besar karena belum banyak dimanfaatkan secara luas. Diharapkan dengan adanya inovasi yang diberikan, warga diharapkan mampu memahami dan mengaplikasikannya hingga menghasilkan produk yang dapat diangkat menjadi UMKM wilayah setempat.
Oleh: Syahrul, Mahasiswa UPN "Veteran" Jawa Timur
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda