Oleh Muhammad Thaufan Arifuddin (Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas)
JurnalPost.com - Sepakbola Indonesia penuh dengan cerita perjuangan. Tim Nasional Indonesia pernah ditahan imbang oleh Tim Nasional Filipina di Stadion Rizal Memorial pada Selasa (21/11/2023). Lalu, di babak 16 besar Piala Asia pada Minggu (28/1/2024), Indonesia takluk oleh Australia di Stadium Jassim bin Hamad, Al Rayyan, Qatar.
Tentu, ini sangat menyedihkan bagi pecinta bola dan Timnas Indonesia di tanah air. Tetapi, bukan pertandingan seri ini yang akan saya tuliskan sebagai poin utama dalam tulisan kecil ini. Saya hendak menyoroti hal lain yang melampaui betapa patah hatinya fans sepak bola di Indonesia dan sesungguhnya harapan untuk mencapai sepak bola level dunia masih mungkin. Selalu ada jalan lain menuju Roma.
Jika Indonesia ingin mencapai level Piala Dunia dalam cabang olahraga sepak bola, sesungguhnya itu dimungkinkan jika terjadi perubahan mindset dan manajemen yang revolusioner bagi insan dan pelaku sepak bola di Indonesia, terutama PSSI. Indonesia harus mencoba menemukan sendiri resep jitu yang super modern dan karakter pelatihan dan permainannya.
Tentu, Indonesia telah mengadopsi sistem pelatihan modern dalam sepak bola dengan menyiapkan berbagai fasilitas modern dan mahal untuk meningkatkan performa pemain-pemain sepak bola di Indonesia, termasuk Timnas Indonesia. Tetapi, Indonesia harus menambahkan lagi resep yang benar-benar jitu dan karakter yang benar-benar mencerminkan kehebatan bangsa Indonesia dalam berolah raga kaki untuk memastikan bisa berkompetisi dan bahkan menginspirasi bangsa-bangsa di level dunia.
Pertama, Indonesia harus menargetkan pembinaan sedari dini dengan mencari bibit-bibit unggul calon pemain sepak bola yang potensial memiliki tinggi badan proporsional di sekitar 180 cm. Tentu, tinggi badan sangat menentukan untuk bersaing dengan pemain sepak bola dunia yang tingginya di sekitar 180 cm. Dalam Piala Dunia U-17 di Indonesia saat ini, Timnas Jerman memiliki rata-rata tinggi badan 185,3 cm, Prancis: 182,9 cm, Iran: 182,7 cm, Jepang: 178,1 cm. Sedangkan, Indonesia hanya sekitar 176,5 cm.
Tinggi badan akan sangat membantu pemain dalam menjangkau bola tinggi, meningkatkan kecepatan pemain karena jangkauan kaki lebih panjang, dan tentu saja stamina dan power pemain sepak bola lebih besar karena proporsi lebar badan dan dada cenderung lebih besar dibandingkan dengan pemain yang memiliki tinggi badan lebih pendek.
Hal ini bukan sesuatu yang bersifat rasis karena sepak bola memerlukan professionalisme yang tinggi dan stamina yang besar untuk bermain selama 90 menit. Tentu, untuk konteks Indonesia, latihan harus digenjot sejak dini dan dipastikan memilih calon pemain Timnas Indonesia yang potensi tinggi dan berat badannya selevel dengan rata-rata pemain top di level piala dunia.
Kedua, Indonesia harus mencoba mencari inspirasi dan alternatif dengan mengadopsi karakter lokal olahraga kaki andalan Indonesia yaitu sepak takraw sebagai basis utama skill penguasaan bola calon pemain handal dan Timnas Indonesia masa depan. Pelatih sepak bola dan Timnas Indonesia harus bisa berimanjinasi untuk menerapkan spirit dan skill sepak takraw ke dalam spirit dan skill calon pemain handal dan Timnas Indonesia sedari dini hingga menjadi pemain professional di level lokal, nasional dan dunia.
Anda bisa membayangkan kemampuan penguasaan bola pemain sepak takraw Indonesia yang menjadi juara dunia. Mereka sangat lihat dalam memberi umpan yang akurat, smash sepakan saltonya yang selalu keras dan terukur. Tak hanya itu, pemain sepak takraw Indonesia mempunyai skill dalam menahan bola yang sangat cepat. Jika spirit dan skill ini by training bisa ditransfer ke dalam karakter pemain sepak bola dan Timnas Indonesia yang juga memiliki tinggi badan sekitar 180 cm, maka tentu Indonesia dapat optimis untuk bersaing dengan timnas-timnas hebat dari negara mana pun di masa depan dalam 30 tahun ke depan.
Spirit dan skill Sepak Takraw harus diadopsi oleh sepak bola dan Timnas Indonesia agar bisa menjadi timnas unggulan. Jepang melakukan adopsi kultural ini melengkapi sistem training center modernnya sehingga Jepang menjadi salah satu timnas yang disegani hari ini.
Alhasil, kita perlu belajar kepada Jepang yang mampu merevolusi mindset dan manajemen pelatihan mereka dalam memajukan dunia sepak bolanya. Mereka memastikan tinggi badan pemain mereka memenuhi rata-rata tinggi badan pemain dunia. Tentu, bukan dengan rekayasa konvensional dengan mencari pemain yang tinggi, tetapi dengan memastikan gizi rakyat Jepang terpenuhi sejak dini sehingga membuat rata-rata tinggi badan generasi Jepang semakin tinggi.
Sesungguhnya spirit dan skill permainan Jepang yang cepat secara filosofis mengadopsi spirit dan skill para samurai yang mampu bergerak cepat seperti kilat ketika memegang senjata Katana. Mungkinkah kita mau belajar kepada sepak bola Jepang untuk mengejar utopia piala dunia? Hanya waktu dan PSSI yang bisa menjawabnya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda