Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Squid Game: Potret Nyata Kekejaman Sistem Kapitalis dan Identitas yang Tertindas

Squid Game: Potret Nyata Kekejaman Sistem Kapitalis dan Identitas yang Tertindas

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
03 Juli 2025, 16.39 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Squid Game

Penulis : Muhammad Khawarizmi Arsy

JurnalPost.com - Serial Korea Squid Game memang sudah dirilis beberapa tahun yang lalu, tetapi daya tarik dan relevansinya terhadap kondisi sosial saat ini masih sangat kuat terasa. Serial ini bukan sekadar tontonan hiburan yang menegangkan, tetapi juga menyimpan kritik sosial yang sangat tajam terhadap sistem ekonomi dan struktur kekuasaan yang menindas. Melalui kisah 456 orang yang ikut dalam serangkaian permainan mematikan demi hadiah uang dalam jumlah fantastis, Squid Game memperlihatkan bagaimana kemiskinan dan tekanan hidup bisa membuat seseorang rela mempertaruhkan nyawanya. Di balik visual yang penuh darah dan ketegangan, serial ini menyuarakan jeritan tentang ketimpangan kelas, dominasi ideologi kapitalis, serta posisi mereka yang kerap dikorbankan oleh sistem.

IKLAN

Kapitalisme dan Permainan Bernyawa Dalam perspektif Cultural Studies, dominasi kekuasaan bukan hanya hadir dalam bentuk kekuatan militer atau hukum formal, tetapi juga hadir melalui cara yang jauh lebih halus: melalui ideologi. Antonio Gramsci menyebut hal ini sebagai hegemoni, yakni kemampuan kelompok dominan untuk membuat ideologi mereka tampak alamiah dan diterima begitu saja oleh masyarakat. Dalam Squid Game, para peserta ikut bermain atas dasar "kesadaran penuh" dan "pilihan sendiri", padahal kenyataannya, mereka terjebak dalam sistem yang membuat mereka tidak punya opsi lain. Kemiskinan yang mereka alami membuat permainan mematikan tersebut terlihat seperti satu-satunya harapan yang tersisa.

Petak Umpet
Baca Juga

Petak Umpet dan Game Online: Apa yang Hilang dari Masa Kecil Kita

Michel Foucault, tokoh penting dalam kajian kekuasaan modern, menjelaskan bahwa kekuasaan bisa hadir tanpa kekerasan fisik, tetapi melalui pengawasan dan normalisasi perilaku. Ini terlihat ketika para peserta Squid Game yang sempat keluar dari permainan, justru memutuskan untuk kembali secara sukarela. Dunia luar yang penuh dengan kekerasan struktural, hutang, dan ketidakadilan, justru terasa lebih kejam daripada permainan yang penuh darah itu. Sistem kapitalisme berhasil menciptakan ilusi bahwa uang adalah segalanya. Bahkan, nilai-nilai dasar seperti kemanusiaan, persahabatan, dan kejujuran pun dianggap tak sebanding jika dibandingkan dengan kekayaan.

Identitas dan Wajah-Wajah yang Selalu Tertindas Lebih jauh, serial ini juga mengangkat tema tentang identitas dan representasi sosial. Karakter seperti Sae-byeok, seorang perempuan pelarian dari Korea Utara, mencerminkan bagaimana posisi perempuan, terlebih lagi perempuan minoritas, selalu berada dalam tekanan ganda: sebagai perempuan dan sebagai imigran. Ia digambarkan sebagai sosok yang kuat dan mandiri, tetapi tetap harus menghadapi stigma, diskriminasi, dan ketidakadilan yang berlapis.

Lalu ada Ali Abdul, imigran asal Pakistan yang digambarkan sebagai sosok jujur, rajin, dan penuh dedikasi. Namun, meskipun semua nilai baik ia miliki, nasibnya tetap tragis. Ia dikhianati dan dimanfaatkan oleh peserta lain yang lebih “terdidik” dan “terlihat lebih beradab” di mata masyarakat. Karakter Ali merupakan representasi dari buruh migran yang kerap dieksploitasi, baik secara ekonomi maupun emosional. Kedua karakter ini menunjukkan bahwa identitas seseorang baik dari segi ras, kelas, maupun gender sangat mempengaruhi posisi mereka dalam sistem sosial yang timpang.

IKLAN

Kritik yang Dibalut Hiburan dan Dijual Kembali Namun, ada ironi besar yang tak bisa diabaikan. Squid Game memang menyampaikan kritik keras terhadap kapitalisme dan ketimpangan sosial. Namun, pada akhirnya, serial ini tetaplah produk dari industri hiburan global yang digerakkan oleh logika kapitalis. Netflix, sebagai platform yang menayangkan serial ini, justru meraup keuntungan besar dari tayangan yang secara naratif mengkritik sistem yang menopang keberadaannya. Kritik sosial yang dibungkus dengan cerita menegangkan dan visual menghibur ini kemudian dikonsumsi jutaan orang di seluruh dunia menjadikannya sebagai produk komoditas yang laku keras di pasar global.

jual beli akun game
Baca Juga

Jadi Peluang Bisnis, Kiosnoov Fasilitasi Jual Beli Akun Game

Kondisi ini menggambarkan apa yang disebut oleh banyak teoritikus budaya sebagai “kapitalisme yang memakan kritik terhadap dirinya sendiri”. Kritik yang seharusnya menjadi ancaman terhadap sistem, justru diproses, dikemas ulang, dan dijual kembali oleh sistem itu sendiri. Dalam hal ini, muncul pertanyaan yang menggugah: apakah Squid Game benar-benar merupakan bentuk perlawanan terhadap sistem kapitalisme? Ataukah justru ia hanyalah perpanjangan dari sistem yang sedang ia kritik?

Dari Hiburan ke Aksi: Ruang untuk Perlawanan Budaya Meskipun begitu, bukan berarti semua bentuk budaya populer bersifat pasif dan tidak punya daya untuk melawan. Seperti yang dikemukakan oleh Dick Hebdige, budaya populer bisa menjadi arena resistensi tempat lahirnya makna-makna baru yang menantang dominasi lama. Respon dari para penonton terhadap Squid Game cukup menarik untuk diamati. Banyak dari mereka tidak sekadar menikmati cerita, tetapi juga aktif terlibat melalui pembuatan fan-art, diskusi di media sosial, bahkan cosplay yang sarat makna. Aktivitas-aktivitas ini menjadi bentuk resignifikasi, yakni proses mengubah simbol-simbol budaya menjadi alat kritik terhadap struktur yang menindas.

Hal ini menunjukkan bahwa budaya populer tidak selamanya bersifat “pasrah” terhadap dominasi ideologi. Justru sebaliknya, ia bisa menjadi ruang subversif yang mendorong masyarakat untuk berpikir kritis. Dengan kata lain, media populer bisa menjadi cermin yang memantulkan wajah dunia yang keras, tapi juga bisa menjadi senjata untuk memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan.

Kita Penonton atau Pelaku Perubahan? Melalui Squid Game, kita dihadapkan pada gambaran dunia yang sangat dekat dengan realitas hari ini: ketimpangan ekonomi, dominasi ideologi kapitalis, dan identitas yang terpinggirkan. Namun, serial ini juga membuka ruang bagi kita untuk bertanya: apakah dunia nyata benar-benar lebih manusiawi daripada permainan mematikan itu? Jika jawabannya tidak, maka mungkin sudah saatnya kita berhenti menjadi penonton pasif dan mulai berperan sebagai agen perubahan.

Magang
Baca Juga

Mahasiswa ISI Surakarta Kembangkan Game Edukasi Anak

Squid Game adalah bukti bahwa budaya populer bisa menjadi medium yang kuat untuk menyampaikan kritik sosial. Ia bisa menjadi alat refleksi, sekaligus ruang perjuangan bagi mereka yang selama ini tidak punya suara.

Sumber : Netflix’s Squid Game savagely satirises our money-obsessed society – but it’s capitalism that is the real winner https://www.theguardian.com/commentisfree/2021/oct/20/netflix-squid-game-savagely-satirises-our-money-obsessed-society-but-capitalism-is-the-real-winner?utm_source. Squid Game Is an Allegory of Capitalist Hell https://jacobin.com/2021/10/squid-game-capitalism-south-korea-parasite-inequality-netflix?utm_source. Hall, S. (2015). Cultural Identity and Diaspora. In Colonial discourse and post-colonial theory (pp. 392-403). Routledge. https://www.taylorfrancis.com/chapters/edit/10.4324/9781315656496-28/cultural-identity-diaspora-stuart-hall.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/squid-game-potret-nyata-kekejaman-sistem-kapitalis-dan-identitas-yang-tertindas/83165/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.14 WITA

  • #Game Edukasi
  • #Squid Game

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

Pilihan Editor

  1. 1 Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya
  2. 2

    Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

  3. 3

    Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

  4. 4

    Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

  5. 5

    Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.