SURABAYA, JurnalPost.com — Mendampingi pasien menuju fasilitas pelayanan kesehatan tidak cukup hanya dengan memastikan pasien tiba di tempat tujuan. Selama perjalanan, kondisi pasien tetap perlu dipantau, setiap perubahan harus dikenali, dan informasi penting mengenai kondisi pasien harus dapat disampaikan kepada tenaga kesehatan.
Pemahaman tersebut menjadi salah satu fokus kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Penguatan Protokol Medical Escort: Integrasi Best Practice Transportasi Pasien untuk Kader Kesehatan di Kecamatan Wonocolo” yang diselenggarakan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), Sabtu, 19 September 2026.
Sebanyak 48 kader kesehatan mengikuti kegiatan yang dikemas melalui pemaparan materi, diskusi, dan edukasi praktis mengenai pendampingan pasien selama proses transportasi.
Sejak awal kegiatan, peserta diajak memahami bahwa menjadi pendamping pasien memiliki peran, tanggung jawab, sekaligus batas kewenangan yang perlu diketahui agar keselamatan pasien tetap terjaga.
Medical Escort Bukan Sekadar Mengantar Pasien
Dalam konsep medical escort, pendamping membantu pasien selama perjalanan menuju maupun dari fasilitas pelayanan kesehatan dengan tetap memperhatikan kondisi dan keselamatan pasien.
Namun, peran tersebut tidak berarti kader mengambil alih tugas tenaga kesehatan.
Kader dapat membantu memperhatikan perubahan kondisi pasien, menjaga kenyamanan dan posisi pasien selama perjalanan, menyampaikan informasi kepada petugas kesehatan, serta membantu proses koordinasi apabila diperlukan.
Sementara itu, tindakan medis yang membutuhkan kompetensi dan kewenangan profesional tetap harus dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Pemahaman mengenai batas peran tersebut penting karena kondisi pasien selama perjalanan tidak selalu dapat diprediksi. Pasien yang sebelumnya terlihat stabil dapat mengalami perubahan kondisi sehingga kader perlu memahami kapan dapat terus melakukan pendampingan dan kapan harus segera meminta bantuan tenaga kesehatan.

Sebelum Berangkat, Pastikan Kondisi Pasien
Salah satu bagian penting dalam materi yang disampaikan kepada peserta adalah persiapan sebelum pasien dibawa menuju fasilitas kesehatan.
Pendamping diperkenalkan dengan prinsip check first, yakni melakukan pemeriksaan awal terhadap hal-hal penting sebelum perjalanan dimulai.
Identitas pasien perlu dipastikan terlebih dahulu. Kondisi umum pasien juga harus diperhatikan, termasuk kesiapan dokumen atau surat rujukan apabila tersedia.
Obat-obatan dan kebutuhan khusus pasien selama perjalanan juga perlu dipastikan telah dipersiapkan. Selain itu, posisi pasien dan keamanan kendaraan tidak boleh diabaikan.
Leaflet edukasi yang dibagikan kepada peserta merangkum tahapan tersebut dalam bentuk yang lebih sederhana dan praktis.
Dengan adanya leaflet, materi yang diperoleh peserta tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi dapat kembali dibaca ketika kader harus mendampingi pasien di lingkungan masyarakat.
Selama Perjalanan, Kondisi Pasien Tetap Dipantau
Ketika kendaraan mulai bergerak, tanggung jawab pendamping belum selesai.
Kondisi pasien perlu terus diperhatikan selama perjalanan. Beberapa hal yang perlu dipantau antara lain tingkat kesadaran, kondisi pernapasan, nyeri atau rasa tidak nyaman, perdarahan, serta perubahan kondisi umum pasien.
Prinsip sederhana yang diperkenalkan kepada kader dalam kegiatan ini adalah “Pantau, Komunikasikan, dan Lindungi.”
Kader perlu memantau kondisi pasien, mengomunikasikan setiap perubahan yang ditemukan, serta melindungi pasien dari berbagai risiko selama perjalanan, termasuk risiko jatuh atau cedera.
