Oleh: Audya Anindita Kusumadewi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
JurnalPost.com - Saat ini, musik berfungsi lebih dari sekadar hiburan. Musik bisa menjadi senjata, pernyataan sikap budaya, atau bahkan ajakan untuk mempertimbangkan kembali identitas kita dan posisi kita di tengah hiruk-pikuk otoritas dan kekuasaan. Inilah yang secara efektif disampaikan oleh video musik "Peradaban" dari band indie rock asal Jakarta, .Feast. Lagu yang dirilis pada 13 Juli 2018 ini, lebih dari sekadar karya musik ketika dianalisis melalui perspektif Cultural Studies, lagu ini menjadi seruan untuk memahami bagaimana praktik budaya tersebut merepresentasikan, mempertahankan, atau bahkan menentang ideologi serta sistem kekuasaan yang ada, khususnya di Indonesia.
“Peradaban” adalah komposisi musik yang kuat, emosional, dan intens yang terinspirasi dari tragedi pengeboman di Surabaya pada tahun 2018. Namun, daya tarik lagu ini tidak hanya terletak pada musiknya saja. Video musiknya, yang dijuluki sebagai "video manifesto", menampilkan kompilasi visual yang kuat, seperti tempat ibadah yang terbakar, kerumunan yang menghakimi, dan simbol-simbol kekerasan yang telah membekas dalam ingatan budaya masyarakat Indonesia. Menonton ini terasa tidak nyaman, tapi memang itulah tujuannya. Video ini menantang kita untuk menghadapi kebenaran secara langsung, tanpa menutup-nutupi atau menyensorinya.
Dominasi beberapa ide yang berupaya memaksakan satu cara berpikir atas nama moralitas, agama, atau bahkan nasionalisme adalah hal yang disimbolkan oleh video musik “Peradaban” dari sudut pandang Cultural Studies. Melalui lirik dan visualnya, .Feast menyampaikan bahwa kekerasan dan ideologi sempit tidak akan mampu mengalahkan kebudayaan dan peradaban Indonesia yang terlalu besar dan beragam. “Lagu ini adalah bentuk perlawanan terhadap ideologi radikal,” ujar Baskara Putra, vokalis band tersebut. Hal ini menunjukkan bagaimana musik dapat berfungsi sebagai alat perlawanan dan sebuah ruang tandingan untuk menggugat narasi dominan dalam ranah publik. Tanpa rasa takut, lantang, dan tegas, “Peradaban” hadir sebagai alternatif di tengah kondisi yang ada saat ini.
Yang benar-benar menonjol dari video musik “Peradaban” ini adalah cara penyajiannya. .Feast menciptakan makna baru melalui penggunaan arsip visual. Mereka tidak mengarang cerita, justru yang ditampilkan adalah realitas yang murni dan tidak tersaring, yaitu sesuatu yang sering dihindari oleh media. Alih-alih menakut-nakuti, cuplikan kekerasan, intoleransi, dan penghakiman massa dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran bahwa inilah kondisi budaya kita saat ini, dan kita harus melawannya. Hal ini kemudian menjadi taktik penting dalam budaya populer, di mana menggunakan media untuk membongkar narasi yang dominan dan menghasilkan wacana tandingan. Video musik “Peradaban” pun berubah menjadi forum di mana penonton mempertanyakan, menganalisis, dan menafsirkan ulang suatu makna.
Representasi dalam video musik “Peradaban” ini adalah suatu elemen penting juga. Dalam beberapa detik visual, kita bisa melihat bagaimana identitas Indonesia digambarkan dengan beragam namun rentan terhadap konflik. Ini menyampaikan pesan yang kuat tentang politik identitas, di mana perbedaan budaya, agama, dan etnis seharusnya menjadi dasar untuk membangun persatuan, bukan penyebab perpecahan. Melalui karya ini, .Feast menunjukkan bahwa musik bisa menjadi media emansipatoris yang membebaskan, memberi suara, dan membuka ruang dialog. Mereka tidak sekadar menulis lagu, tetapi mereka juga memulai diskusi tentang dinamika kekuasaan, ketidakberdayaan struktural, dan bagaimana kita bisa mendorong adanya perubahan.
Menurut Antonio Gramsci (1971) hegemoni adalah suatu proses dominasi yang digunakan oleh kelas penguasa untuk membangun pembenaran dan kesepakatan bersama guna mempertahankan kekuasaan. Dalam konteks video musik "Peradaban", .Feast menunjukkan sikap penolakan terhadap kekuatan hegemonik yang berupaya menghapus budaya dan peradaban Indonesia. Pesan yang disampaikan lagu ini menegaskan bahwa kebudayaan dan peradaban memiliki kekuatan yang tidak mudah dihancurkan oleh konflik maupun kekerasan. Oleh karena itu, .Feast menentang kewenangan yang mempertahankan kekuasaannya melalui cara-cara intimidatif dan kekerasan.
Video musik "Peradaban" dari .Feast merefleksikan, mempertahankan, sekaligus menentang struktur kekuasaan dan ideologi yang ada. .Feast melakukan perlawanan terhadap kekuatan hegemonik yang mengancam kelestarian budaya dan tradisi Indonesia. Dengan demikian, kita dapat memahami bagaimana praktik budaya ini berpengaruh terhadap identitas dan representasi masyarakat Indonesia. Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya populer memiliki peran dalam membentuk identitas dan cara pandang publik secara luas dalam dunia yang kian bising oleh narasi tunggal dan polarisasi identitas. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami bagaimana industri media mempengaruhi masyarakat Indonesia, serta bagaimana pemahaman ini dapat dimanfaatkan untuk menciptakan perubahan sosial yang lebih positif.
Pada saat yang sama, .Feast membela nilai-nilai peradaban dan budaya Indonesia yang beragam dengan menunjukkan bahwa kekuatan hegemonik tidak dapat melemahkan kekuatan budaya lokal. Hal ini sejalan dengan teori Gramsci (1971) yang menyatakan bahwa hegemoni adalah bentuk dominasi yang diperoleh tidak hanya melalui kekuatan koersif, tetapi juga melalui persetujuan sosial dan kultural yang tampak “alami.” Dalam konteks ini, .Feast tidak menerima tatanan dominan tersebut, melainkan secara agresif menghadapinya melalui produksi budaya populer, yaitu lagu.
Sebagai refleksi kritis, kita dapat mengamati bahwa budaya populer dan media dapat berfungsi sebagai arena konflik dalam dunia yang semakin didominasi oleh kekuatan ideologi. Selain menjadi karya seni, “Peradaban” merupakan taktik perlawanan simbolik yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi opini publik dan memperluas cakupan demokrasi budaya. Dalam konteks ini, mendorong lebih banyak seniman, produsen konten, dan organisasi budaya untuk menciptakan karya-karya kritis yang mampu mempengaruhi opini publik, serta meningkatkan literasi media, dapat membantu masyarakat menjadi lebih peka dalam memahami ideologi dan narasi di balik produk budaya.
Sebagai teori atau pendekatan alternatif, Stuart Hall (1997) melalui teori representasinya menyampaikan bahwa, makna tidak muncul begitu saja dari sebuah teks, tetapi dibentuk melalui wacana dan dipengaruhi oleh cara orang memahaminya. Dalam konteks ini, video musik “Peradaban” dapat dilihat sebagai ruang dialog antara pencipta dan penontonnya. Penonton bukan lagi penerima pasif, tapi ikut aktif menafsirkan dan merespons pesan yang disampaikan. Dengan cara pandang ini, budaya populer seharusnya tidak hanya jadi hiburan, tapi juga jadi alat untuk perubahan sosial mewakili suara-suara yang selama ini terpinggirkan dan mendorong masyarakat berpikir lebih kritis.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda