SURABAYA, JurnalPost.com — Upaya meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan perempuan tidak selalu harus dimulai dari rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan. Di tengah masyarakat, kader kesehatan memiliki posisi strategis untuk menyampaikan informasi, membangun kesadaran, sekaligus mendorong perempuan agar lebih peka terhadap perubahan pada tubuhnya.
Peran tersebut menjadi salah satu perhatian Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK UNUSA) melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang digelar di Kecamatan Wonocolo, Surabaya.
Bertempat di Aula Kecamatan Wonocolo, kegiatan bertajuk “Transformasi Literasi Kesehatan Melalui Pembentukan Kelompok Pendukung (Support Group) Kanker Payudara pada Kader Masyarakat” diikuti 48 kader kesehatan dari lima kelurahan, yakni Bendul Merisi, Jemur Wonosari, Margorejo, Sidosermo, dan Siwalankerto.
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00 hingga 12.00 WIB tersebut diketuai oleh dr. Aditya Bhayusakti, Sp.B, FINACS.
Para kader mendapatkan edukasi mengenai kanker payudara, tanda-tanda yang perlu diperhatikan, pentingnya mengenali kondisi normal payudara, hingga cara melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri atau SADARI.
Mengenali Perubahan Sejak Dini
Kanker payudara terjadi ketika sel pada jaringan payudara tumbuh secara tidak terkendali. Salah satu tanda yang dapat ditemukan adalah munculnya benjolan atau penebalan pada payudara.
Namun, tidak setiap benjolan berarti kanker.
Perubahan ukuran atau bentuk payudara, perubahan pada permukaan kulit, munculnya lekukan atau kerutan, puting yang tertarik ke dalam, serta keluarnya cairan yang tidak biasa dari puting juga merupakan kondisi yang perlu diperhatikan.
Kesadaran terhadap perubahan inilah yang menjadi dasar penting dalam deteksi dini.
Salah satu materi utama yang diperkenalkan kepada kader adalah SADARI. Pemeriksaan sederhana ini bertujuan membantu perempuan mengenali kondisi normal payudaranya sehingga perubahan baru dapat lebih cepat disadari.
SADARI dianjurkan dilakukan secara rutin setiap bulan. Pada perempuan yang masih mengalami menstruasi, pemeriksaan umumnya dilakukan sekitar hari ke-7 hingga ke-10 sejak hari pertama menstruasi. Sementara perempuan yang telah menopause dapat memilih tanggal yang sama setiap bulan agar pemeriksaan dilakukan secara konsisten.
SADARI Dimulai dari Melihat dan Meraba
Dalam praktiknya, SADARI dapat dimulai dengan mengamati kondisi payudara di depan cermin.
Perempuan dapat memperhatikan apakah terdapat perubahan bentuk atau ukuran payudara, perubahan warna maupun tekstur kulit, munculnya lekukan atau kerutan, hingga perubahan posisi puting.
Tahap berikutnya dilakukan dengan meraba seluruh area payudara secara sistematis untuk mengetahui apakah terdapat benjolan atau penebalan yang sebelumnya tidak dirasakan.
Area ketiak juga perlu diperhatikan.
Pemeriksaan dapat dilakukan dalam posisi berdiri maupun berbaring. Posisi berbaring dapat membantu jaringan payudara tersebar lebih merata sehingga beberapa bagian lebih mudah diraba.
Dalam kegiatan ini, peserta tidak hanya menerima penjelasan secara teoritis, tetapi juga mengikuti praktik langsung mengenai tahapan SADARI.
Pendekatan tersebut dilakukan agar kader tidak berhenti pada tahap mengetahui istilah atau konsep, tetapi benar-benar memahami langkah pemeriksaan sehingga dapat meneruskan informasi tersebut kepada perempuan di lingkungan masing-masing.
Kader Menjadi Jembatan Informasi Kesehatan
Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan mereka selama kegiatan berlangsung.
Kader aktif mengikuti materi, berdiskusi, menyampaikan pertanyaan, serta mempraktikkan langkah-langkah SADARI. Interaksi tersebut memperlihatkan bahwa edukasi kesehatan menjadi lebih bermakna ketika peserta tidak hanya menjadi pendengar, tetapi ikut terlibat dalam proses pembelajaran.
Pemilihan kader sebagai peserta juga memiliki tujuan jangka panjang.

Kader merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki kedekatan dengan keluarga dan lingkungan tempat tinggal. Mereka mengetahui karakter masyarakat di sekitarnya serta memiliki ruang komunikasi yang sering kali lebih dekat dibandingkan pendekatan formal melalui fasilitas kesehatan.
Posisi tersebut dapat menjadi kekuatan untuk memperluas literasi mengenai kesehatan payudara.
Pengetahuan yang diterima oleh satu kader dapat diteruskan kepada keluarga, tetangga, kelompok perempuan, maupun masyarakat yang lebih luas.
Menemukan Benjolan Bukan Berarti Langsung Kanker
Salah satu pesan penting yang perlu dipahami masyarakat adalah tidak langsung menyimpulkan diagnosis ketika menemukan perubahan pada payudara.
Apabila saat melakukan SADARI ditemukan benjolan, perubahan bentuk, perubahan pada kulit atau puting, maupun keluarnya cairan yang tidak biasa, langkah yang dianjurkan adalah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui penyebab perubahan tersebut.
Tenaga kesehatan dapat melakukan Pemeriksaan Payudara Klinis atau SADANIS. Jika dibutuhkan, pemeriksaan dapat dilanjutkan menggunakan metode seperti ultrasonografi (USG), mamografi, maupun pemeriksaan jaringan atau biopsi sesuai indikasi medis.
Dengan demikian, tujuan SADARI bukan membuat seseorang menentukan sendiri apakah dirinya mengalami kanker, melainkan membantu mengenali perubahan lebih awal dan mendorong pemeriksaan profesional ketika terdapat sesuatu yang tidak biasa.
Support Group untuk Memperkuat Dukungan
Selain edukasi mengenai SADARI, kegiatan ini juga diarahkan pada pembentukan support group atau kelompok pendukung kanker payudara di tingkat kader masyarakat.
FK UNUSA berupaya mendorong terbentuknya lingkungan yang tidak hanya memiliki pengetahuan mengenai kanker payudara, tetapi juga mempunyai kepedulian terhadap perempuan yang menghadapi persoalan kesehatan tersebut.
Kelompok pendukung dapat menjadi ruang untuk berbagi informasi, pengalaman, dan dukungan sekaligus mendorong masyarakat agar lebih terbuka membicarakan kesehatan payudara.
Keberadaan dukungan sosial menjadi penting karena persoalan kesehatan tidak selalu hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Kekhawatiran, rasa takut, maupun keengganan untuk menjalani pemeriksaan dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk mencari bantuan.
Kader yang memahami situasi tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan antara masyarakat dan fasilitas kesehatan.
Dari 48 Kader, Informasi Diharapkan Menjangkau Lebih Banyak Perempuan
Keberhasilan edukasi kesehatan tidak hanya diukur dari seberapa banyak materi yang dipahami peserta selama kegiatan berlangsung.
Dampak yang lebih besar justru dapat muncul ketika pengetahuan tersebut dibawa pulang, dibicarakan kembali, dan diterapkan di tengah masyarakat.
Sebanyak 48 kader yang mengikuti kegiatan di Wonocolo diharapkan menjadi titik awal penyebaran informasi mengenai kanker payudara yang lebih luas.
Ketika satu kader berbagi pengetahuan kepada keluarga dan lingkungan sekitarnya, satu kegiatan edukasi dapat menjangkau lebih banyak orang dibandingkan jumlah peserta yang hadir di ruangan.
FK UNUSA berharap pendekatan berbasis kader tersebut dapat mendorong masyarakat menjadi semakin sadar terhadap kesehatan payudara, lebih peka ketika menemukan perubahan pada tubuh, serta tidak menunda pemeriksaan ketika terdapat tanda yang perlu dikonsultasikan.
Pada saat yang sama, lingkungan masyarakat diharapkan mampu memberikan dukungan yang lebih baik kepada perempuan yang membutuhkan pemeriksaan maupun menjalani proses pengobatan.
Upaya meningkatkan literasi kesehatan masyarakat tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera atau Good Health and Well-being.
Melalui edukasi SADARI dan pembentukan support group di tingkat kader, kegiatan ini mendukung upaya pencegahan dan deteksi dini penyakit tidak menular, termasuk kanker payudara, melalui pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Pada akhirnya, pengetahuan sederhana yang diteruskan secara konsisten dapat membawa dampak yang lebih besar.
Dari kader yang memahami, diharapkan lahir masyarakat yang lebih sadar, lebih peduli, dan lebih berani mengambil langkah ketika menemukan perubahan pada kesehatan payudaranya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda