Penulis : Muhammad Khawarizmi Arsy
JurnalPost.com - Serial Korea Squid Game memang sudah dirilis beberapa tahun yang lalu, tetapi daya tarik dan relevansinya terhadap kondisi sosial saat ini masih sangat kuat terasa. Serial ini bukan sekadar tontonan hiburan yang menegangkan, tetapi juga menyimpan kritik sosial yang sangat tajam terhadap sistem ekonomi dan struktur kekuasaan yang menindas. Melalui kisah 456 orang yang ikut dalam serangkaian permainan mematikan demi hadiah uang dalam jumlah fantastis, Squid Game memperlihatkan bagaimana kemiskinan dan tekanan hidup bisa membuat seseorang rela mempertaruhkan nyawanya. Di balik visual yang penuh darah dan ketegangan, serial ini menyuarakan jeritan tentang ketimpangan kelas, dominasi ideologi kapitalis, serta posisi mereka yang kerap dikorbankan oleh sistem.
Kapitalisme dan Permainan Bernyawa Dalam perspektif Cultural Studies, dominasi kekuasaan bukan hanya hadir dalam bentuk kekuatan militer atau hukum formal, tetapi juga hadir melalui cara yang jauh lebih halus: melalui ideologi. Antonio Gramsci menyebut hal ini sebagai hegemoni, yakni kemampuan kelompok dominan untuk membuat ideologi mereka tampak alamiah dan diterima begitu saja oleh masyarakat. Dalam Squid Game, para peserta ikut bermain atas dasar "kesadaran penuh" dan "pilihan sendiri", padahal kenyataannya, mereka terjebak dalam sistem yang membuat mereka tidak punya opsi lain. Kemiskinan yang mereka alami membuat permainan mematikan tersebut terlihat seperti satu-satunya harapan yang tersisa.
Michel Foucault, tokoh penting dalam kajian kekuasaan modern, menjelaskan bahwa kekuasaan bisa hadir tanpa kekerasan fisik, tetapi melalui pengawasan dan normalisasi perilaku. Ini terlihat ketika para peserta Squid Game yang sempat keluar dari permainan, justru memutuskan untuk kembali secara sukarela. Dunia luar yang penuh dengan kekerasan struktural, hutang, dan ketidakadilan, justru terasa lebih kejam daripada permainan yang penuh darah itu. Sistem kapitalisme berhasil menciptakan ilusi bahwa uang adalah segalanya. Bahkan, nilai-nilai dasar seperti kemanusiaan, persahabatan, dan kejujuran pun dianggap tak sebanding jika dibandingkan dengan kekayaan.
Identitas dan Wajah-Wajah yang Selalu Tertindas Lebih jauh, serial ini juga mengangkat tema tentang identitas dan representasi sosial. Karakter seperti Sae-byeok, seorang perempuan pelarian dari Korea Utara, mencerminkan bagaimana posisi perempuan, terlebih lagi perempuan minoritas, selalu berada dalam tekanan ganda: sebagai perempuan dan sebagai imigran. Ia digambarkan sebagai sosok yang kuat dan mandiri, tetapi tetap harus menghadapi stigma, diskriminasi, dan ketidakadilan yang berlapis.
Lalu ada Ali Abdul, imigran asal Pakistan yang digambarkan sebagai sosok jujur, rajin, dan penuh dedikasi. Namun, meskipun semua nilai baik ia miliki, nasibnya tetap tragis. Ia dikhianati dan dimanfaatkan oleh peserta lain yang lebih “terdidik” dan “terlihat lebih beradab” di mata masyarakat. Karakter Ali merupakan representasi dari buruh migran yang kerap dieksploitasi, baik secara ekonomi maupun emosional. Kedua karakter ini menunjukkan bahwa identitas seseorang baik dari segi ras, kelas, maupun gender sangat mempengaruhi posisi mereka dalam sistem sosial yang timpang.
Kritik yang Dibalut Hiburan dan Dijual Kembali Namun, ada ironi besar yang tak bisa diabaikan. Squid Game memang menyampaikan kritik keras terhadap kapitalisme dan ketimpangan sosial. Namun, pada akhirnya, serial ini tetaplah produk dari industri hiburan global yang digerakkan oleh logika kapitalis. Netflix, sebagai platform yang menayangkan serial ini, justru meraup keuntungan besar dari tayangan yang secara naratif mengkritik sistem yang menopang keberadaannya. Kritik sosial yang dibungkus dengan cerita menegangkan dan visual menghibur ini kemudian dikonsumsi jutaan orang di seluruh dunia menjadikannya sebagai produk komoditas yang laku keras di pasar global.
Kondisi ini menggambarkan apa yang disebut oleh banyak teoritikus budaya sebagai “kapitalisme yang memakan kritik terhadap dirinya sendiri”. Kritik yang seharusnya menjadi ancaman terhadap sistem, justru diproses, dikemas ulang, dan dijual kembali oleh sistem itu sendiri. Dalam hal ini, muncul pertanyaan yang menggugah: apakah Squid Game benar-benar merupakan bentuk perlawanan terhadap sistem kapitalisme? Ataukah justru ia hanyalah perpanjangan dari sistem yang sedang ia kritik?
Dari Hiburan ke Aksi: Ruang untuk Perlawanan Budaya Meskipun begitu, bukan berarti semua bentuk budaya populer bersifat pasif dan tidak punya daya untuk melawan. Seperti yang dikemukakan oleh Dick Hebdige, budaya populer bisa menjadi arena resistensi tempat lahirnya makna-makna baru yang menantang dominasi lama. Respon dari para penonton terhadap Squid Game cukup menarik untuk diamati. Banyak dari mereka tidak sekadar menikmati cerita, tetapi juga aktif terlibat melalui pembuatan fan-art, diskusi di media sosial, bahkan cosplay yang sarat makna. Aktivitas-aktivitas ini menjadi bentuk resignifikasi, yakni proses mengubah simbol-simbol budaya menjadi alat kritik terhadap struktur yang menindas.
Hal ini menunjukkan bahwa budaya populer tidak selamanya bersifat “pasrah” terhadap dominasi ideologi. Justru sebaliknya, ia bisa menjadi ruang subversif yang mendorong masyarakat untuk berpikir kritis. Dengan kata lain, media populer bisa menjadi cermin yang memantulkan wajah dunia yang keras, tapi juga bisa menjadi senjata untuk memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan.
Kita Penonton atau Pelaku Perubahan? Melalui Squid Game, kita dihadapkan pada gambaran dunia yang sangat dekat dengan realitas hari ini: ketimpangan ekonomi, dominasi ideologi kapitalis, dan identitas yang terpinggirkan. Namun, serial ini juga membuka ruang bagi kita untuk bertanya: apakah dunia nyata benar-benar lebih manusiawi daripada permainan mematikan itu? Jika jawabannya tidak, maka mungkin sudah saatnya kita berhenti menjadi penonton pasif dan mulai berperan sebagai agen perubahan.
Squid Game adalah bukti bahwa budaya populer bisa menjadi medium yang kuat untuk menyampaikan kritik sosial. Ia bisa menjadi alat refleksi, sekaligus ruang perjuangan bagi mereka yang selama ini tidak punya suara.
Sumber : Netflix’s Squid Game savagely satirises our money-obsessed society – but it’s capitalism that is the real winner https://www.theguardian.com/commentisfree/2021/oct/20/netflix-squid-game-savagely-satirises-our-money-obsessed-society-but-capitalism-is-the-real-winner?utm_source. Squid Game Is an Allegory of Capitalist Hell https://jacobin.com/2021/10/squid-game-capitalism-south-korea-parasite-inequality-netflix?utm_source. Hall, S. (2015). Cultural Identity and Diaspora. In Colonial discourse and post-colonial theory (pp. 392-403). Routledge. https://www.taylorfrancis.com/chapters/edit/10.4324/9781315656496-28/cultural-identity-diaspora-stuart-hall.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda