Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Berita
  3. Fandom K-Pop: Dari Hiburan ke Aksi Sosial, Tantangan Baru bagi Struktur Kekuasaan di Era Digital

Fandom K-Pop: Dari Hiburan ke Aksi Sosial, Tantangan Baru bagi Struktur Kekuasaan di Era Digital

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
06 Juli 2025, 15.39 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Fandom K-Pop

Oleh : Halimah Mahasiswi Universitas 17 Agustus 1945

JurnalPost.com - Dalam dunia yang semakin terkoneksi, fandom K-pop tidak lagi sekadar kumpulan penggemar yang menyukai musik dan idola dari Korea Selatan. Mereka telah bertransformasi menjadi kekuatan sosial digital yang mampu memengaruhi wacana publik global. Melalui industri hiburan, Korea Selatan berhasil mengekspor budaya popnya ke seluruh dunia—sebuah bentuk hegemoni budaya menurut Antonio Gramsci. Namun, dominasi ini tidak sepenuhnya berjalan satu arah. Fandom global, justru memanfaatkan budaya K-pop sebagai alat untuk menyuarakan kepentingan lokal mereka. Contohnya adalah aksi digital K-popers saat kasus George Floyd mencuat atau ketika mereka menggagalkan kampanye Presiden Donald Trump melalui penguasaan tiket online. Ini adalah bentuk resistensi terhadap dominasi kekuasaan, menunjukkan bahwa fandom bisa melawan dari dalam sistem yang sama.

IKLAN

Dalam perspektif Stuart Hall, identitas bukan sesuatu yang tetap, melainkan terus berubah tergantung konteks. Dulu, K-popers sering dipandang sebagai fans yang hanya sibuk dengan ulang tahun idola atau konser daring. Namun kini, representasi mereka mulai berubah. Media menampilkan K-popers sebagai kelompok dengan kepedulian tinggi terhadap isu sosial seperti keadilan rasial (#BlackLivesMatter) dan kebebasan berekspresi. Identitas baru ini dibentuk melalui aktivitas mereka di media sosial, memperlihatkan bagaimana media bisa menjadi tempat konstruksi dan negosiasi identitas.

Focused Study Break on Social Media
Baca Juga

Scrolling Boleh, Pecah Belah Jangan: Menjaga Nilai Pancasila di Tengah Ramainya Media Sosial

Menggunakan teori Michel Foucault, kita dapat melihat bagaimana kekuasaan tidak hanya datang dari institusi seperti pemerintah atau kepolisian, tapi juga dari masyarakat sipil. Ketika aplikasi kepolisian iWatch Dallas diserbu konten idol oleh fans K-pop sebagai bentuk sabotase terhadap pengawasan aksi protes, ini menunjukkan bagaimana diskursus bisa dibalik dan digunakan sebagai alat melawan kekuasaan. Foucault menegaskan bahwa kekuasaan tidak bersifat statis, melainkan selalu diproduksi ulang dalam relasi sosial, termasuk oleh fandom.

Media sosial pun menjadi ruang arena konflik makna. Budaya populer seperti fandom tidak hanya meniru makna dominan, tetapi juga menciptakan makna tandingan. Misalnya, saat K-popers menggalang dana melalui streaming YouTube untuk donasi sosial, mereka mengubah persepsi bahwa fans hanya konsumtif menjadi produktif dan peduli. Ini membuktikan bahwa budaya populer adalah medan konflik makna, di mana kekuasaan dan nilai dipertarungkan terus-menerus.

IKLAN

Dick Hebdige melihat subkultur sebagai bentuk resistensi simbolik terhadap norma dominan. Fandom K-pop, yang banyak diisi oleh perempuan muda dan remaja, menantang stereotip gender dan usia yang selama ini meminggirkan mereka dari ruang politik. Lewat fandom, mereka menunjukkan bahwa kelompok yang dianggap “remeh” bisa menjadi aktor politik digital yang kuat.

Pendekatan feminis juga relevan di sini. Dominasi laki-laki dalam wacana publik mulai digeser oleh aksi kolektif para perempuan muda penggemar K-pop. Dengan solidaritas digital, mereka menyebarkan narasi dan mempengaruhi opini publik. Ini menunjukkan agensi perempuan di ranah digital yang selama ini dianggap pasif atau tidak penting.

Reflective Nighttime Social Feed
Baca Juga

“Kok Relate Banget?” : Mengapa Konten Kesehatan Mental terasa Seperti Menceritakan Diri Sendiri

Dari perspektif postkolonialisme, masuknya budaya Korea lewat K-pop menantang dominasi budaya Barat. Para penggemar dari berbagai belahan dunia justru menyuarakan isu-isu lokal mereka melalui fandom ini. Budaya Asia yang dulunya dianggap inferior kini mendapat panggung global. Ini menjadi bukti bahwa globalisasi tidak selalu menghapus identitas lokal, tapi bisa menjadi sarana perlawanan terhadap imperialisme budaya.

Praktik budaya fandom K-pop merefleksikan dinamika kekuasaan yang semakin cair di era digital. Mereka mempertanyakan siapa yang berhak menentukan narasi dominan, siapa yang memiliki suara, dan bagaimana kekuasaan bisa diperebutkan di ruang publik digital. Fandom telah menjadi medan tanding antara ideologi dominan dan wacana tandingan, sekaligus ruang produksi makna baru yang sering kali tak terduga.

Fenomena fandom K-Pop nunjukin kalau budaya populer sebenarnya bisa jadi alat buat perubahan sosial, asal dijalani dengan sadar dan nggak cuma ikut-ikutan tren. Para fans udah buktiin kalau mereka bisa bikin gerakan solidaritas, ngangkat isu sosial, dan bahkan ngelawan sistem yang mereka anggap nggak adil. Tapi biar dampaknya nggak cuma sementara, perlu ada pemahaman soal media dan cara kerja kekuasaan di baliknya. Edukasi soal literasi media penting banget, supaya aksi-aksi mereka nggak berhenti di viral doang, tapi bisa terus berlanjut dan makin terarah.

Sebagai langkah nyata, fandom bisa mulai bangun kerja sama sama komunitas masyarakat sipil atau organisasi sosial biar aksi mereka punya dampak lebih luas. Misalnya, ikut program edukasi, donasi untuk isu lokal, atau bantu sebar informasi soal keadilan sosial. Dari sisi teori, pendekatan interseksionalitas dari feminisme bisa dipakai buat ngeliat posisi mereka—karena di dalam fandom sendiri ada banyak pengalaman yang beda-beda, dari sisi gender, umur, ras, sampai kelas sosial. Kalau semua itu diperhatiin, suara mereka yang selama ini jarang didengar bisa punya tempat dan benar-benar dihargai sebagai bagian dari perubahan yang lebih besar. Jadi, fandom K-Pop itu bukan cuma penggemar hiburan, tapi juga bisa jadi bagian dari gerakan sosial yang kuat.

Filtered Beauty Standards and Self Comparison
Baca Juga

Shade 00 dan Ilusi “Glow Up”: Ketika Algoritma TikTok Menjadi Hakim atas Tubuh Perempuan

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/fandom-k-pop-dari-hiburan-ke-aksi-sosial-tantangan-baru-bagi-struktur-kekuasaan-di-era-digital/83339/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.19 WITA

  • #Donald Trump
  • #Industri K-Pop
  • #media sosial

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Pilihan Editor

  1. 1 Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?
  2. 2

    Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

  3. 3

    Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

  4. 4

    PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

  5. 5

    Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.