Oleh: Kadek Surya Darmawan (Mahasiswa Prodi S2 Ilmu Manajemen Universitas Pendidikan Ganesha)
JurnalPost - Di era globalisasi ini, dengan melesatnya perkembangan teknologi kerap mengharuskan kita untuk dapat beradaptasi dalam mengikuti perkembangan zaman. Sering kali kita terjebak dengan lingkungan yang membuat kita meningkatkan gaya hidup di mana tidak terlepas dari kata gengsi, Tren, barang-barang brendid, merek terkenal yang bisa membuat kita dihargai di lingkungan itu. Sering pula kita tergoda tidak bisa membedakan antara yang mana keinginan dan mana kebutuhan. Apalagi di era pandemi saat ini diberlakukan aturan PPKM, sehingga Aktivitas masyarakat menjadi lebih terbatas, bahkan aktivitas berbelanja juga banyak dilakukan dari rumah, melalui belanja online.
Pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mempengaruhi kondisi perekonomian, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat. Situasi seperti ini menjadikan peluang bagi perusahaan atau bisnis online yang meningkat tajam di mana dapat mempengaruhi konsumen untuk membeli produk dengan tanpa datang dan tinggal menunggu di rumah. Konsumen tidak perlu bersusah payah dan kebingungan. Semua ada di lapak online, tinggal menekan dan mengklik barang yang kita inginkan maka akan sampai di rumah kita. Dengan pengiriman yang cepat, gratis ongkos kirim (ongkir), aman, adanya diskon dan kemasan produk yang menarik membuat pelanggan terasa nyaman dan ingin lagi membeli. Di samping itu adanya iming-iming hadiah dari penjual produk tersebut, membeli produk karna menjaga penampilan diri dan gengsi, pertimbangan harga, membeli karna model yang mengiklankan, dan mencoba lebih dari dua produk sejenis dengan merek berbeda. Hal ini tanpa kita sadari akan menjadi kebiasaan yang membuat kita berperilaku konsumtif dan dapat merugikan diri kita.
Gaya Hidup Vs Kualitas Hidup “Tinggalkan Gaya Hidup Konsumtif”
Oleh: Kadek Surya Darmawan (Mahasiswa Prodi S2 Ilmu Manajemen Universitas Pendidikan Ganesha)
JurnalPost - Di era globalisasi ini, dengan melesatnya perkembangan teknologi kerap mengharuskan kita untuk dapat beradaptasi dalam mengikuti perkembangan zaman. Sering kali kita terjebak dengan lingkungan yang membuat kita meningkatkan gaya hidup di mana tidak terlepas dari kata gengsi, Tren, barang-barang brendid, merek terkenal yang bisa membuat kita dihargai di lingkungan itu. Sering pula kita tergoda tidak bisa membedakan antara yang mana keinginan dan mana kebutuhan. Apalagi di era pandemi saat ini diberlakukan aturan PPKM, sehingga Aktivitas masyarakat menjadi lebih terbatas, bahkan aktivitas berbelanja juga banyak dilakukan dari rumah, melalui belanja online.
Pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mempengaruhi kondisi perekonomian, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat. Situasi seperti ini menjadikan peluang bagi perusahaan atau bisnis online yang meningkat tajam di mana dapat mempengaruhi konsumen untuk membeli produk dengan tanpa datang dan tinggal menunggu di rumah. Konsumen tidak perlu bersusah payah dan kebingungan. Semua ada di lapak online, tinggal menekan dan mengklik barang yang kita inginkan maka akan sampai di rumah kita. Dengan pengiriman yang cepat, gratis ongkos kirim (ongkir), aman, adanya diskon dan kemasan produk yang menarik membuat pelanggan terasa nyaman dan ingin lagi membeli. Di samping itu adanya iming-iming hadiah dari penjual produk tersebut, membeli produk karna menjaga penampilan diri dan gengsi, pertimbangan harga, membeli karna model yang mengiklankan, dan mencoba lebih dari dua produk sejenis dengan merek berbeda. Hal ini tanpa kita sadari akan menjadi kebiasaan yang membuat kita berperilaku konsumtif dan dapat merugikan diri kita.
Artikel Terkait
REKOMENDASI JURNALPOST
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda