Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Data Banyak, Bukti Sedikit: Tantangan Evidence-Based Policy di Indonesia

Data Banyak, Bukti Sedikit: Tantangan Evidence-Based Policy di Indonesia

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
26 Juni 2026, 01.09 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
7 menit baca
Data Banyak

Oleh   : Asmansyah, S.A.P., M.A.P (Dosen Kebijakan Publik, Universitas Negeri Makassar)

JurnalPost.com - Indonesia saat ini sedang mengalami sebuah anomali besar dalam tata kelola pemerintahan yang sangat penting untuk kita pahami bersama. Di satu sisi, negara kita tampak sangat modern dengan lahirnya lebih dari 27.000 aplikasi pemerintah yang tersebar di berbagai instansi pusat maupun daerah. Namun, ironisnya, kelimpahan infrastruktur digital ini tidak serta merta membuat kebijakan publik kita menjadi lebih berkualitas.

IKLAN

Data yang terekam dalam portal Satu Data Indonesia menunjukkan adanya konflik realitas yang tajam terkait ketersediaan informasi ini. Sebagai contoh, laporan Bappenas pada 2025 mengungkapkan ketimpangan dataset yang luar biasa; Jawa Timur hanya memiliki 1.517 dataset, sangat jauh tertinggal dibandingkan Jawa Tengah yang mencapai 71.825 dataset. Konflik ini membuktikan bahwa meskipun aplikasi melimpah, integrasi data untuk menjadi bukti kebijakan masih sangat rapuh.

Uji Biostimulan
Baca Juga

Dosen dan Mahasiswa Bioteknologi UNM Turun ke Sawah, Uji Biostimulan Spirulina untuk Tingkatkan Produktivitas Padi

Fenomena sosial yang muncul dari kondisi ini adalah lahirnya kebijakan publik yang sering kali bersifat reaktif dan intuitif daripada berbasis bukti empiris. Banyak program diluncurkan hanya untuk memenuhi target administratif atau sekadar merespons tekanan opini publik sesaat di media sosial. Akibatnya, kita sering melihat program pemerintah yang tumpang tindih, tidak efisien, bahkan gagal menjawab persoalan mendasar di tengah masyarakat.

Dalam studi kebijakan, Brian Head (2008) menawarkan teori "Tiga Lensa Kebijakan Berbasis Bukti" untuk membedah masalah ini. Head menjelaskan bahwa kebijakan yang efektif seharusnya merupakan hasil rekonsiliasi antara bukti riset sistematis, pertimbangan politik, dan pengalaman praktik profesional. Di Indonesia, lensa pertimbangan politik sering kali mendominasi secara absolut, sehingga bukti ilmiah dari para periset sering hanya dijadikan legitimasi formal tanpa evaluasi substansi.

Kebijakan publik kita masih terperangkap dalam budaya birokrasi yang paternalistik, di mana arahan intuitif pimpinan dianggap lebih berkuasa daripada analisis data objektif. Data sering kali dicocokkan atau dimanipulasi hanya untuk membenarkan keputusan yang sudah diambil sebelumnya demi kepentingan politik jangka pendek. Hal ini diperparah oleh "ego sektoral" di mana instansi menganggap data sebagai sumber kekuasaan yang tidak boleh dibagikan.

Fenomena "data banyak, bukti sedikit" ini menuntut kita sebagai warga negara untuk melontarkan satu pertanyaan reflektif yang tajam: Mengapa ribuan aplikasi dan triliunan anggaran teknologi informasi kita gagal menghasilkan kebijakan yang benar-benar mengubah hidup rakyat kecil secara presisi? Apakah kita saat ini sedang sungguh-sungguh membangun birokrasi berbasis data, atau jangan-jangan kita hanya sekadar melakukan digitalisasi terhadap kebiasaan-kebiasaan lama birokrasi yang sama sekali tidak ilmiah?

Media Sosial
Baca Juga

Ketika Kebijakan Dibentuk oleh Tren Media Sosial

Sebagai masyarakat umum, kita harus menyadari bahwa kebijakan publik bukan sekadar barisan angka dalam laporan pertanggungjawaban tahunan yang kaku. Kebijakan adalah instrumen suci untuk mencapai keadilan sosial yang harus berlandaskan pada realitas empiris yang jujur dan dapat dipertanggungjawabkan. Menuju visi Indonesia Emas 2045, kita memerlukan keberanian kolektif untuk menempatkan bukti ilmiah di atas ego sektoral dan kepentingan politik sesaat.

Satu Data, Seribu Ego: Antara Ambisi Digital dan Realitas Birokrasi

Apa yang sebenarnya terjadi di balik hiruk-pikuk digitalisasi pemerintahan kita hari ini? Kita memiliki lebih dari 27.000 aplikasi pemerintah, namun data yang dihasilkan justru terfragmentasi dalam silo-silo kekuasaan yang tertutup. Alih-alih menjadi "kompas" kebijakan, data sering kali hanya dianggap sebagai beban administratif atau sekadar hiasan laporan. Ambisi Satu Data Indonesia (SDI) seolah terus berbenturan dengan dinding tebal ego sektoral.

Mengapa fenomena "data banyak, bukti sedikit" ini terus menetap dalam sistem kita? Brian Head (2008) melalui teori "Tiga Lensa Kebijakan" menjelaskan bahwa kebijakan ideal lahir dari keseimbangan antara bukti riset sistematis, pertimbangan politik, dan praktik profesional. Sayangnya, di Indonesia, lensa politik sangat mendominasi. Data sering kali hanya dipanggil untuk melegitimasi keputusan yang sudah diambil secara intuitif, bukan sebagai dasar kejujuran ilmiah.

Irshan Sachrir
Baca Juga

UMKM Go Digital, Tapi Belum Naik Kelas: Saat Teknologi Belum Menjadi Strategi

Di mana letak kegagalannya jika kita membedah realitas data secara nyata? Tengoklah ketimpangan dataset pada portal SDI Bappenas (2025); Jawa Timur hanya memiliki 1.517 dataset, kontras dengan Jawa Tengah yang mencapai 71.825 dataset. Perbedaan mencolok ini membuktikan integrasi data nasional belum merata. Para analis kebijakan di daerah pun masih kesulitan menerjemahkan angka mentah menjadi rekomendasi yang memiliki daya dorong kebijakan strategis.

Bagaimana budaya birokrasi kita sebenarnya merespons tuntutan penggunaan data ini? Sering kali, data justru dipandang sebagai instrumen kekuasaan (data as power) yang dijaga ketat demi posisi tawar instansi dalam negosiasi anggaran. Belum lagi budaya "Asal Bapak Senang" (ABS) yang membuat aparatur cenderung menyaring data demi kenyamanan hierarki. Keputusan publik pun lebih banyak disandarkan pada instruksi pimpinan daripada analisis empiris.

IKLAN

Kapan kita akan benar-benar berbenah jika reformasi birokrasi kita masih terjebak pada prosedur formalistik? Menuju visi Indonesia Emas 2045, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan keberuntungan atau "insting politik" pimpinan semata. Dibutuhkan perubahan paradigma kolektif untuk menempatkan bukti riset sebagai fondasi utama. Bukti riset harus menjadi instrumen untuk menjawab persoalan masyarakat secara presisi, mulai dari kemiskinan hingga kualitas layanan dasar.

Siapa yang sebenarnya paling dirugikan dari lemahnya kebijakan berbasis bukti ini? Tentu masyarakat umum yang terpaksa mengakses layanan publik melalui berbagai pintu digital yang tidak saling terhubung. Tanpa validitas data yang kuat, program besar seperti bantuan sosial berisiko tinggi salah sasaran akibat politisasi data di tingkat lokal. Sudah saatnya kita menuntut tata kelola yang sistemik, bukan sekadar seremoni digitalisasi.

Tantangan kebijakan publik kita bukan lagi soal minimnya angka mentah, melainkan keberanian moral untuk mengubah tumpukan data menjadi bukti yang jujur dan akuntabel. Integrasi Satu Data Indonesia tidak boleh sekadar menjadi jargon teknokratis, melainkan harus menjadi komitmen politik kuat untuk meruntuhkan ego sektoral yang selama ini menyandera kepentingan publik. Menuju Indonesia Emas 2045, sinergi kolaboratif antara peneliti, birokrasi, dan partisipasi sipil adalah kunci agar kebijakan tidak lagi bersifat reaktif, melainkan presisi dan berdampak nyata. Mari kita pastikan setiap anggaran digitalisasi bermuara pada keputusan yang mengedepankan sains demi kesejahteraan umum, bukan sekadar memenuhi target administratif yang hampa.

Sumber:

Aditio, B., Finaldi, A., & Asnil. (2025). Tantangan dan Strategi Data Driven Policy di Indonesia. Jurnal Ilmu Administrasi Negara.

Bappenas. (2025). Instansi Pemerintah dalam Portal Satu Data Indonesia. [Dikutip dalam Source 5].

BRIN. (2025). BRIN Dorong Kebijakan Berbasis Bukti untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045. Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Head, B. W. (2008). Three lenses of evidence-based policy. The Australian Journal of Public Administration. [Dikutip dalam Source 8].

Iswanto, D., Miskan, & Nur Holifah. (2025). Optimalisasi Satu Data untuk Kebijakan Berbasis Bukti di Jawa Timur. Policy Brief Universitas Wijaya Putra.

Latief, B. H. (2025). Mengenal Evidence Based Policy: Paradigma Baru dalam Tata Kelola Pemerintahan. Kolom Opini Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan RI.

LPKN. (2026). Pemerintah dan Tantangan Evidence-Based Policy. Diklat LPKN.

Sekretariat Kabinet RI. (2017). Kebijakan Berbasis Penelitian. Sekretariat Kabinet Republik Indonesia.

[jurnalpost_pdf_button]

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/data-banyak-bukti-sedikit-tantangan-evidence-based-policy-di-indonesia/94922/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.58 WITA

  • #Universitas Negeri Makassar

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

Pilihan Editor

  1. 1 Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han
  2. 2

    Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

  3. 3

    Peran Teknologi Pangan dalam Menjaga Ketahanan dan Keamanan Pangan Nasional

  4. 4

    Pasar.id BRI Bojonegoro Hadirkan Peluang Penghasilan Tambahan bagi Pengemudi Ojek Lokal

  5. 5

    Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.