SURABAYA, JurnalPost.com — Kondisi kegawatdaruratan dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Dalam situasi seperti itu, tindakan awal dari orang yang berada paling dekat dengan korban dapat menjadi bagian penting sebelum bantuan tenaga kesehatan tiba.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, dr. Dayu Satriya Wibawa, Sp.B, FINACS bersama tim Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK UNUSA) menyelenggarakan Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan Pembentukan Kader Tanggap Darurat di Kecamatan Wonocolo, Surabaya, Sabtu, 19 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kecamatan Wonocolo tersebut diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan sekaligus kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai kondisi darurat di lingkungan sekitar.
Dalam kegawatdaruratan, kecepatan mengenali kondisi korban dan memberikan respons awal yang tepat merupakan hal yang penting. Masyarakat karena itu perlu memahami tindakan dasar yang dapat dilakukan sekaligus mengetahui batas kemampuan mereka sebelum bantuan profesional tersedia.
Masyarakat Menjadi Bagian dari Rantai Pertolongan
Melalui pelatihan ini, peserta mendapatkan edukasi mengenai Bantuan Hidup Dasar, mulai dari cara mengenali situasi kegawatdaruratan, melakukan respons awal, meminta bantuan, hingga mengaktifkan sistem pelayanan kegawatdaruratan.
Peserta juga diberikan pemahaman bahwa masyarakat memiliki posisi penting dalam rantai pertolongan karena sering kali menjadi pihak pertama yang berada di lokasi ketika kejadian darurat berlangsung.
Respons yang cepat dan sesuai prosedur dapat membantu menjaga kondisi korban sembari menunggu tenaga kesehatan atau layanan kegawatdaruratan tiba.
“Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat. Yang paling penting adalah masyarakat mengetahui langkah awal yang tepat, tidak panik, segera meminta bantuan, dan memahami tindakan pertolongan yang dapat dilakukan sesuai kemampuan,” ujar dr. Dayu Satriya Wibawa, Sp.B, FINACS.
Pesan tersebut juga menegaskan bahwa pelatihan kegawatdaruratan bukan bertujuan menjadikan masyarakat sebagai pengganti tenaga medis. Masyarakat justru perlu memahami tindakan apa yang aman dilakukan serta kapan bantuan profesional harus segera dilibatkan.
Belajar RJPO melalui Praktik Langsung
Pelatihan tidak hanya berlangsung dalam bentuk penyampaian teori.
Peserta juga mendapatkan kesempatan mengikuti simulasi dan praktik langsung Resusitasi Jantung Paru Otak (RJPO) menggunakan manekin.
Dalam sesi praktik, peserta diperkenalkan dengan tahapan pertolongan mulai dari mengenali kondisi korban, memastikan respons, meminta bantuan, hingga melakukan kompresi dada sesuai dengan prosedur yang diberikan oleh instruktur.
Sebelum peserta melakukan praktik, tim pelaksana terlebih dahulu memberikan demonstrasi. Selanjutnya, peserta mencoba kembali setiap tahapan pada manekin dengan pendampingan instruktur.
Pendekatan praktik langsung tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk tidak hanya memahami materi secara teoritis, tetapi juga merasakan bagaimana tahapan pertolongan dilakukan dalam situasi simulasi.
Selama praktik berlangsung, instruktur memberikan arahan dan koreksi terhadap teknik peserta agar tindakan yang dilakukan tetap sesuai dengan prinsip dasar RJPO.

Kecepatan Respons Perlu Diiringi Tindakan yang Tepat
Dalam keadaan darurat, kepanikan menjadi salah satu tantangan yang kerap muncul. Karena itu, pelatihan BHD juga menekankan pentingnya kemampuan untuk tetap mengenali situasi dan mengambil langkah yang terarah.
Hal pertama yang perlu dilakukan bukan melakukan tindakan secara terburu-buru, melainkan memastikan keamanan lokasi, mengenali kondisi korban, memeriksa respons, dan segera menghubungi bantuan apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan pertolongan segera.
Pemahaman tersebut penting karena tidak seluruh kondisi kegawatdaruratan dapat ditangani dengan tindakan yang sama.
Kader maupun masyarakat juga perlu mengetahui batas kompetensinya. Tindakan pertolongan awal diberikan untuk membantu korban sembari menunggu tenaga profesional, bukan menggantikan pemeriksaan dan penanganan medis.
Membentuk Kader Tanggap Darurat
Selain pelatihan BHD, kegiatan tersebut diarahkan pada pembentukan kader tanggap darurat di lingkungan masyarakat.
Kader diharapkan menjadi salah satu penggerak kesiapsiagaan di wilayah masing-masing sekaligus membantu menyebarluaskan pengetahuan mengenai respons awal terhadap kegawatdaruratan.
Pembentukan kader juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan edukasi.
Pelatihan kegawatdaruratan tidak cukup apabila hanya dilakukan satu kali tanpa penyegaran keterampilan. Pengetahuan dan kemampuan praktis perlu terus dipelihara melalui edukasi serta latihan secara berkala.
Dengan adanya kader yang telah mendapatkan pemahaman dasar mengenai kegawatdaruratan, informasi tersebut diharapkan dapat menjangkau keluarga dan masyarakat yang lebih luas.
Kegiatan berlangsung secara interaktif. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga berdiskusi, mengikuti demonstrasi, serta mempraktikkan langsung sejumlah prinsip dasar pertolongan.
Pendekatan tersebut diharapkan membantu peserta memahami bahwa kesiapsiagaan bukan sekadar mengetahui teori, melainkan juga mengetahui apa yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi nyata.
Kesiapsiagaan Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Melalui kegiatan ini, dr. Dayu Satriya Wibawa, Sp.B, FINACS bersama tim berharap masyarakat Kecamatan Wonocolo semakin memahami bahwa penanganan kegawatdaruratan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.
Tenaga kesehatan tetap memiliki peran utama dalam penanganan medis. Namun, respons masyarakat pada menit-menit awal sebelum bantuan profesional tersedia juga menjadi bagian penting dalam sistem pertolongan.
Ke depan, keberadaan kader tanggap darurat diharapkan dapat diperkuat melalui edukasi dan latihan berkala sehingga keterampilan yang telah diperoleh tidak hilang setelah pelatihan berakhir.
Upaya tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera atau Good Health and Well-being.
Pelatihan BHD dan penguatan kemampuan respons kegawatdaruratan di tingkat komunitas dapat mendukung kesiapsiagaan masyarakat serta memperkuat bagian awal dari chain of survival atau rantai keselamatan, terutama ketika menghadapi kasus seperti henti jantung maupun keadaan darurat lainnya.
Pada akhirnya, kegawatdaruratan tidak selalu terjadi di rumah sakit dan tidak selalu disaksikan pertama kali oleh tenaga medis.
Karena itu, masyarakat yang mampu mengenali kondisi darurat, segera meminta bantuan, dan memberikan pertolongan awal sesuai kemampuan dapat menjadi bagian penting dari upaya menyelamatkan kehidupan.
Semakin siap masyarakat menghadapi keadaan darurat, semakin baik pula peluang korban mendapatkan pertolongan yang cepat dan terarah.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda