Oleh: Lady Ayu Sri Wijayanti, S.Pi., M.Sc.
JurnalPost.com - Fenomena blooming atau ledakan populasi ubur-ubur di sepanjang pantai selatan Jawa dan sejumlah pesisir Indonesia kerap dipandang sebelah mata. Bagi wisatawan, kehadiran ribuan biota kenyal ini dianggap sebagai “teror” yang mengancam kenyamanan berenang karena risiko sengatannya. Bagi nelayan tradisional, ubur-ubur sering dianggap sebagai hama karena dapat merusak jaring, mengganggu operasional penangkapan ikan, bahkan menjadi predator bagi larva ikan di alam.
Sampel ubur-ubur Portugis man-of-war (Physalia physalis) yang ditemukan di Pesisir Pangandaran selama fenomena blooming pada Juli 2025 menunjukkan bahwa biota ini tidak hanya menyimpan potensi bioprospeksi, tetapi juga memiliki risiko sengatan bagi sektor pariwisata. Dokumentasi memperlihatkan sampel dalam toples dan pengukuran panjang tentakel menggunakan penggaris. Sumber Foto: Lady Ayu Sri Wijayanti, S.Pi., M.Sc., PSDKU Universitas Padjadjaran, Pangandaran. Dokumentasi pribadi.
Namun, jika ditelaah lebih dalam melalui kacamata sains dan ekonomi biru, fenomena ini tidak semata-mata merupakan musibah. Blooming ubur-ubur justru dapat menjadi potensi industrialisasi yang belum tergarap secara optimal. Peneliti ahli ubur-ubur dari BRIN, Mochamad Ramdhan Firdaus, senantiasa menekankan pentingnya memahami siklus hidup dan pemanfaatan biota ini untuk mengubah ancaman menjadi berkah. Sejalan dengan hal tersebut, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran (FPIK Unpad) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah melakukan penelitian bioprospeksi ubur-ubur sebagai bahan baku industri masa depan.
Mengubah tantangan ekologi menjadi peluang ekonomi tentu tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Diperlukan peta jalan atau roadmap industrialisasi perikanan yang jelas dari pemerintah, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Nelayan tradisional perlu diedukasi dan difasilitasi dengan teknologi pascapanen yang tepat agar ubur-ubur hasil tangkapan tidak cepat rusak dan memiliki nilai tawar tinggi.
Pada akhirnya, blooming ubur-ubur di pesisir Indonesia tidak boleh lagi dipandang sebagai “teror” tahunan yang merugikan. Dengan dukungan sains, kolaborasi riset, dan keberanian melakukan hilirisasi, biota transparan ini dapat menjadi motor penggerak baru dalam struktur ekonomi biru Indonesia. Sudah saatnya Indonesia tidak hanya menjadi penonton di tengah lautan potensi yang dimilikinya sendiri.
Emas Transparan di Balik Data Nutrisi
Anggapan bahwa ubur-ubur hanyalah “gumpalan air” merupakan kekeliruan besar. Berdasarkan data laboratorium dalam riset Nurjanah dan tim peneliti dari IPB pada 2013, ubur-ubur jenis Aurelia aurita atau ubur-ubur bulan memiliki kandungan protein yang signifikan, yakni mencapai 35,63% dalam basis kering. Bahkan, penelitian terbaru dari Ira Maya Abdiani dan tim dari Universitas Borneo Tarakan pada 2022 menunjukkan bahwa pada jenis Rhizostoma pulmo, kadar proteinnya dapat meningkat hingga 46,3% dalam kondisi kering.
Tidak hanya protein, ubur-ubur juga merupakan sumber asam amino esensial. Nurjanah et al. (2013) menemukan bahwa arginin merupakan asam amino tertinggi pada ubur-ubur segar, yakni sebesar 1,72% basis kering. Kandungan ini dinilai bermanfaat untuk terapi hipertensi dan jantung koroner. Biota ini juga mengandung taurin yang berperan dalam perkembangan otak, serta vitamin B12 yang penting bagi kesehatan saraf.
Dari sisi medis, Murniyati (2009) dalam publikasinya menyatakan bahwa konsumsi ubur-ubur dipercaya dapat membantu penyembuhan arthritis dan menjaga kehalusan kulit karena kandungan kolagennya yang tinggi. Kandungan kolagen tersebut bahkan disebut lebih besar dibandingkan kolagen dari hewan darat.
Potensi Ekonomi: Devisa Miliaran dari Satu Desa
Indonesia sebenarnya telah mulai membuka gerbang peluang emas ini. Salah satu bukti keberhasilan tata kelola ubur-ubur dapat dilihat di kawasan perairan Teluk Saleh, Pulau Sumbawa. Berdasarkan riset mendalam Syafyudin Yusuf dan tim peneliti dari Universitas Hasanuddin, ubur-ubur merah (Crambione mastigophora) di wilayah tersebut telah menjadi komoditas ekspor andalan yang diminati pasar internasional, terutama Tiongkok dan Jepang.
Lompatan ekonomi dari komoditas yang kerap dianggap sebagai hama ini pun tidak main-main. Selama musim panen raya, nelayan tradisional di Teluk Saleh mampu memperoleh pendapatan bersih berkisar Rp600.000 hingga Rp1.200.000 hanya dalam satu malam penangkapan. Angka tersebut melampaui rata-rata pendapatan harian nelayan saat mencari ikan tangkap konvensional yang semakin tidak menentu akibat faktor cuaca dan penurunan stok ikan di alam.
Jika diakumulasikan secara kolektif, satu desa nelayan di pesisir Teluk Saleh mampu menyumbangkan devisa negara hingga lebih dari Rp2 miliar per bulan. Perputaran ekonomi bernilai miliaran rupiah tersebut berasal dari pemanfaatan potensi ubur-ubur secara musiman.
Dampak positifnya juga menciptakan efek domino atau multiplier effect bagi struktur sosial-ekonomi lokal. Ketika industri ubur-ubur bergerak, rantai ekonominya tidak hanya berhenti di tangan nelayan yang melaut. Lapangan kerja baru ikut tercipta di daratan, mulai dari sektor logistik, penyediaan es batu untuk pengawetan, transportasi, hingga proses penanganan pascapanen di gudang pengolahan.
Menariknya, aktivitas ini juga membuka ruang pemberdayaan bagi kelompok perempuan pesisir, khususnya istri-istri nelayan, yang terlibat aktif dalam proses pembersihan dan penggaraman ubur-ubur sebelum dikemas.
Fenomena Teluk Saleh menjadi bukti konsep empiris yang sangat berharga bagi Indonesia. Ini merupakan sinyal kuat bahwa jika fenomena blooming ubur-ubur di wilayah pesisir lain, seperti Pangandaran maupun sepanjang pantai selatan Jawa, dikelola melalui skema industrialisasi dan hilirisasi yang tepat, komoditas nonkonvensional ini memiliki kapasitas besar untuk menjadi pilar penopang ekonomi pesisir yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan.
Mendukung Agenda SDGs Global
Pemanfaatan blooming ubur-ubur secara industri merupakan salah satu langkah konkret dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui penelitian bioprospeksi kolagen yang sedang digarap bersama tim FPIK Unpad, terdapat tiga poin penting yang dapat direalisasikan.
Pertama, SDG 2 atau Tanpa Kelaparan. Ubur-ubur merupakan sumber pangan alternatif yang kaya mikromineral. Data menunjukkan bahwa kandungan iodium ubur-ubur sangat tinggi, yakni mencapai 8.291,5 ppm dalam basis kering. Kandungan ini dinilai penting untuk mencegah masalah tiroid dan stunting.
Kedua, SDG 8 atau Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Industrialisasi ubur-ubur dapat menciptakan lapangan kerja baru. Di Teluk Saleh, fenomena ini bahkan melibatkan kelompok perempuan pesisir secara aktif dalam proses pengolahan, sehingga turut meningkatkan kesejahteraan keluarga nelayan.
Ketiga, SDG 14 atau Ekosistem Laut. Penangkapan ubur-ubur yang terukur saat terjadi blooming dapat membantu mengontrol populasi predator larva ikan. Dengan demikian, keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan stok ikan nasional dapat tetap terjaga.
Tantangan ekologi berupa ledakan populasi ubur-ubur di pesisir Indonesia perlu dijawab dengan kesiapan industri perikanan nasional. Indonesia perlu bergeser dari sekadar mengekspor bahan mentah menuju pengolahan produk bernilai tambah tinggi, seperti suplemen asam amino atau bahan dasar kosmetik kolagen.
Kolaborasi antara lembaga riset seperti BRIN, institusi pendidikan seperti FPIK Unpad, dan pemerintah sangat diperlukan untuk menyusun strategi pengelolaan yang berkelanjutan. Sudah saatnya Indonesia berhenti melihat ubur-ubur hanya dari sisi sengatannya, dan mulai memanen berkah yang tersimpan di balik tubuh transparannya.
Biodata Penulis
Lady Ayu Sri Wijayanti, S.Pi., M.Sc. adalah dosen di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Padjadjaran. Saat ini, penulis aktif melakukan penelitian bioprospeksi ubur-ubur bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda