Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Ekonomi
  3. Alasan Gen Z Indonesia Enggan Bertani Dan Solusi Untuk Mengatasinya

Alasan Gen Z Indonesia Enggan Bertani Dan Solusi Untuk Mengatasinya

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
29 Mei 2023, 17.19 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Alasan Gen Z Indonesia Enggan Bertani Dan Solusi Untuk Mengatasinya

JurnalPost.com - Indonesia merupakan negara agraris yang perekonomiannya bergantung pada sektor pertanian sejak zaman kerajaan masih eksis. Ironinya kini negara Indonesia kekurangan petani karena generasi mudanya enggan bertani dan memilih pekerjaan lain. Dengan kurangnya petani maka berkurang juga lahan yang digarap serta hasil pertanian dan mengubah ketergantungan Indonesia pada sektor pertanian ke sektor lain yang lebih menguntungkan sekarang. Bertani di Indonesia dianggap kurang memiliki peran dalam kehidupan bernegara yang padahal para petanilah yang membuat negara ini tidak mengalami krisis pangan. Generasi muda Indonesia yang lahir pada rentang tahun 1997-2012 atau sering disebut Gen Z sudah meninggalkan jejak orang tua mereka dan memilih jalannya sendiri. Dikutip dari cnbcindonesia.com Jokowi mengemukakan, umur 71% petani Indonesia saat ini berusia 45 tahun ke atas, sementara yang di bawah umur 45 tahun hanya 29%. Pemerintah pun saat ini bertekad menjadikan sektor pertanian menjadi sektor menguntungkan. Mereka berhenti bertani akibat berbagai faktor seperti perubahan zaman, gengsi, dan ekonomi. Mudahnya akses informasi juga menjadikan para generasi muda ingin menjadi diri sendiri dengan meniru influencer di internet yang mereka anggap keren daripada menjadi petani melanjutkan warisan orang tua.

Pekerjaan petani juga sering berhubungan dengan politik terutama partai yang pro dengan kalangan petani dan buruh. Yang menjadi permasalahan adalah para generasi muda fomo dengan partai politik karena maraknya oknum anggota partai politik yang korupsi Ketika sudah menjabat dan janji janjinya yang tidak ditepati atau justru merugikan petani. Ada partai politik yang ikut campur di sektor pertanian seperti mata pisau ganda yang dapat bermanfaat dan merugikan. Berikut alasan – alasan yang sering dijadikan sebagai tameng generasi muda agar tidak bertani: Pertama, Tidak Menguntungkan dan Cenderung Merugi, Dengan tanah yang sudah tidak subur akibat penggunaan pupuk kimia dan iklim yang mulai berubah menjadikan bertani di negara ini menjadi sulit. Penggunaan pupuk kimia yang terus - menerus yang dapat menghilangkan unsur hara tanah. Para petani tidak dapat berhenti dari pupuk kimia karena tanahnya yang memang sudah tidak sesubur dulu. Mahalnya pupuk juga menjadi beban pikiran bagi petani yang kadang hasil panennya kurang baik atau tidak laku dijual. Disisi lain pemerintah juga gemar melakukan import untuk menurunkan harga sebuah barang termasuk barang hasil pertanian yang membuat harga jual dari para petani terjun bebas.

IKLAN

Kedua, Munculnya Berbagai Jenis Pekerjaan Baru, Di era teknologi sekarang muncul berbagai jenis pekerjaan yang sesuai dengan kesenangan para Gen Z seperti Youtuber, Pro Gamer, Streamer, Trader, Programer, Desainer, Animator, dan lain – lain. Jenis – jenis pekerjaan ini diminati karena mudah dan cepatnya akses informasi ke para Gen Z yang menjadikan mereka terinfluence dan ingin mengikuti jejak para idola mereka atau membuat mereka menjadi idola. Tekanan ekonomi juga menjadikan para Gen Z mencari pekerjaan yang lebih menguntungkan atau mendapat penghasilan banyak dalam waktu singkat.

kedai pajak sampul 1280x720
Baca Juga

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

IKLAN

Ketiga, Lebih Minat Ke Bidang Teknologi, Ketergantungan dengan Gadget seperti Smartphone, Laptop, Komputer, Robot mendorong Gen Z memiliki minat ke bidang teknologi yang dianggap canggih , modern, dan kekinian. Mereka cenderung memilih pekerjaan yang berkaitan dengan IPTEK dan kurang atau tidak membutuhkan fisik yang kuat. Hadirnya teknologi canggih membuat hidup lebih mudah dan dapat meringankan berbagai pekerjaan. Hal ini membuat Gen Z lebih tertarik mempelajari dan mengembangkan teknologi di banding bertani di sawah. Keempat, Bertani Dianggap Kuno, Majunya teknologi Indonesia membuat bertani dipandang kuno oleh Gen Z karena sistem pertanian yang Sebagian besar masih memakai cara tradisional dan tak jarang menghubungkannya dengan dunia supranatural. Generasi sekarang lebih menyukai hal – hal otomatis yang tidak memerlukan tenaga yang banyak seperti menggunakan Robot, AI, dan lainnya. Menjadi petani juga tidak dihargai oleh teman – teman atau saudaranya.

Alasan – alasan tersebut baik internal maupun eksternal membuat Gen Z kurang berminat menjadi petani. Karena semakin canggih teknologi berkembang membuat bertani dianggap kuno dan hasil yang tidak menguntungkan. Generasi mudah keluar dari bidang pertanian karena tekanan ekonomi dan cenderung menyukai bidang teknologi karena sudah terbiasa menggunakannya sehari hari. Adanya akses internet yang menjadikan transfer informasi menjadi cepat juga membuat Gen Z mudah menemukan hal baru yang disukai, terinfluence dan menemukan idola baru. Hal ini mendorong Gen Z memilih pekerjaan yang berbau teknologi. Kehadiran partai politik juga membuat generasi muda muak yang terlalu mengeksploitasi petani bukan untuk sosialisasi tetapi untuk panjat sosial dan meraih ketenaran.

Solusi agar mereka mau bertani lagi yaitu dengan menggunakan peralatan canggih IOT, Remote Control, bahkan AI untuk mengelola sawah secara mandiri untuk mengurangi tenaga dan biaya sewa pekerja. AI disini digunakan untuk otomatisasi dalam klasifikasi suatu keadaan seperti deteksi adanya burung atau tidak adanya air dan mengambil keputusan untuk menggerakan sistem IOT jika sedang tidak dikontrol oleh manusia. Kita dapat menggunakan remote control untuk membajak sawah seperti traktor RC, menggunakan drone untuk menyemprot pestisida atau untuk melakukan penyerbukan lewat angin yang dihasilkan, dan menggunakan sistem IOT untuk mengatur ketersediaan air maupun untuk menakuti burung. Bahkan bisa memungkinkan bekerja dari rumah dengan mengontrol semua peralatan tersebut daripada menyewa pekerja yang harganya lebih mahal dan bisa berbangga diri dapat melakukan pekerjaan dari rumah.

OLEH: M. IBRAHIM HANIF, MAHASISWA PRODI. TEKNIK INFORMATIKA, POLITEKNIK HARAPAN BERSAMA TEGAL.

bayar
Baca Juga

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/alasan-gen-z-indonesia-enggan-bertani-dan-solusi-untuk-mengatasinya/50752/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 05 November 2026, 16.13 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital

Dari Sagu Menjadi SaBar, Inovasi Pangan Lokal Papua Selatan yang Mengangkat Cerita Kearifan Budaya

Kedaulatan Rupiah Tak Cukup Berhenti di QRIS

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Poltekkes Kemenkes Jakarta II Latih Kader Kesehatan Pancoran Jadi Agen Edukasi Gigi Tiruan

Kisah Mamik, Pemilik Toko Kelontong di Bojonegoro yang Jadi Agen BRILink, Bantu Warga Kirim Uang hingga Cairkan Hasil Panen

Kisah Mamik Pemilik Toko Kelontong Sekaligus Agen BRILink di Bojonegoro Bantu Warga

Mantan Kanit Lantas Polsek Sedayu, Sunaryo Resmi Dilantik Jadi Lurah Argorejo Bantul

Pilihan Editor

  1. 1 Mantan Kanit Lantas Polsek Sedayu, Sunaryo Resmi Dilantik Jadi Lurah Argorejo Bantul
  2. 2

    Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

  3. 3

    Kisah Mamik, Pemilik Toko Kelontong di Bojonegoro yang Jadi Agen BRILink, Bantu Warga Kirim Uang hingga Cairkan Hasil Panen

  4. 4

    Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  5. 5

    Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.