GORONTALO, JurnalPost.com - Dua kecamatan pesisir di Kabupaten Gorontalo, yakni Batudaa Pantai dan Biluhu, mulai mengembangkan konsep ekonomi biru berbasis energi terbarukan. Melalui riset lintas bidang yang melibatkan akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG), pengembangan Listrik Tenaga Surya kini ditawarkan sebagai solusi untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan sekaligus menjaga kelestarian laut.
Konsep ekonomi biru sendiri mengedepankan pemanfaatan sumber daya kelautan secara berkelanjutan dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistem. Di Gorontalo, gagasan ini diterapkan dengan pendekatan elektrifikasi sektor perikanan dan modernisasi teknologi tangkap.
“Laut di Teluk Tomini ini sangat potensial, tapi selama ini belum diiringi dengan infrastruktur yang memadai. Banyak nelayan kesulitan menyimpan hasil tangkapan karena tidak ada listrik untuk mesin es,” ujar Dendi Nuzli, nelayan asal Desa Luluo, Kecamatan Biluhu, Selasa (24/6/2025).
Potensi Besar, Tantangan Masih Tinggi
Teluk Tomini dikenal memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi dan hasil tangkapan bernilai ekonomi seperti tuna, cakalang, dan kakap. Namun, produktivitas nelayan di wilayah ini masih terganjal berbagai kendala.
Berdasarkan hasil diskusi kelompok terarah (FGD) tim peneliti UNG dengan kelompok nelayan, telah berhasil mengidentifikasi empat persoalan utama yang dihadapi nelayan setempat, yaitu keterbatasan listrik, rendahnya pemanfaatan teknologi, tingginya biaya operasional, serta masih maraknya praktik penangkapan yang merusak lingkungan.
Melalui skema Penelitian Fundamental Reguler yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemdiktisaintek, tim peneliti UNG yang terdiri dari Dr. Herwin Mopangga (ekonomi pembangunan), Dr. Alfi Baruadi (teknologi perikanan tangkap), dan Ervan Hasan Harun, ST., MT. (energi terbarukan), menilai potensi energi surya di kawasan pesisir ini sangat besar.
“Dengan paparan matahari sepanjang tahun, PLTS dapat menjadi solusi untuk cold storage, unit pengolahan hasil laut, bahkan pengembangan kapal bertenaga listrik,” ujar Ervan H. Harun.
Transformasi Melalui Model Terintegrasi
Riset ini bertujuan membangun model ekonomi biru yang terintegrasi, mencakup penggunaan energi surya, teknologi tangkap ramah lingkungan, sistem rantai dingin, dan penguatan kelembagaan nelayan. Dengan pendekatan partisipatif, para nelayan dilibatkan dalam forum diskusi, pelatihan teknologi, dan wawasan keberlanjutan.
“Nelayan tidak boleh hanya jadi penerima bantuan. Mereka perlu dilibatkan aktif sebagai pelaku utama perubahan,” tambah Herwin Mopangga.
Penguatan kelembagaan seperti koperasi nelayan juga dinilai penting agar bantuan tidak berhenti pada distribusi alat semata, tetapi mendorong terbentuknya ekosistem usaha yang sehat dan berdaya saing.
Dari Gorontalo untuk Pesisir Indonesia
Jika berhasil, model yang tengah dikembangkan di Batudaa Pantai dan Biluhu ini berpotensi direplikasi di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Program ini tak hanya mendukung ketahanan pangan laut dan transisi energi bersih, tetapi juga sejalan dengan komitmen pembangunan rendah karbon nasional dalam rangka menuju NZE 2060.
“Ini bukan hanya soal teknologi, tapi soal keadilan dan kemandirian nelayan. Laut harus menjadi sumber kehidupan yang layak, bukan sumber penderitaan,” kata Alfi Baruadi.
Langkah awal telah dimulai. Dengan sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat, transformasi sektor perikanan di Gorontalo bisa menjadi contoh nyata bahwa laut dan matahari bisa menjadi masa depan bersama.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda