JURNALPOST.COM - Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pimpinan Komisariat (PIKOM) Se-Universitas Hasanuddin dan PIKOM UMI mengelar dialog di Cafe Danau pintu 0 Unhas Jl. Perintis Kemerdekaan Makassar Jumat malam, 4 Maret 2016.
Kegiatan ini, dihadiri 50-an peserta dari berbagai PIKOM dan lembaga lain antaranya PIKOM FAI Unismuh, PIKOM Pertanian Unismuh, PIKOM Ekonomi Unismuh dan turut pula hadir Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Hadir sebagai narasumber, Pakar Hukum Tata Negara dan Dosen Fakultas Hukum Unhas, Fajlurrahman Jurdi dan Rizal Pauzi (Direktur Karaengta Institute) yang bertindak sebagai moderator.
Rizal Pauzi, sempat mengupas terkait tema yang diangkat. Dia menjelaskan, tema yang diangkat ini merupakan usaha untuk memberikan pencerahan kepada mahasiswa hari ini. "Jangan sampai isu aktivis pemeras ini direspons secara membabi buta dan langsung menghakimi okmum atau sebaliknya. Karena hanya dengan mendiskusikan isu, barulah kita bisa menemukan inti permasalahan dan bagaimana menyikapinya," ungkapnya.
Olehnya itu, dia mengharapkan diskusi seperti ini perlu rutin dilaksanakan. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Hasanuddin (UNHAS) dan Universitas Muslim Indonesia (UMI) harus menjaga tradisi nalar kritis gerakan mahasiswa yang tentunya bersandar pada spirit islam berkemajuan.
Fajlurrahman jurdi menjelaskan, mahasiswa sekarang terlalu cepat mengklaim dirinya sebagai aktivis. Baru pengurus BEM, komisariat, dan lembaga internal kampus sudah mengaku aktivis hebat. "Padahal harusnya yang bergelar aktivis itu, yang mengurus organisasi di level Kabupaten/ kota, Provinsi dan sebagainya. Karena aktivis itu harus berwawasan luas,punya skill, jejaring dan tentunya kepekaan terhadap realita sosial," jelas Fajlur.
Terkait isu "aktivis pemeras", terlepas dari apakah ada campur tangan politik atau tidak, tetap saja ini bagian dari penghianatan intelektual.
"Kalau di Jakarta, hampir semua demonstrasi itu dibayar. Bahkan aksi - aksi itu ada tarifnya. Mulai yang bakar ban, merusak fasilitas, dan sebagainya.makanya beberapa cukong - cukong demonstran Jakarta menular juga ke Makassar," ungkap Fajlur lebih lanjut.
Olehnya itu, Fajlur menekankan, mahasiswa harus rajin baca buku, diskusi, dan menulis. Ini supaya nalar kritis mahasiswa terbangun. Selain itu, kemandirian ekonomi harus dibangun. Misalnya, dengan berbisnis atau memanfaatkan skill yang dimiliki. "Yang kadang memeras hanyalah orang yang punya gengsi tinggi tapi kemampuan rendah," ungkap Fajlur.
Dalam membangun sebuah gerakan, Fajlur berpendapat, harus dimulai dengan analisis yang mendalam serta strategi yang jelas. Selain itu, gerakan mahasiswa harus jelas organisasi yang menaunginya, seperi IMM, HMI, PMII dan sebagainya. Karena gerakan yang masif adalah gerakan yang dilandasi ideologi, tutup dia.(Muh. Basri Lampe)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda