Penulis: Dela Andriyani
JurnalPost.com - Serial The Walking Dead yang sudah mengudara lebih dari sepuluh tahun bukan sekadar tontonan horor biasa. Serial yang diadaptasi dari komik milik Robert Kirkman, Tony Moore, dan Charlie Adlard ini pertama kali ditayangkan pada tahun 2010. Di balik adegan zombie yang mengerikan, serial ini menyajikan pelajaran mendalam mengenai bagaimana kekuasaan bekerja dalam masyarakat. Melalui teori-teori dari tiga pemikir besar (Antonio Gramsci, Stuart Hall, dan Michel Foucault) kita bisa memahami mengapa serial ini begitu populer dan relevan dengan kondisi kepemimpinan politik kita hari ini.
Melalui pemikiran Gramsci, kekuasaan tidak hanya soal memukul atau mengancam, tetapi juga soal membuat orang percaya bahwa sistem yang ada adalah yang terbaik. Ini yang disebut hegemoni, yang berarti dominasi yang "halus" melalui ide dan budaya, bukan hanya persoalan kekerasan fisik.
Melalui serial The Walking Dead, kita melihat bagaimana hegemoni ini bekerja dengan sangat jelas. Ambil contoh karakter Negan dan kelompok Saviors-nya. Negan tidak hanya menguasai komunitas lain dengan kekerasan, tetapi juga menciptakan sistem kepercayaan yang membuatnya diterima. Dia memposisikan dirinya sebagai "penyelamat" yang memberikan perlindungan dengan imbalan setengah dari semua hasil produksi komunitas lain. Yang menarik adalah bagaimana Negan membangun legitimasi kekuasaannya. Dia tidak hanya memukul yang melawan, tetapi juga menciptakan ritual dan simbolisme yang membuat pengikutnya percaya bahwa sistemnya adalah yang terbaik untuk bertahan hidup. Semua pengikutnya menyebut diri mereka "Negan", menunjukkan bagaimana identitas individual diserap ke dalam identitas kolektif yang dikontrol oleh pemimpin.
Sebaliknya, kelompok Rick Grimes menunjukkan bentuk hegemoni alternatif. Mereka membangun legitimasi melalui nilai-nilai seperti keadilan, perlindungan terhadap yang lemah, dan pengambilan keputusan bersama. Konflik antara kedua kelompok ini bukan hanya soal siapa yang lebih kuat secara fisik, tetapi siapa yang bisa meyakinkan orang lain bahwa cara mereka adalah yang paling benar.
Stuart Hall mengajarkan bahwa representasi dalam media sangat penting dalam membentuk identitas dan kekuasaan. Dalam serial The Walking Dead, representasi gender sangat menarik untuk dianalisis. Carol Peletier menunjukkan transformasi dari korban kekerasan domestik yang lemah menjadi survivor yang cerdas dan penuh dengan strategi, menantang stereotip tradisional tentang femininitas. Michonne sebagai karakter ”black woman” digambarkan sebagai warrior yang mandiri dan berintelektual, bukan sekadar sidekick atau korban. Namun, representasi ini juga masih terjebak dalam trope "strong black woman" yang harus selalu kuat.
Representasi kelas sosial juga berubah total dalam dunia post-apokalips. Seorang mekanik bisa menjadi lebih berharga dari lawyer, ibu rumah tangga bisa menjadi leader yang lebih efektif dari CEO. Ini menunjukkan bahwa representasi kelas sosial adalah konstruksi yang bisa berubah.
Michel Foucault mengajarkan bahwa kekuasaan tersebar dalam semua hubungan sosial melalui gagasan, cara kita berbicara dan berpikir tentang sesuatu. Melalui serial The Walking Dead, berbagai gagasan tentang kemanusiaan, moralitas, dan peradaban saling bersaing. Frase "We are the walking dead" menciptakan "kebenaran" bahwa perbedaan antara yang hidup dan mati bukan soal biologis, tetapi moral dan sosial. Serial ini menciptakan wacana bahwa bertahan hidup membutuhkan kompromi moral, tetapi ada batas-batas yang tidak boleh dilewati. Serial ini juga memproduksi berbagai model kepemimpinan: Rick's leadership berbasis perlindungan "family", Negan's authoritarian leadership berbasis fear dan control, Ezekiel's symbolic leadership berbasis hope dan performance. Setiap model menciptakan "kebenaran" berbeda tentang bagaimana masyarakat seharusnya diorganisir.
Analisis ini memiliki relevansi untuk memahami dinamika politik dan sosial di Indonesia. Konsep hegemoni Gramsci membantu kita memahami bagaimana kekuasaan politik di Indonesia tidak hanya bergantung pada force, tetapi juga kemampuan menciptakan consensus melalui budaya dan ideologi. Misalnya, debat tentang Pancasila sebagai ideologi bangsa adalah contoh bagaimana hegemoni ideologis bekerja. Berbagai kelompok politik mencoba menafsirkan Pancasila sesuai kepentingan mereka, menciptakan gagasan berbeda tentang apa artinya menjadi "Indonesia yang benar".
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda