Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Komunikasi Intrapersonal yang Terabaikan: Realita yang Tersembunyi di Balik Profesi PR

Komunikasi Intrapersonal yang Terabaikan: Realita yang Tersembunyi di Balik Profesi PR

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
05 Juli 2026, 13.19 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Profesi PR

JurnalPost.com - Pernahkah kamu bertanya, bagaimana perasaan orang yang setiap hari menjaga citra perusahaan di mata publik, tapi lupa menjaga kondisi dirinya sendiri?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Tapi bagi seorang praktisi Public Relations, pertanyaan itu terasa seperti cermin yang selama ini mereka hindari. Profesi PR dikenal sebagai sosok komunikator. Mereka pintar berbicara, mahir menyusun narasi, dan mengetahui cara menjaga citra. Namun di balik itu, ada paradoks yang jarang dibicarakan: mereka yang paling ahli berkomunikasi justru paling sulit berkomunikasi dengan dirinya sendiri.

IKLAN

Bayangkan seorang praktisi di sebuah perusahaan besar. Senin pagi, ia sudah harus menyiapkan siaran pers untuk merespons isu yang tiba-tiba viral sejak dini hari. Siang hari, rapat dengan manajemen untuk membahas strategi komunikasi krisis. Sore, ia masih memantau media sosial sambil menyusun laporan. Malam hari, notifikasi masih berbunyi. Besok pagi, siklus yang sama berulang. Di tengah semua itu, tidak ada ruang untuk bertanya pada diri sendiri: "Apakah aku baik-baik saja?"

Solar Cell
Baca Juga

Digitalisasi Hidroponik Berbasis Solar Cell: Solusi Efisiensi Biaya Produksi Dan Peningkatan Pendapatan Usahatani

Yang lebih berat, ia tidak bisa menunjukkan kelelahan itu kepada siapa pun. Dalam profesi ini, ketenangan adalah bagian dari profesionalisme. Panik adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli. Maka ia terus berjalan, menyusun kalimat demi kalimat untuk publik, sementara kalimat untuk dirinya sendiri tak pernah sempat ditulis.

Kondisi ini bukan pengecualian, justru ini keseharian sebagai praktisi PR. Pekerjaan PR menuntut apa yang oleh sosiolog Arlie Hochschild disebut sebagai emotional labor, kemampuan mengelola emosi diri sendiri sebagai bagian dari tuntutan pekerjaan. Seorang praktisi PR harus tetap tenang saat krisis meledak, harus tetap ramah saat menghadapi pertanyaan yang menyudutkan dari media, dan harus tetap optimis saat pesan yang mereka sampaikan tidak diterima oleh publik.

Dalam kajian komunikasi organisasi, praktisi PR dikenal sebagai boundary spanner, mereka berdiri di antara organisasi dan publiknya. Artinya, tekanan datang dari dua arah sekaligus: dari dalam organisasi yang menuntut untuk menjaga citra, dan dari publik eksternal yang menuntut transparansi dan kejujuran. Praktisi PR menyerap tekanan dari kedua sisi itu setiap harinya, ibarat dinding yang dituntut kuat menahan beban dari arah yang berlawanan secara bersamaan.

Ironisnya, industri komunikasi sendiri jarang membuka ruang untuk membicarakan hal ini. Kesehatan mental praktisi PR bukan topik yang sering muncul dalam seminar, pelatihan, atau diskusi profesional. Yang lebih banyak dibahas adalah bagaimana mengelola krisis klien, bukan bagaimana mengelola krisis dalam diri sendiri. Padahal keduanya sama-sama nyata, dan sama-sama membutuhkan perhatian.

KBRI Sofia
Baca Juga

KBRI Sofia Undang Diaspora Indonesia, Rayakan HUT ke-81 RI, WNI Bulgaria Berkumpul di Sofia

IKLAN

Seorang PR selalu menerapkan model komunikasi dua arah. Mereka tahu cara menyampaikan pesan yang tepat kepada ribuan orang, tapi tidak tahu bagaimana cara memulai kalimat: "Aku butuh bantuan." Bukan karena mereka tidak membutuhkannya, tapi karena selama ini tidak ada ruang untuk mengatakannya, bahkan kepada diri sendiri.

Sebelum ada komunikasi antarpribadi, sebelum ada komunikasi massa, sebelum ada strategi media, ada komunikasi yang terjadi di dalam diri sendiri komunikasi intrapersonal. Proses berpikir, merenungkan perasaan, dan memahami kondisi diri adalah fondasi dari semua proses komunikasi. Ketika fondasi itu retak, semua yang dibangun di atasnya pun ikut goyah.

Praktisi PR terbiasa melakukan stakeholder mapping, mengidentifikasi siapa yang berkepentingan, apa kebutuhannya, dan bagaimana cara mendekatinya. Bagaimana jika pendekatan yang sama diterapkan ke dalam diri sendiri: siapa kamu hari ini, apa yang kamu butuhkan, dan apa yang belum sempat kamu ungkapkan?

Psikolog Sidney Jourard menyebut bahwa kesehatan mental seseorang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya untuk melakukan self-disclosure, mengungkapkan secara jujur kepada diri sendiri. Sebagai profesi yang terlatih mengontrol narasi, ini mungkin terasa asing. Namun, justru di sinilah tantangannya: mengungkapkan sesuatu yang tidak berjalan dengan baik pada diri sendiri adalah langkah yang butuh keberanian lebih besar daripada menghadapi konferensi pers mana pun.

Menaker Yassierli asasasasa
Baca Juga

Menaker Yassierli: Pekerja Kompeten Jadi Kunci Industrialisasi Indonesia

Mindset yang perlu dibangun adalah: komunikasi yang baik bukan dimulai dari pesan yang sempurna untuk publik, tapi dari kejujuran yang tulus terhadap diri sendiri. Seorang PR yang tidak mengenali kondisi dirinya, lambat laun tidak akan mampu membangun komunikasi yang autentik dengan siapa pun. Kelelahan itu nyata. Tekanan itu nyata. Dan mengakuinya bukan kelemahan, justru langkah pertama dari strategi komunikasi yang paling penting, yaitu strategi untuk menjaga diri sendiri.

Profesi PR mengajarkan bahwa kepercayaan publik dibangun dari konsistensi dan kejujuran. Sudah saatnya prinsip yang sama berlaku ke dalam: percaya pada diri sendiri, jujur tentang kondisi sendiri, dan berani memulai percakapan yang selama ini tertunda. Karena pada akhirnya, praktisi PR yang benar-benar sehat bukan hanya yang mampu menjaga reputasi organisasi, tapi juga yang cukup berani untuk menjaga dirinya sendiri.

Penulis: Nurfitrianingsih Isnawirama Mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/komunikasi-intrapersonal-yang-terabaikan-realita-yang-tersembunyi-di-balik-profesi-pr/95447/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.25 WITA

  • #Press Release
  • #Universitas Padjadjaran

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar

Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Pilihan Editor

  1. 1 Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026
  2. 2

    Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

  3. 3

    Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru

  4. 4

    Peran Pesantren dalam Melestarikan Lingkungan melalui Pembiasaan Memilah Sampah

  5. 5

    Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.