Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Hardiknas dan Paradoks Pendidikan: Prodi Ditutup, Fondasi Ilmu Kian Rapuh

Hardiknas dan Paradoks Pendidikan: Prodi Ditutup, Fondasi Ilmu Kian Rapuh

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
02 Mei 2026, 10.09 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Paradoks Pendidikan
Ilustrasi

Penulis: Ervan Hasan Harun (Koordinator Program Studi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan, Sekolah Vokasi Universitas Negeri Gorontalo)

JurnalPost.com - Rencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk menutup program studi yang dianggap tidak relevan dengan pertumbuhan ekonomi tampak, di permukaan, sebagai langkah rasional. Negara memang perlu memastikan investasi pendidikan tinggi selaras dengan kebutuhan pembangunan. Namun, jika kebijakan ini tidak dibaca secara lebih utuh, terutama dalam konteks krisis kualitas input mahasiswa, maka ia berisiko menjadi solusi yang menyasar gejala, bukan akar masalah.

IKLAN

Kita sedang menghadapi situasi yang lebih mendasar: melemahnya fondasi akademik lulusan pendidikan menengah. Indikasinya terlihat dari anjloknya capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa kelas XII, serta realitas di kampus, banyak mahasiswa baru datang tanpa penguasaan dasar-dasar matematika, fisika, kimia, bahkan literasi sejarah dan wawasan kebangsaan. Ini bukan sekadar persoalan “minat” atau “pilihan jurusan yang tidak relevan”, melainkan problem sistemik dalam rantai pendidikan nasional.

Harga Pangan
Baca Juga

Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan: Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

Jika ditarik lebih jauh, penutupan prodi bisa menjadi kebijakan yang simplistis bila tidak disertai diagnosis yang tepat. Apakah benar sebuah program studi menjadi tidak relevan karena tidak dibutuhkan industri? Atau karena lulusannya tidak kompeten akibat lemahnya fondasi akademik sejak awal? Di sinilah letak persoalan krusial: kita berpotensi mengorbankan disiplin ilmu tertentu, padahal yang sebenarnya bermasalah adalah kualitas pembelajaran sebelum mahasiswa masuk perguruan tinggi.

Kita perlu jujur bahwa banyak program studi, terutama di bidang sains dasar dan humaniora, memang tidak selalu memiliki “link and match” jangka pendek dengan pasar kerja. Namun, disiplin-disiplin ini justru menjadi fondasi bagi inovasi jangka panjang. Negara-negara maju tidak menutup program studi fisika atau sejarah hanya karena tidak langsung menghasilkan tenaga kerja siap pakai; mereka memperkuatnya sebagai basis peradaban dan ilmu pengetahuan. Jika Indonesia mengambil jalan sebaliknya, kita berisiko terjebak dalam jebakan ekonomi berpendapatan menengah (middle-income trap), karena kekurangan kapasitas riset dan inovasi fundamental.

Lebih jauh lagi, fenomena mahasiswa baru yang lemah dalam basic science menunjukkan adanya disrupsi serius dalam ekosistem pendidikan. Perguruan tinggi dipaksa “menambal” kekurangan yang seharusnya sudah selesai di bangku sekolah. Akibatnya, kurikulum menjadi tidak efisien: dosen harus mengulang materi dasar, sementara capaian pembelajaran tingkat tinggi terabaikan. Dalam situasi seperti ini, menutup prodi bukan hanya tidak menyelesaikan masalah, tetapi juga mempersempit ruang perbaikan.

IKLAN

Yang dibutuhkan justru pendekatan yang lebih komprehensif. Pertama, reformasi pendidikan menengah harus menjadi prioritas, khususnya penguatan literasi numerasi dan sains. Tanpa ini, kualitas mahasiswa baru akan terus menurun, apa pun program studinya. Kedua, perlu ada mekanisme matrikulasi atau bridging program yang serius di perguruan tinggi, bukan sekadar formalitas. Ketiga, evaluasi prodi sebaiknya berbasis pada kualitas penyelenggaraan dan kontribusi keilmuan, bukan semata-mata pada serapan pasar kerja jangka pendek.

akademisi
Baca Juga

Nelayan Gorontalo Didorong Beralih ke Energi Surya, Wujudkan Ekonomi Biru Berkelanjutan

Selain itu, pemerintah juga perlu berhati-hati dalam mendefinisikan “relevansi”. Relevansi tidak selalu berarti keterkaitan langsung dengan industri hari ini, tetapi juga kemampuan suatu disiplin ilmu untuk membentuk cara berpikir kritis, analitis, dan adaptif, kompetensi yang justru semakin penting di era disrupsi teknologi. Ironisnya, kemampuan-kemampuan ini justru banyak dibangun melalui pendidikan dasar sains dan humaniora yang kini mulai terpinggirkan.

Dalam konteks ini, penurunan nilai TKA dan lemahnya fondasi keilmuan mahasiswa baru seharusnya menjadi alarm utama. Ia menandakan bahwa masalah kita bukan pada “terlalu banyak prodi yang tidak relevan”, tetapi pada rapuhnya struktur pengetahuan yang menopang seluruh sistem pendidikan. Menutup prodi tanpa memperbaiki fondasi ini ibarat merapikan atap rumah yang retak, sementara pondasinya terus ambles.

Pada akhirnya, kebijakan pendidikan tidak bisa didorong hanya oleh logika efisiensi ekonomi jangka pendek. Ia harus berpijak pada visi jangka panjang tentang peradaban bangsa. Jika tidak, kita berisiko melahirkan generasi yang “siap kerja” dalam arti sempit, tetapi miskin daya pikir, lemah dalam analisis, dan tidak mampu menciptakan masa depan baru. Pertanyaannya bukan sekadar: prodi mana yang harus ditutup?

Melainkan: apakah kita sedang membangun sistem pendidikan yang benar-benar menghasilkan manusia berilmu, atau sekadar tenaga kerja yang mudah tergantikan?

Mahasiswa KKN UIN Makassar Peringati  Hardiknas dengan Melaksanakan Seminar Hukum
Baca Juga

Mahasiswa KKN UIN Makassar Peringati  Hardiknas dengan Melaksanakan Seminar Hukum

Ervan Hasan Harun

Ervan Hasan Harun (Koordinator Program Studi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan, Sekolah Vokasi Universitas Negeri Gorontalo)

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/hardiknas-dan-paradoks-pendidikan-prodi-ditutup-fondasi-ilmu-kian-rapuh/92672/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 20.40 WITA

  • #Hardiknas
  • #Universitas Negeri Gorontalo

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

Pilihan Editor

  1. 1 Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang
  2. 2

    Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

  3. 3

    Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

  4. 4

    Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

  5. 5

    Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.