Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Citizen Reporter
  3. Toxic Positivity: Ucapan Semangat Yang Beracun

Toxic Positivity: Ucapan Semangat Yang Beracun

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
05 Mei 2021, 23.17 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Toxic Positivity: Ucapan Semangat Yang Beracun
JURNALPOST - Toxic Positivity merupakan perilaku seseorang yang kerap memaksakan orang lain untuk berpikir positif. Tanpa memberi empati atau kesempatan orang tersebut untuk dapat mengekspresikan perasaan negatif tentang masalah yang sedang dialami. Meskipun manfatnya membuat orang menjadi lebih optimis dan terlibat dalam pemikiran positif. Namun, hal ini sebaliknya membuat orang yang sedang mengalami masalah tersebut menjadi semakin tertekan dalam menghadapi masalahnya. Kita semua tahu bahwa mempunyai pandangan yang positif tentang kehidupan sangat bermanfaat bagi kesehatan mental. Namun, masalahnya adalah bahwa hidup kita tidak selalu positif. Kita semua pasti akan berurusan dengan emosi dan pengalaman yang menyakitkan. Emosi-emosi itu adalah hal yang penting meskipun sering tidak menyenangkan dan sulit dihadapi. Namun, hal tersebut perlu dirasakan dan ditangani secara terbuka dan jujur. Toxic Positivity mengambil cara berpikir positif yang berlebihan. Sikap ini tidak hanya menekankan pentingnya optimisme tetapi juga bisa meminimalkan dan menyangkal setiap jejak emosi manusia yang tidak bahagia atau tidak positif. Berikut beberapa contoh Toxic Positivity yang mungkin pernah anda alami dalam kehidupan sehari hari:
  • Sewaktu sesuatu yang buruk terjadi, orang-orang akan memberi tahu kepada anda untuk “Tetap berpikir positif,” kalimat seperti ini sering kali dipakai untuk bersimpati. Namun, hal itu juga dapat menjadi cara untuk menutup apapun yang mungkin ingin anda katakan mengenai apa yang sedang anda alami dan rasakan.
  • Setelah mengalami kehilangan, orang-orang memberi tahu anda bahwa “Segela yang terjadi ada hikmahnya.” Namun, orang sering membuat pernyataan tersebut karena mereka percaya bahwa perkataan tersebut bisa menghibur. Yang perlu diketahui bahwa hal itu juga merupakan cara untuk menghindar dari rasa sakit yang dialami oleh orang lain.
  • Ketika anda menyatakan kekecewaan atau kesedihan, seseorang memberi tahu kamu bahwa “Kebahagian merupakan pilihan.” Hal ini menunjukkan bahwa jika anda merasakan emosi yang negatif maka hal itu adalah pilihan dan kesalahan anda sendiri karena tidak “Memilih untuk menjaadi bahagia.”
Pernyataan seperti itu sering kali beriktikad baik karena mungkin beberapa orang tidak tahu harus berkata seperti apalagi dan tidak tahu bagaimana caranya berempati. Namun, sebenarnya hal-hal seperti ini harus dihindari karena berbahaya. dalam beberapa situasi, pernyataan seperti itu dinyatakan sebagai basa-basi yang membuat anda tidak perlu berurusan lagi dengan perasaan orang lain. buruknya, pernyataan ini akhirnya malah mempermalukan dan menyedihkan orang yang sedang mengalami masa sulit. Kenapa hal ini berbahaya? Sikap Toxic Positivity dapat membahayakan dan merugikan orang-orang yang sedang mengalami masa-masa sulit. Ketimbang mampu berbagi emosi atau perasaan yang sesungguhnya dan memperoleh dukungan tanpa syarat, orang-orang malah mendapati bahwa perasaan mereka diabaikan dan dianggap tidak penting. Yang menyebabkan hal ini berbahaya diantaranya:
  • Dianggap memalukan: Hal ini dikarenakan, ketika sesorang menderita, mereka perlu tahu bahwa emosi yang mereka rasakan adalah hal yang wajar. Yang mana seharusnya mereka dapat menemukan dukungan dan kasih sayang dari teman, keluarga, dan orang terdekat. Tetapi, sikap toxic positivity menekankan bahwa emosi yang mereka rasakan itu adalah sesuatu yang salah.
  • Menyebabkan rasa bersalah: Hal ini menyiratkan pesan bahwa jika anda tidak menemukan cara untuk merasa positif  ketika sedang mengalami tragedi, maka ini menandakan bahwa anda melakukan sesuatu yang salah.
  • Membuat orang menghindari perasaan yang sebenarnya: Sikap toxic positivity berfungsi sebagai mekanisme penghindaran. Sehingga ketika kita merasakan emosi yang sulit maka kemudian kita akan mengabaikan dan menyangkal perasaan tersebut.
  • Mencegah perubahan ke arah yang lebih baik: Hal ini membuat kita terus menghindari hal-hal yang mungkin menyakitkan. Yang mana ada kalanya hal ini sebenarnya membuat kita bisa menjadi orang yang lebih baik lagi.
Tanda-Tanda Anda Terkena Toxic Positivity
  • Tidak ingin menyelesaikan suatu masalah.
  • Merasa bersalah karena karena sedih, marah, atau kecewa.
  • Menyembunyikan perasaan yang sebenarnya dibalik kutipan-kutipan yang tampak lebih diterima secara sosial.
  • Menyembunyikan apa yang sebenarnya kamu rasakan.
  • Meminimalkan perasaan orang lain karena mereka membuat anda tidak nyaman.
  • Mempermalukan orang lain karena mereka tidak bersikap positif.
  • Memiliki kepercayaan diri yang rendah.
Cara Menghindari Toxic Positivity
  • Kendalikan emosi negatif dan jangan menyangkalnya.
  • bersikaplah jujur dengan apa yang kamu rasakan.
  • tidak masalah untuk merasakan lebih dari satu emosi.
  • berfokuslah mendengarkan orang lain yang memberikanmu dukungan.
  • pahami bagaimana perasaanmu.
Setelah mengetahui bahwa toxic positivity malah menekan banyak orang. Marilah mulai sekarang kita mencoba berempati kepada mereka dengan cara yang berbeda. Sebagai gantinya anda dapat berbicara tentang pengalaman atau perasaan yang sama. jangan mencoba untung menghakimi dan memberi saran yang tidak membuahkan hasil. Cukup dengarkan saja mereka bercerita. Jalan menuju transformasi mungkin tidak nyaman karena kehidupan tentu tidaklah mudah maka mari mulai dari sekarang mari kita ubah toxic positivity menjadi emphatic word. seperti:
  • Aku akan selalu mendengarkanmu.
  • Aku akan tetap berada di sisimu.
  • Ini pasti sangat berat.
  • Apakah sesuatu yang buruk terjadi? adakah yang bisa aku bantu?.
  • Kegagalan terkadang adalah bagian dari hidup.
Nama Penulis: Siti Yasmin Raina Mahasiswa Jurusan Psikologi Fakultas Kedookteran Universitas Syiah Kuala Referensi 2014 King, Laura. 2014. Psikologi Umum,jilid 2. Jakarta : Salemba Humanika.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/toxic-positivity-ucapan-semangat-yang-beracun/20556/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.14 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Kolaborasi Lintas Jurusan, Mahasiswa UNDIP Kembangkan Dentavera sebagai Inovasi Perawatan Mulut

KKN Universitas Merdeka Malang Bangun Greenhouse Bambu, Dorong Ketahanan Pangan Warga Pandanrejo

KKN 179 UMM Pasang Papan Jadwal Pembagian Air di Bangelan, Cegah Perebutan Antarwarga

Warga Desa Tlekung Diajak Manfaatkan Urine Sapi Jadi Pupuk Organik Cair untuk Percepat Pertumbuhan Pakan Ternak

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

Pilihan Editor

  1. 1 Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya
  2. 2

    UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

  3. 3

    Flu Sedang Naik: Kapan Cukup Istirahat di Rumah, Kapan Harus ke Dokter?

  4. 4

    Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

  5. 5

    Biaya yang Tak Masuk Inflasi

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.