Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Laut Kaya, Nelayan Belum Sejahtera: Triple Helix untuk Mewujudkan SDGs di Wilayah Pesisir

Laut Kaya, Nelayan Belum Sejahtera: Triple Helix untuk Mewujudkan SDGs di Wilayah Pesisir

Foto profil Nadia
Editor: Nadia
04 Agustus 2026, 14.06 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Nelayan Pesisir
Keterangan foto: Ilustrasi nelayan di wilayah pesisir bersama unsur pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha sebagai gambaran kolaborasi Triple Helix dalam mendorong kesejahteraan masyarakat serta pencapaian SDGs. (Gambar: Ilustrasi AI)

Oleh: Nurani Khoerunnisa

JurnalPost.com - Indonesia kerap membanggakan diri sebagai negara maritim terbesar di dunia. Sekitar 70 persen wilayah berupa lautan dan garis pantai sepanjang lebih dari 108 ribu kilometer, Indonesia memiliki modal alam yang luar biasa. Laut menyediakan sumber pangan, lapangan kerja, hingga menopang ekonomi jutaan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir. Namun, di balik narasi besar tentang kekayaan laut tersebut, terdapat ironi yang belum juga terselesaikan. Sebagian besar nelayan Indonesia masih belum menikmati kesejahteraan yang layak.

IKLAN

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 1 (Tanpa Kemiskinan), Tujuan 2 (Tanpa Kelaparan), Tujuan 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), Tujuan 14 (Ekosistem Laut), serta Tujuan 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Kelima tujuan tersebut saling berkaitan karena keberlanjutan sumber daya laut tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada laut.

TPS3R Kencana
Baca Juga

Mengapa TPA Terus Penuh Padahal Kebijakan Sudah Berubah?

Ironisnya, kelompok yang paling mendominasi sektor perikanan justru merupakan kelompok yang paling rentan. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan bahwa armada penangkapan ikan Indonesia didominasi oleh kapal berukuran di bawah 10 Gross Ton (GT). Dokumen Rencana Strategis Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap 2025–2029 bahkan mencatat terdapat sekitar 1,14 juta armada penangkapan ikan, dan hampir 95 persen di antaranya merupakan kapal berukuran kurang dari 10 GT. Dengan kata lain, wajah perikanan Indonesia sesungguhnya adalah wajah perikanan skala kecil. Sementara itu, kajian KKP lainnya juga menyebutkan bahwa lebih dari 80 persen nelayan Indonesia merupakan nelayan skala kecil, bahkan beberapa publikasi menyebut armada perikanan skala kecil mencapai sekitar 90 persen dari total armada nasional. Besarnya proporsi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan sektor perikanan nasional sangat ditentukan oleh keberhasilan meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan nelayan skala kecil.

Paradoks ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan terletak pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada tata kelola. Kekayaan laut tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan apabila pengelolaannya belum mampu menghubungkan kepentingan seluruh aktor yang terlibat.

Sebagian besar perikanan tangkap Indonesia masih didominasi oleh small scale fisheries atau perikanan skala kecil. Nelayan mengoperasikan kapal berukuran kurang dari 5 GT hingga 10 GT dengan teknologi sederhana dan modal yang terbatas. Mereka merupakan tulang punggung produksi perikanan nasional sekaligus kelompok yang paling rentan terhadap berbagai perubahan, baik perubahan lingkungan maupun kebijakan.

Keluhan yang disampaikan nelayan hampir seragam di berbagai daerah. Daerah penangkapan ikan semakin jauh sehingga biaya operasional meningkat. Akses terhadap bahan bakar bersubsidi masih dianggap menyulitkan. Pada beberapa wilayah, fasilitas dermaga dan pelabuhan pendaratan ikan belum mampu mendukung aktivitas nelayan secara optimal. Belum lagi berbagai proses administrasi yang dinilai semakin kompleks dan menyita waktu.

Blooming Ubur-Ubur
Baca Juga

Blooming Ubur-Ubur: Tantangan Ekologi atau Peluang Industrialisasi Perikanan?

Di sisi lain, pemerintah memiliki perspektif yang berbeda. Berbagai kebijakan telah dirancang untuk meningkatkan pelayanan kepada nelayan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya ikan. Revitalisasi pelabuhan perikanan, pembangunan tempat pendaratan ikan, digitalisasi pendataan hasil tangkapan, sistem barcode untuk pembelian BBM bersubsidi, hingga berbagai regulasi pengelolaan perikanan merupakan contoh nyata komitmen pemerintah dalam membangun sektor kelautan dan perikanan.

Pertanyaannya, mengapa keluhan nelayan tetap bermunculan ketika berbagai program terus dijalankan?

Jawabannya mungkin bukan karena pemerintah tidak bekerja atau nelayan selalu menolak perubahan. Persoalan utamanya justru terletak pada adanya communication gap yang melahirkan perception gap. Pemerintah merasa telah menyediakan berbagai solusi, sementara nelayan merasa solusi tersebut belum sepenuhnya menjawab persoalan yang mereka hadapi di lapangan.

IKLAN

Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan publik tidak cukup hanya dirancang berdasarkan tujuan yang baik. Kebijakan juga harus dibangun melalui komunikasi yang intensif dengan kelompok sasaran. Ketika komunikasi tidak berjalan dengan baik, maka kebijakan yang sebenarnya dirancang untuk membantu justru dapat dipersepsikan sebagai beban baru oleh masyarakat.

Kemerdekaan
Baca Juga

Kemerdekaan Belum Usai di Ruang Kelas

Pada kondisi ini, akademisi memiliki peran strategis yang sering kali belum dimanfaatkan secara optimal. Perguruan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga menerjemahkan persoalan lapangan menjadi rekomendasi kebijakan yang berbasis bukti (evidence-based policy). Penelitian dapat menjelaskan kebutuhan riil nelayan, mengukur efektivitas program pemerintah, sekaligus mengidentifikasi akar persoalan yang sering kali tidak terlihat dalam data administratif.

Akademisi juga memiliki posisi yang relatif independen sehingga dapat menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Bahasa kebijakan dapat diterjemahkan menjadi informasi yang mudah dipahami oleh nelayan. Sebaliknya, pengalaman empiris nelayan dapat dikonversi menjadi data ilmiah yang menjadi dasar penyempurnaan kebijakan pemerintah.

Sayangnya, pemerintah, nelayan, dan akademisi, masih sering berjalan pada jalurnya masing-masing. Pemerintah sibuk menyusun regulasi, akademisi fokus melakukan penelitian, sementara nelayan berjuang menghadapi persoalan sehari-hari di laut. Ketika ruang dialog minim, maka solusi yang dihasilkan sering kali bersifat parsial.

Karena itu, sudah saatnya Indonesia menguatkan pendekatan triple helix dalam pengelolaan sumber daya pesisir yang menempatkan pemerintah, akademisi, dan masyarakat sebagai mitra yang memiliki posisi setara dalam membangun sistem pengelolaan. Pendekatan ini sekaligus menjadi implementasi nyata SDGs Tujuan 17 (Partnerships for the Goals), yang menekankan bahwa tantangan pembangunan tidak dapat diselesaikan oleh satu aktor saja, melainkan melalui kemitraan yang kuat dan saling melengkapi.

Pemerintah berperan sebagai regulator dan penyedia layanan publik. Akademisi menjadi penghasil pengetahuan, inovasi, dan evaluasi berbasis data. Nelayan tidak lagi diposisikan sekadar sebagai objek kebijakan, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki pengalaman, pengetahuan lokal, dan informasi lapangan yang sangat berharga.

Kolaborasi tersebut juga perlu diwujudkan dalam bentuk yang konkret. Forum komunikasi rutin antara pemerintah daerah, pengelola pelabuhan, organisasi nelayan, dan perguruan tinggi perlu menjadi bagian dari mekanisme penyusunan kebijakan. Sebelum sebuah regulasi diterapkan, sebaiknya dilakukan uji publik yang melibatkan nelayan secara aktif. Perguruan tinggi dapat memfasilitasi proses tersebut melalui riset, diskusi kelompok terarah, maupun pendampingan masyarakat.

Lebih jauh lagi, kolaborasi triple helix merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan sumber daya pesisir. Nelayan yang sejahtera akan lebih mampu menerapkan praktik penangkapan ikan yang bertanggung jawab. Sebaliknya, sumber daya ikan yang terjaga akan menjamin keberlangsungan mata pencaharian mereka pada masa mendatang. Inilah esensi SDGs Tujuan 14, untuk menjaga ekosistem laut melalui pemanfaatan yang berkelanjutan, tanpa mengorbankan kesejahteraan masyarakat pesisir. Kesejahteraan ekonomi dan keberlanjutan ekologi bukanlah dua tujuan yang saling bertentangan, melainkan saling menguatkan.

Sudah waktunya pemerintah lebih banyak mendengar, akademisi lebih aktif menjembatani, dan nelayan lebih dilibatkan dalam setiap proses pengambilan keputusan. Ketika ketiga unsur tersebut bergerak bersama, pengelolaan pesisir tidak hanya menghasilkan kebijakan yang lebih efektif, tetapi juga mewujudkan cita-cita besar Indonesia sebagai negara maritim yang bukan hanya kaya akan sumber daya, melainkan juga mampu menyejahterakan masyarakat yang hidup dari lautnya.

Penulis : Nurani Khoerunnisa Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/laut-kaya-nelayan-belum-sejahtera-triple-helix-untuk-mewujudkan-sdgs-di-wilayah-pesisir/96489/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 18.30 WITA

  • #Opini Dosen
  • #Universitas Padjadjaran

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Pilihan Editor

  1. 1 Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan
  2. 2

    Dari Laboratorium ke Genggaman: Menelusuri Evolusi dan Cara Kerja Water Quality Field Test Kit

  3. 3

    Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

  4. 4

    Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

  5. 5

    Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.