Sidoarjo, JurnalPost.com - Telah berlangsung kegiatan learning kepada 100 siswa SMK Muhammadiyah 2 Taman-Sidoarjo dalam program Skema Pemadanan SMK Pusat Keunggulan pada 15 Juli hingga 29 Juli 2022 yang diinisiasi oleh Telkom-ITDRI (Indonesia Telecommunication & Digital Research Institute).
Kegiatan skema Pemadanan SMK merupakan salah satu pendanaan yang diberikan oleh Kemendikbud yang berkolaborasi dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Adapun tujuannya adalah untuk mendukung SMK menjadi Pusat Keunggulan dengan Teaching Factory yang aktif sehingga dapat menjadi pusat pembelajaran bagi SMK lain serta lulusannya dapat menjadi Sumber Daya Manusia yang bersaing dan terserap oleh kebutuhan industri.
Yang menarik dari kegiatan ini adalah adanya kontribusi dari peserta magang PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk yang tergabung dalam program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) Batch 2 sebagai fasilitator dan pendamping bagi para siswa dalam mengikuti proses learning untuk mengembangkan project yang akan dipamerkan secara virtual di akhir periode dalam platform metaverse milik PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Ada enam mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yakni Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, Universitas Airlangga, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Udayana, dan Universitas Lampung.
Selama proses learning, mahasiswa MSIB batch 2 berkontribusi untuk mendampingi para siswa dalam proses memahami berbagai materi yang disampaikan oleh pemateri dari PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Adapun proses transfer materi dari pemateri dilakukan secara langsung dan tidak langsung karena ada materi yang disampaikan melalui platform pembelajaran MyDigilearn, video rekaman, serta video conference. Jadi para mahasiswa akan membantu memperjelas maksud dari para pemateri agar para siswa bisa optimal dalam memahami materi yang diberikan untuk kemudian diaplikasikan dalam sebuah project.
Salah satu kegiatan yang dilalui para siswa adalah pengaplikasian metode design sprint untuk menyelesaikan permasalahan agar nantinya bisa muncul solusi yang tepat. Di saat praktik design sprint, para mahasiswa memberikan penjelasan lebih lanjut tentang setiap tahapan design sprint agar para siswa bisa optimal di setiap tahapannya dan akhirnya menghasilkan prototipe yang siap diuji untuk penyelesaian masalah.
Pembelajaran design sprint ini sendiri juga memakai model pembelajaran 70:20:10 yang diperkenalkan oleh Robert A. Eichinger pada 1980 dan sudah lama diterapkan oleh PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Dalam model ini, komposisi pembelajaran terdiri dari formula 70% pembelajaran eksperimental, 20% pembelajaran sosial, dan 10% pembelajaran formal. Pembelajaran 70% eksperimental yang dimaksud adalah para siswa diminta untuk menyelesaikan permasalahan melalui sebuah proyek agar dapat mengasah kemampuan penyelesaian sebuah masalah. Untuk 20% pembelajaran sosial didapatkan melalui orang lain melalui proses pelatihan, pendampingan, komunitas, dan platform kolaborasi. Sementara untuk 10% pembelajaran formal didapatkan layaknya pembelajaran di kelas pada umumnya yang juga menunjang praktik pembelajaran eksperimental.
Namun, tentunya tidak hanya materi mengenai design sprint saja yang diberikan melainkan ada pula materi tentang pengelolaan proyek, tur virtual 360, dan skill-skill yang dibutuhkan agar menjadi talenta digital. Keseluruhan materi ditempuh dalam kurun waktu dua minggu untuk mempersiapkan para siswa dalam menyiapkan berbagai ide proyek yang nantinya akan ditampilkan dalam pameran virtual. Program ini mendapatkan antusias tinggi dari para guru dan siswa. “Kegiatan ini sangat menunjang sekali terhadap siswa kami karena anak SMK adalah anak yang luar biasa untuk menambah penguasaan skillnya dan menuju kepada sekolah yang inovasi, dan sesuai dengan harapan pemerintah menjadi sekolah vokasi,” ungkap Ida Fitriya selaku Wakil Kepala Sekolah bagian Kehumasan SMK Muhammadiyah 2 Taman-Sidoarjo. Hal senada juga diutarakan oleh para siswa, “(program ini) merubah cara berpikir siswa, melatih mental, menambah rasa tanggung jawab siswa dalam menyelesaikan suatu project, dan melatih kerja sama siswa,” ungkap Haula, siswa kelas X jurusan Desain Komunikasi Visual.
Selepas program ini, para siswa juga sudah mempersiapkan hal-hal apa yang akan mereka lakukan, “saya bisa menciptakan suatu produk atau membuka pelayanan jasa tentang permasalahan orang itu jadi nanti kedepannya saya bisa menyelesaikan permasalahan orang itu,” ujar Ayusman, siswa kelas XI jurusan Teknik Listrik.
Sebagai program yang tentunya sangat komprehensif untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki siswa SMK, tentunya PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk amat memperhatikan keseluruhan proses kegiatan dalam skema pemadanan agar nantinya para peserta bisa memperoleh hasil yang maksimal hingga nantinya bisa berkesempatan untuk praktik industri di PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (NIN)



Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda