
Oleh: Ervan Hasan Harun Dosen pada Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan – Sekolah Vokasi UNG
UNG, Peternakan, dan Masa Depan Daging Sapi Gorontalo Setiap tahun, Universitas Negeri Gorontalo (UNG) rutin melaksanakan pemotongan hewan kurban sebagai bagian dari kegiatan sosial-keagamaan. Praktik ini menjadi bentuk nyata konstribusi kampus terhadap masyarakat sekaligus momen mempererat kebersamaan sivitas akademika. Namun, dibalik semangat tahunan ini, tersimpan sebuah potensi besar yang belum dimanfaatkan secara optimal: Bagaimana jika UNG tidak sekadar menjadi konsumen sapi kurban, tetapi juga menjadi produsen? Pertanyaan ini bukan sekadar wacana idealis, melainkan tawaran strategis untuk menjadikan UNG sebagai pusat inovasi peternakan sekaligus aktor pembangunan ekonomi daerah.
Mengapa UNG Perlu Memiliki Peternakan Sendiri? Pemotongan hewan kurban tahunan di UNG tentu membutuhkan pasokan sapi yang tidak sedikit. Setiap tahun, puluhan ekor sapi harus dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dalam praktiknya, sebagian besar sapi dipasok oleh peternak perorangan atau didatangkan dari luar oleh pedagang lokal. Artinya, UNG hingga saat ini masih menjadi pihak pembeli dalam rantai pasok yang sejatinya bisa berada di bawah kendali UNG sendiri.
Jika UNG memiliki peternakan sendiri atau unit penggemukan sapi, banyak keuntungan yang bisa diraih. Pertama, efisiensi biaya. Dalam jangka panjang, memiliki sumber sendiri akan mengurangi ketergantungan pada pasar luar dan fluktuasi harga sapi. Kedua, kontrol kualitas. Peternakan milik UNG memungkinkan pemantauan langsung terhadap kesehatan, pakan, dan proses penggemukan ternak sehingga sapi yang dikurbankan benar-benar sesuai syariat dan sehat. Ketiga, peluang pembelajaran. Peternakan akan menjadi ruang laboratorium hidup (alam) bagi mahasiswa, terutama dari program studi peternakan, agribisnis, pertanian, teknik industri, ekonomi, hukum, sosiologi, dan energi terbarukan.
Di sisi lain, langkah ini sejalan dengan prinsip kemandirian dan keberlanjutan. UNG tidak hanya mengkonsumsi hasil dari luar, tetapi mulai memproduksi dan mendistribusikan sendiri. Ini bukan sekadar soal sapi kurban, tapi soal menciptakan sistem produksi yang bisa berkonstribusi terhadap ketahanan pangan daerah.
Gorontalo dan Tantangan Kebutuhan Daging Jika ditarik lebih luas, kebutuhan sapi kurban di UNG hanyalah titik kecil dari persoalan yang lebih besar: ketersediaan daging sapi di Provinsi Gorontalo. Seperti diketahui, Gorontalo masih menghadapi tantangan serius dalam hal ketergantungan pasokan sapi dari luar provinsi. Permintaan meningkat setiap tahun, baik dari sektor rumah tangga, industri makanan, maupun kebutuhan sosial-keagamaan seperti Idul Adha.
Menurut data dinas Pertanian, Bidang Perkebunan dan Peternakan Provinsi Gorontalo dalam beberapa tahun terakhir, konsumsi daging masyarakat terus bertumbuh, namun tidak dibarengi dengan produksi lokal yang signifikan. Hal ini tentu membuka ruang bagi berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan seperti UNG, untuk ambil bagian dalam memperkuat rantai pasok daging dari hulu.
Fakta menarik lainnya adalah letak geografis Gorontalo yang sangat strategis. Provinsi ini berada di ujung utara pulau Sulawesi dan memiliki akses laut yang relatif dekat ke pulau Kalimantan, tepatnya ke wilayah Ibu Kota Negara (IKN) yang baru di Kalimantan Timur. Jika pemindahan IKN benar-benar terwujud dan berjalan sesuai rencana, maka Kalimantan akan mengalami lonjakan kebutuhan pangan, termasuk daging sapi.
Gorontalo sebagai Lumbung Daging untuk IKN? Mengapa Tidak? Peluang besar terbuka di depan mata. Gorontalo, dengan potensi lahan dan posisinya yang dekat ke Kalimantan, sangat mungkin menjadi salah satu penyuplai pangan utama untuk IKN. Artinya, jika dikelola dengan perencanaan matang, Gorontalo bisa mengisi celah pasar yang sangat prospektif di masa depan.
Dalam konteks ini, UNG bisa mengambil peran strategis. Kampus sebagai lembaga ilmu pengetahuan dan riset bisa menjadi penggerak awal pembangunan kawasan peternakan terpadu, terutama di wilayah yang masih belum tergarap maksimal seperti Gorontalo Utara. Daerah ini tidak hanya memiliki lahan luas, tetapi juga akses geografis langsung ke laut, yang mempermudah distribusi ke Kalimantan.
Pendirian peternakan UNG di kawasan Gorontalo Utara akan menjadi pionir model peternakan edukatif, ekonomis, dan ekologis. Di sinilah pendekatan interdisipliner dapat dimanfaatkan. Mahasiswa peternakan bisa belajar tentang sistem penggemukan, manajemen kesehatan hewan, hingga budidaya pakan. Mahasiswa dari prodi agribisnis bisa terlibat dalam pemasaran dan rantai distribusi. Sementara itu, mahasiswa dari prodi lingkungan atau energi terbarukan bisa mengembangkan biogas dari kotoran sapi sebagai sumber energi alternatif.
Dari Kotoran Sapi Hingga Laboratorium Terbuka Salah satu aspek menarik dari gagasan peternakan UNG adalah pemanfaatan limbah. Kotoran sapi bukan hanya buangan, tetapi bisa diubah menjadi sumber energi terbarukan dalam bentuk biogas. Instalasi biogas ini bisa menjadi sarana praktikum bagi mahasiswa program studi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan. Bahkan, residu dari biogas masih bisa diolah menjadi pupuk organik, menciptakan sistem pertanian terpadu yang ramah lingkungan.
Dengan pendekatan semacam ini, peternakan UNG akan menjadi laboratorium terbuka (alam). Bukan hanya bagi mahasiswa, tetapi juga bagi petani dan peternak lokal yang ingin belajar atau mengadopsi teknologi yang digunakan. Ini sejalan dengan peran universitas sebagai agent of change dan center of excelllent dalam pengembangan masyarakat. Di masa depan, peternakan ini bahkan bisa menjadi unit bisnis kampus yang berkonstribusi pada pendapatan non-akademik, terutama jika nanti UNG benar-benar menjadi PTN BH. Produk daging, pupuk organik, biogas, hingga pelatihan teknis dapat dikomersilkan dalam koridor kewirausahaan sosial. Apalagi, UNG sebagai perguruan tinggi negeri memiliki kapasitas membangun kemitraan dengan pemerintah, swasta, dan lembaga donor untuk memperkuat keberlanjutan proyek semacam ini.
Menjemput Peluang, bukan Menunggu Kesempatan Mengembangkan peternakan sendiri untuk memenuhi kebutuhan sapi kurban hanyalah langkah awal. Lebih dari itu, UNG bisa menjadi pemimpin dalam transformasi pertanian-peternakan modern di Gorontalo. Sebuah kampus tidak hanya mendidik dalam ruang kelas, tetapi juga harus hadir dalam medan nyata kehidupan masyarakat, menyediakan solusi atas pesoalan lokal dan menjembatani kebutuhan masa depan.
Pemindahan IKN, kebutuhan daging nasional, potensi lahan di Gorontalo Utara, serta keunggulan geografis provinsi ini adalah kombinasi peluang yang tidak datang dua kali. UNG memiliki kapasitas intelektual, sumber daya manusia, dan jejaring kelembagaan yang cukup untuk mewujudkan mimpi besar ini, asalkan ada keberanian untuk melangkah.
Alih-alih hanya merayakan kurban setiap tahun sebagai rutinitas ibadah, UNG bisa menjadikannya titik awal perubahan besar. Sebab di dunia akademik, setiap tindakan kecil yang konsisten, jika diarahkan dengan visi jangka panjang, akan menghasilkan lompatan besar. Dan lompatan itu bisa dimulai dari seekor sapi: yang dipelihara bukan dibeli, tapi dibesarkan sendiri dengan semangat kemandirian.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda