JurnalPost.com - Indonesia merupakan negara agraris yang perekonomiannya bergantung pada sektor pertanian sejak zaman kerajaan masih eksis. Ironinya kini negara Indonesia kekurangan petani karena generasi mudanya enggan bertani dan memilih pekerjaan lain. Dengan kurangnya petani maka berkurang juga lahan yang digarap serta hasil pertanian dan mengubah ketergantungan Indonesia pada sektor pertanian ke sektor lain yang lebih menguntungkan sekarang. Bertani di Indonesia dianggap kurang memiliki peran dalam kehidupan bernegara yang padahal para petanilah yang membuat negara ini tidak mengalami krisis pangan. Generasi muda Indonesia yang lahir pada rentang tahun 1997-2012 atau sering disebut Gen Z sudah meninggalkan jejak orang tua mereka dan memilih jalannya sendiri. Dikutip dari cnbcindonesia.com Jokowi mengemukakan, umur 71% petani Indonesia saat ini berusia 45 tahun ke atas, sementara yang di bawah umur 45 tahun hanya 29%. Pemerintah pun saat ini bertekad menjadikan sektor pertanian menjadi sektor menguntungkan. Mereka berhenti bertani akibat berbagai faktor seperti perubahan zaman, gengsi, dan ekonomi. Mudahnya akses informasi juga menjadikan para generasi muda ingin menjadi diri sendiri dengan meniru influencer di internet yang mereka anggap keren daripada menjadi petani melanjutkan warisan orang tua.
Pekerjaan petani juga sering berhubungan dengan politik terutama partai yang pro dengan kalangan petani dan buruh. Yang menjadi permasalahan adalah para generasi muda fomo dengan partai politik karena maraknya oknum anggota partai politik yang korupsi Ketika sudah menjabat dan janji janjinya yang tidak ditepati atau justru merugikan petani. Ada partai politik yang ikut campur di sektor pertanian seperti mata pisau ganda yang dapat bermanfaat dan merugikan. Berikut alasan – alasan yang sering dijadikan sebagai tameng generasi muda agar tidak bertani: Pertama, Tidak Menguntungkan dan Cenderung Merugi, Dengan tanah yang sudah tidak subur akibat penggunaan pupuk kimia dan iklim yang mulai berubah menjadikan bertani di negara ini menjadi sulit. Penggunaan pupuk kimia yang terus - menerus yang dapat menghilangkan unsur hara tanah. Para petani tidak dapat berhenti dari pupuk kimia karena tanahnya yang memang sudah tidak sesubur dulu. Mahalnya pupuk juga menjadi beban pikiran bagi petani yang kadang hasil panennya kurang baik atau tidak laku dijual. Disisi lain pemerintah juga gemar melakukan import untuk menurunkan harga sebuah barang termasuk barang hasil pertanian yang membuat harga jual dari para petani terjun bebas.
Kedua, Munculnya Berbagai Jenis Pekerjaan Baru, Di era teknologi sekarang muncul berbagai jenis pekerjaan yang sesuai dengan kesenangan para Gen Z seperti Youtuber, Pro Gamer, Streamer, Trader, Programer, Desainer, Animator, dan lain – lain. Jenis – jenis pekerjaan ini diminati karena mudah dan cepatnya akses informasi ke para Gen Z yang menjadikan mereka terinfluence dan ingin mengikuti jejak para idola mereka atau membuat mereka menjadi idola. Tekanan ekonomi juga menjadikan para Gen Z mencari pekerjaan yang lebih menguntungkan atau mendapat penghasilan banyak dalam waktu singkat.
Ketiga, Lebih Minat Ke Bidang Teknologi, Ketergantungan dengan Gadget seperti Smartphone, Laptop, Komputer, Robot mendorong Gen Z memiliki minat ke bidang teknologi yang dianggap canggih , modern, dan kekinian. Mereka cenderung memilih pekerjaan yang berkaitan dengan IPTEK dan kurang atau tidak membutuhkan fisik yang kuat. Hadirnya teknologi canggih membuat hidup lebih mudah dan dapat meringankan berbagai pekerjaan. Hal ini membuat Gen Z lebih tertarik mempelajari dan mengembangkan teknologi di banding bertani di sawah. Keempat, Bertani Dianggap Kuno, Majunya teknologi Indonesia membuat bertani dipandang kuno oleh Gen Z karena sistem pertanian yang Sebagian besar masih memakai cara tradisional dan tak jarang menghubungkannya dengan dunia supranatural. Generasi sekarang lebih menyukai hal – hal otomatis yang tidak memerlukan tenaga yang banyak seperti menggunakan Robot, AI, dan lainnya. Menjadi petani juga tidak dihargai oleh teman – teman atau saudaranya.
Alasan – alasan tersebut baik internal maupun eksternal membuat Gen Z kurang berminat menjadi petani. Karena semakin canggih teknologi berkembang membuat bertani dianggap kuno dan hasil yang tidak menguntungkan. Generasi mudah keluar dari bidang pertanian karena tekanan ekonomi dan cenderung menyukai bidang teknologi karena sudah terbiasa menggunakannya sehari hari. Adanya akses internet yang menjadikan transfer informasi menjadi cepat juga membuat Gen Z mudah menemukan hal baru yang disukai, terinfluence dan menemukan idola baru. Hal ini mendorong Gen Z memilih pekerjaan yang berbau teknologi. Kehadiran partai politik juga membuat generasi muda muak yang terlalu mengeksploitasi petani bukan untuk sosialisasi tetapi untuk panjat sosial dan meraih ketenaran.
Solusi agar mereka mau bertani lagi yaitu dengan menggunakan peralatan canggih IOT, Remote Control, bahkan AI untuk mengelola sawah secara mandiri untuk mengurangi tenaga dan biaya sewa pekerja. AI disini digunakan untuk otomatisasi dalam klasifikasi suatu keadaan seperti deteksi adanya burung atau tidak adanya air dan mengambil keputusan untuk menggerakan sistem IOT jika sedang tidak dikontrol oleh manusia. Kita dapat menggunakan remote control untuk membajak sawah seperti traktor RC, menggunakan drone untuk menyemprot pestisida atau untuk melakukan penyerbukan lewat angin yang dihasilkan, dan menggunakan sistem IOT untuk mengatur ketersediaan air maupun untuk menakuti burung. Bahkan bisa memungkinkan bekerja dari rumah dengan mengontrol semua peralatan tersebut daripada menyewa pekerja yang harganya lebih mahal dan bisa berbangga diri dapat melakukan pekerjaan dari rumah.
OLEH: M. IBRAHIM HANIF, MAHASISWA PRODI. TEKNIK INFORMATIKA, POLITEKNIK HARAPAN BERSAMA TEGAL.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda