JURNALPOST - Kesehatan merupakan kondisi dimana kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang lengkap dan terpenuhi, bukan sekedar tentang tidak adanya penyakit ataupun kelemahan. Seseorang dalam menjalankan kehidupannya tidak hanya membutuhan kesehatan fisik saja untuk memenuhi kebutuhan fisiknya seperti makan, minum dan olahraga.
Tetapi yang tak kalah penting adalah kesehatan mental yang berguna untuk memenuhi kebutuhan kebahagiaan dan ketenangan dalam kehidupan seseorang. Kebijakan pemerintah dalam mencegah penyebaran Covid-19, salah satunya menutup sekolah sehingga mewajibkan siswa belajar dari rumah. Seperti kita ketahui bersama bahwa pada tahun ajaran baru bulan Juli 2020 sebagian besar anak-anak Indonesia masih harus menjalani kegiatan sekolah dari rumah masing-masing.
Hal ini tentu membuat siswa atau remaja pada umumnya kehilangan beberapa momen besar dan momen keseharian mereka, seperti beraktivitas dan berinteraksi dengan teman di sekolah, serta belum dapat dengan bebas mengujungi tempat-tempat yang mereka sukai seperti kolam renang, playground, atau tempat rekreasi yang menjadi salah satu hal yang menyenangkan bagi anak usia sekolah. Awalnya siswa lebih senang karena sekolah libur dan beralih ke online.
Namun belajar online semakin lama membuat perbedaan terhadap proses belajar, dan akhirnya siswa mulai jenuh. Tekanan akan berpotensi menjadi lebih kuat manakala tidak ada bimbingan atau pengawasan ketika belajar di rumah masing-masing.
Berdasarkan pengamatan saya, di tempat saya tinggal Pondok Pesantren Ar-Rohmah Jerakah Semarang, para santri yang juga sekaligus sebagai siswa tidak sedikit dari santri rindu untuk segera kembali belajar ke sekolah. Kami sebagai mahasiswa dan yang paling tua di pondok selalu mendukung pembelajaran online mereka dengan cara membimbing, memberikan arahan ataupun ikut membantu mereka dalam memahami materi yang diberikan guru.
Guru dalam pembelajaran online selalu memberikan tugas banyak bahkan bukan hanya satu guru saja tetapi semua guru mata pelajaran yang mengakibatkan tugas menumpuk dalam waktu sehari dan anak akhirnya menjadi kelelahan dan lama-lama bosan. Hal itu menyebabkan siswa tidak mau mengerjakan tugas dan pengerjaannya diselesaikan oleh orang tuanya, kakaknya atau orang lain, tentu akan menimbulkan dampak ke depannya. Dampaknya, si anak akan mengalami ketergantungan pada bantuan orang lain, kurang mandiri dalam menyelesaikan tugas, dan cenderung menjadi anak yang kurang percaya diri.
Di usia mereka, tentunya membutuhkan eksplor yang sangat luas yang nantinya akan membantu proses perkembangan berpikir mereka. Di pandemi ini anak tentunya hanya dirumah saja tidak kemana-mana, membuat anak lama-lama bosan dan bisa menganggu kesehatan mental mereka. Langkah strategis dan solusi bagi pembelajaran daring agar tidak mengganggu kesehatan mental siswa yaitu:
1. Orang tua Orang tua sebagai pendidik utama di rumah harus menjalankan fungsinya. Meskipun demikian tetap saja membutuhkan bantuan dari guru di sekolah, guru perlu hadir door to door disemua peserta didik. Ini harus membuka cakrawala dan tanggungjawab orang tua bahwa pendidikan anaknya harus dikembalikan pada effort orang tua dalam mendidikan mental, sikap dan pengetahuan anak- anaknya. Bukan hanya itu orang tua juga harus mengatur waktu anak di rumah, antara belajar, main dan yang lainnya, usahakan anak selalu senang dengan apa yang dilakukan. dan bekalilah anak dengan pengetahuan agama supaya anak memiliki jiwa kereligiusan. Gunakanlah waktu bersama-sama ini dirumah sebaik mungkin dan sebagai pendekatan kepada anak.
2. Guru Dalam langkah pembelajaran online harus seefektif mungkin. Gunakan metode yang menarik dan membuat siswa senang. Guru bukan membebani murid dalam tugas-tugas yang yang diberikan dalam belajar di rumah. Jika perlu guru hadir secara gagasan dalam door to door peserta didik. Guru bukan hanya memposisikan sebagai pentransfer ilmu, perilaku, dan mental.
3. Sekolah Sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan harus memberikan fasilitas perubahan apapun menyangkut pendidikan siswanya seperti buku paket, buku LKS dan kouta belajar. Pendidikan tingkah laku harus menjadi pijakan kuat di tengah perkembangan teknologi dan arus percepatan informasi. Program-program pendidikan yang dilakukan sekolah harus benar-benar disampaikan kepada murid, terlebih dengan media online tetap saja pihak sekolah harus benar-benar memperhatikan etika sebagai lembaga pendidikan. Penekanan belajar dirumah kepada murid harus benar-benar mendapat kawalan agar guru-guru yang mengajar melalui media garing tetap smooth dan cerdas dalam menyampaikan pelajaran-pelajaran yang wajib dipahami oleh murid.
4. Pemerintah Dalam hal ini tentunya pemerintah pendidikan dan kebudayaan membuat kurikulum baru tentang pendidikan secara online, dengan fasilitas-fasilitas yang mudah dijangkau oleh siswa dan orang tua, dan membekali para tenaga pendidik dengan keahlian dalam mengajar secara online. Serta mengadakan bimbingan konseling kepada siswa, guru dan orang tua karena dalam hal ini bukan hanya transfer ilmu saja yang diperhatikan tapi juga harus memperhatikan sikap dan psikis. (Anggi Nuryani/KKN UIN Walisongo Semarang)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda