Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Essay
  3. Terobsesi Melihat Story Sendiri: Antara Narcissism dan Kebutuhan Akan Validasi

Terobsesi Melihat Story Sendiri: Antara Narcissism dan Kebutuhan Akan Validasi

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
12 Februari 2025, 19.20 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
3 menit baca
Anas Aulia Rahman
JurnalPost.com - Berbagi cerita dalam bentuk story di media sosial telah menjadi kebiasaan sehari-hari bagi banyak orang. Story, fitur yang memungkinkan pengguna untuk membagikan momen singkat yang hilang dalam waktu 24 jam, menjadi sarana ekspresi diri yang spontan. Namun, ada fenomena yang cukup menarik: kecenderungan untuk terus-menerus membuka kembali story yang sudah diunggah hanya untuk mengecek jumlah penonton. Fenomena ini memunculkan pertanyaan: apa sebenarnya yang kita cari dari jumlah penonton di story kita?

Mencari Validasi di Era Digital

Bagi sebagian besar pengguna media sosial, setiap story yang diunggah adalah cerminan diri. Ada kebanggaan terselubung ketika story mendapatkan perhatian banyak orang. Saat angka penonton bertambah, ada rasa puas yang sering kali diinterpretasikan sebagai validasi sosial. Semakin banyak yang melihat, semakin besar kesan bahwa diri kita dianggap penting. Namun, ketika aktivitas mengecek jumlah penonton ini dilakukan berulang kali, bahkan dalam rentang waktu singkat, kita perlu bertanya: apakah ini sekadar kebiasaan, ataukah ada kebutuhan mendalam akan pengakuan? Dalam beberapa kasus, fenomena ini bisa menunjukkan adanya rasa tidak percaya diri yang mendalam, di mana seseorang merasa perlu mendapatkan perhatian sebagai bukti eksistensi.

Mengapa Kita Terobsesi?

Obsesi ini berakar pada kombinasi antara teknologi dan psikologi. Media sosial dirancang untuk memberikan penghargaan instan. Dengan algoritma yang terus memberi notifikasi, kita didorong untuk selalu kembali, mengecek, dan berinteraksi. Di sisi lain, psikologi manusia memiliki kebutuhan bawaan untuk merasa diterima dalam kelompok sosial. Ketika seseorang melihat angka penonton bertambah, otak merilis dopamin, zat kimia yang bertanggung jawab atas perasaan senang. Ini menciptakan siklus yang sulit dihentikan: semakin sering mengecek, semakin besar dorongan untuk melakukannya lagi. Terobsesi melihat story sendiri tidak hanya membuang waktu, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Obsesi ini sering kali memicu perasaan cemas ketika angka penonton tidak sesuai harapan. Ada pula rasa kecewa jika seseorang yang kita harapkan untuk menonton justru tidak muncul di daftar. Lebih jauh, fenomena ini dapat menjauhkan kita dari esensi berbagi yang sesungguhnya. Alih-alih berbagi untuk berkomunikasi atau menginspirasi, story berubah menjadi alat untuk mencari perhatian semata. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mereduksi hubungan manusia menjadi sekadar angka dan statistik.

Mengubah Perspektif

Melihat story sendiri sesekali tentu tidak salah. Namun, jika kita merasa terjebak dalam siklus ini, ada baiknya untuk mengambil langkah mundur dan bertanya: apa yang sebenarnya kita cari? Apakah perhatian ini membawa kebahagiaan sejati, atau justru memperbesar rasa kurang percaya diri? Menyadari bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh angka penonton adalah langkah awal untuk keluar dari obsesi ini. Media sosial adalah alat, bukan tolok ukur kebahagiaan. Dengan kembali fokus pada kualitas interaksi, bukan kuantitas penonton, kita bisa mengembalikan makna berbagi ke tempat yang semestinya.

Profil Penulis

Anas Aulia Rahman adalah seorang penulis dan digital marketer. Ia pernah menulis novel berjudul Alina dan antologi puisi Sajak-Sajak Pelindungmu. Selain menulis, Anas juga bekerja di bidang pemasaran digital, khususnya untuk sektor pariwisata dan e-commerce. Kontak: 082118929705

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/terobsesi-melihat-story-sendiri-antara-narcissism-dan-kebutuhan-akan-validasi/78256/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 20.17 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

Dari Fermentasi dan Inovasi ke Modernisasi: Mengangkat Nilai Jual Tempe melalui Teknologi Modern

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Pilihan Editor

  1. 1 Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3
  2. 2

    Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

  3. 3

    Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

  4. 4

    Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

  5. 5

    UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.