Suasana edukasi dibuat interaktif sehingga peserta tidak hanya mendengarkan materi secara teoritis.
Peserta juga memperoleh gambaran melalui contoh situasi yang mungkin terjadi ketika pasien dibawa menuju fasilitas pelayanan kesehatan.
Kader Perlu Mengenali Tanda Bahaya
Kemampuan mengenali tanda bahaya menjadi bagian penting dalam proses pendampingan pasien.
Beberapa kondisi tidak boleh dianggap sebagai keluhan biasa, di antaranya penurunan atau kehilangan kesadaran, kesulitan bernapas berat, perdarahan dalam jumlah banyak atau tidak terkendali, kejang, serta nyeri dada hebat.
Kelemahan tubuh yang muncul secara mendadak, kesulitan berbicara, wajah tampak mencong, maupun kondisi pasien yang memburuk dengan cepat juga menjadi tanda yang perlu mendapatkan perhatian segera.
Beberapa tanda bahaya tersebut turut dicantumkan dalam leaflet sebagai panduan praktis bagi kader ketika melakukan pendampingan.
Meski demikian, kader tidak dituntut untuk mengambil alih penanganan medis.
Justru, salah satu kompetensi penting yang perlu dimiliki kader adalah memahami batas kemampuan serta mengetahui kapan harus segera meminta pertolongan tenaga kesehatan atau layanan kegawatdaruratan.

Informasi Pasien Jangan Hilang Saat Serah Terima
Pendampingan belum sepenuhnya selesai ketika pasien telah tiba di fasilitas kesehatan.
Proses serah terima informasi kepada petugas kesehatan memiliki peran penting karena dapat membantu tenaga medis memahami kondisi yang dialami pasien sebelum tiba di fasilitas pelayanan kesehatan.
Pendamping perlu mampu menjelaskan identitas pasien, keluhan yang dialami, waktu mulai munculnya perubahan kondisi, tindakan yang telah dilakukan, hingga perubahan penting yang terjadi selama perjalanan.
Informasi yang sederhana tetapi akurat dapat membantu petugas kesehatan memperoleh gambaran awal mengenai kondisi pasien.
Diskusi juga menjadi ruang bagi peserta untuk menghubungkan materi yang diperoleh dengan situasi nyata yang mungkin mereka temui saat mendampingi masyarakat.
Berbagai pertanyaan dari kader membantu memperjelas tindakan yang masih dapat dilakukan dalam kapasitas mereka dan kondisi yang membutuhkan keterlibatan tenaga kesehatan secara segera.
Kader Siap, Pasien Lebih Aman
Penguatan pemahaman mengenai medical escort menjadi salah satu langkah penting agar kader kesehatan mampu menjalankan perannya secara lebih terarah dan aman.
Kader memang tidak harus menjadi tenaga medis untuk dapat membantu menjaga keselamatan pasien.
Namun, mereka perlu memahami apa yang harus diperhatikan, informasi apa yang harus disampaikan, bagaimana menjaga keamanan pasien selama perjalanan, dan kapan pertolongan profesional harus segera diminta.
Penguatan kapasitas kader kesehatan tersebut juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera atau Good Health and Well-being.
Pemahaman mengenai medical escort dapat mendukung peningkatan respons terhadap kondisi kegawatdaruratan sebelum pasien tiba di fasilitas kesehatan, membantu mengurangi risiko perburukan kondisi selama perjalanan, sekaligus mendukung akses pelayanan kesehatan yang lebih aman dan berkualitas.
Melalui pemaparan materi, diskusi, demonstrasi, dan leaflet edukasi, peserta memperoleh bekal praktis yang dapat diterapkan ketika mendampingi pasien di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, tujuan pendampingan bukan hanya membuat pasien sampai ke fasilitas kesehatan.
Pasien perlu sampai dengan aman.
Kader siap, pasien lebih aman.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda