Seperti Apa Tren Pekerjaan Setelah Pandemi?
Tren di setiap bidang pekerjaan mungkin saja tidak sama. Begitu juga jika dibandingkan kondisi antar negara di dunia. Ada banyak sekali faktor yang berpengaruh. Perusahaan Microsoft pada bulan Maret 2021 lalu merilis sebuah survei yang dilakukan di 31 negara dengan 30 ribu responden. Survei 2021 Work Trend Index: Annual Report menunjukkan beberapa hasil yang bisa kita cermati.1. WFH Berdampak pada Kesehatan Fisik dan Mental
Menurut survei dari Microsoft, 54% karyawan cenderung merasa bahwa mereka terlalu banyak pekerjaan pada saat pandemi. Aktivitas digitalnya naik secara drastis. Kebanyakan karyawan memang tidak bisa lepas dari obrolan video konferensi, khususnya untuk meeting atau seminar online. Di satu sisi memang hal ini memudahkan komunikasi secara profesional. Tapi, kelelahan pun tidak bisa dihindari. Banyaknya dokumen yang harus ditangani, chat di luar jam kerja, email masuk, banyak rapat, dan lain-lain bukan hanya memicu kelelahan fisik tapi juga risiko penyakit Bahkan, sebuah studi di China yang dipublikasikan oleh The National Center for Biotechnology Information (NCBI) pada tahun 2020 menunjukkan fenomena lain. Pada masa pandemi juga terjadi gangguan psikologis pada karyawan. Gangguan tersebut antara lain adalah depresi, insomnia, dan gangguan kecemasan.2. Sistem Kerja Fleksibel Lebih Diharapkan
Setelah pandemi, karyawan menginginkan fleksibilitas dalam bekerja. Beberapa hari tertentu bisa kerja dari kantor, tapi di waktu yang lain dari tempat tinggal masing-masing. Perusahaan pun sudah seharusnya menyediakan beragam opsi untuk bekerja. Para pimpinan perusahaan juga mempertimbangkan desain tempat kerja yang nyaman dan sehat.3. Transformasi Digital Semakin Cepat
Memang sudah sejak beberapa tahun terakhir, gagasan tentang transformasi digital begitu gencar disuarakan. Masyarakat diimbau untuk melek internet, agar bisa beradaptasi dengan kemajuan. Tapi, sejak era pandemi, kebutuhan akan penggunaan internet memang menyentuh segala bidang. Mulai dari rekrutmen karyawan, negosiasi gaji, training, sampai rapat mingguan, semua butuh skill digital. Dengan transformasi digital yang cepat, maka produktivitas pun diharapkan meningkat.4. Ada Generasi yang Butuh Bimbingan
Sejauh ini, kemajuan teknologi memang dekat dengan kehidupan generasi muda. Tapi bukan berarti pada praktiknya, semuanya jadi mudah. Ada kelompok generasi pekerja yang baru mulai berkarier seperti generasi Z yang rentan dengan sistem WFH. Generasi Z yang lahir tahun 2000-an membutuhkan komunikasi dan bimbingan khusus. Meskipun memang hal itu tidak dapat dipukul rata. Setidaknya mereka membutuhkan pelatihan secara langsung terkait hal teknis pekerjaannya. Selain membantu pemahaman pada pekerjaan, hal itu juga mendukung komunikasi dan kerjasama dengan timnya. Generasi muda memang perlu mendapat perhatian khusus, karena mereka bisa memberikan perspektif baru dan punya kontribusi penting di perusahaan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda