Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Petak Umpet dan Game Online: Apa yang Hilang dari Masa Kecil Kita

Petak Umpet dan Game Online: Apa yang Hilang dari Masa Kecil Kita

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
29 Oktober 2025, 09.02 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Petak Umpet

Oleh: Rosyid Ahmad

JurnalPost.com - Coba pejamkan mata sejenak dan ingat kembali satu sore di masa kecil. Ada aroma khas tanah kering bercampur keringat, suara tawa yang meledak, dan debar jantung yang kencang saat bersembunyi di balik lemari tua atau rimbunnya pohon mangga. "Pok!" Suara itu menandai akhir dari petak umpet, sebuah ritual yang lebih dari sekadar permainan; itu adalah kanvas interaksi sosial pertama kita.

IKLAN

Sekarang, buka mata Anda. Pemandangan sore hari ini mungkin berbeda. Di banyak rumah, anak-anak juga merasakan debar jantung yang kencang. Tapi sumbernya bukan karena berkejaran di lapangan. Sumbernya adalah layar gawai yang menyala terang di dalam kamar. Mereka sedang bersembunyi dari musuh di map virtual, berkejaran menggunakan joystick dan berteriak kemenangan melalui headset.

Club Roblox
Baca Juga

Bukan Kaleng-Kaleng, Club Roblox Ini Jadi yang Pertama Bawa Lineup DJ Asli Standar Internasional!

Pergeseran ini dari petak umpet ke game online bukan sekadar evolusi teknologi. Ini adalah pergeseran fundamental tentang di mana, kapan dan bagaimana kita belajar menjadi manusia. Pelakunya adalah kita dan mereka . Kita adalah generasi transisi; generasi yang telapak kakinya masih mengingat kasar dan hangatnya aspal gang, namun jarinya kini lincah di atas layar sentuh. Mereka adalah generasi baru, para digital natives yang dunianya sejak awal sudah terbentang di layar 6 inci.

Perbedaan paling mencolok adalah arena bermainnya. Arena kita dulu adalah lapangan ruang fisik yang tak terduga, penuh tekstur, dan memiliki batas yang cair. Arena mereka sekarang adalah server ruang virtual yang dirancang sempurna tanpa celah namun dibatasi oleh dinding coding dan aturan sistem. Di lapangan kita harus berhadapan dengan teman yang curang, tanah yang becek, atau sendal jepit yang putus. Di server masalah terbesarnya mungkin hanya lag atau koneksi internet yang lambat.

Di sinilah letak perbedaan krusialnya. Petak umpet memaksa kita menguasai keterampilan yang tidak pernah tertulis di buku panduan. Bagaimana kita bernegosiasi? Saat ada yang protes, Kamu jaga terlalu dekat sama benteng Curang kita dipaksa berdebat mencari jalan tengah atau melakukan suit ulang. Kita belajar diplomasi level gang. Bagaimana kita membaca situasi? Kita belajar membaca bahasa tubuh: apakah si Budi benar-benar mencari, atau dia hanya pura-pura untuk menjebak kita keluar? Kita belajar membaca keheningan.

IKLAN

Sebaliknya game online adalah dunia yang aturannya sudah pasti. Tidak ada negosiasi. Sistem yang menentukan siapa yang menang, kalah dan siapa yang curang (cheater). Komunikasi seringkali tereduksi menjadi perintah singkat (Awas kanan, Maju) atau umpatan lewat voice chat. Interaksi sosialnya ada, tapi termediasi dan terfilter.

Item Game
Baca Juga

Dari Jual Item Game ke Dunia Trading Digital, Perjalanan Rizqi Akbar Elkanza

Psikolog perkembangan Dr. Peter Gray seorang profesor di Boston College telah meneliti ini selama puluhan tahun. Ia berargumen dalam karyanya Free to Learn bahwa berkurangnya permainan bebas (free play) jenis permainan yang tidak terstruktur seperti petak umpet berkorelasi langsung dengan krisis kesehatan mental pada generasi muda. Mengapa? Karena menurut Gray Di situlah anak-anak belajar menyelesaikan masalah mereka sendiri, mengontrol impuls dan bergaul dengan orang lain setara. Saat arena bermain ini hilang otot-otot sosial itu pun ikut melemah.

Lalu mengapa ini penting? Bukankah game online juga melatih refleks, strategi, dan bahasa Inggris? Tentu saja. Namun ada hal-hal esensial yang perlahan hilang. Yang hilang pertama adalah seni mengatasi kebosanan. Dulu ketika tidak ada teman keluar kita bosan. Dan dari kebosanan itulah lahir kreativitas. Para ahli psikologi seperti Dr. Sandi Mann dari University of Central Lancashire menyebut ini sebagai manfaat kebosanan. Ketika bosan, otak kita dipaksa berkelana, melamun, dan akhirnya menciptakan stimulasinya sendiri. Kita mulai mengarang cerita dari bayangan di dinding atau membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk bali. Otot imajinasi kita terlatih karena terpaksa. Hari ini, kebosanan adalah musuh yang harus segera dibasmi dengan satu klik Play.

Yang hilang kedua adalah kelelahan fisik yang memuaskan. Rasa lelah setelah berlari satu jam pulang dengan baju basah oleh keringat lalu minum air putih dingin terasa seperti kemewahan. Itu adalah kelelahan yang sehat. Bandingkan dengan kelelahan hari ini: mata yang perih menatap layar dan punggung yang pegal karena duduk terlalu lama.

Yang hilang terakhir dan mungkin yang paling penting, adalah konsekuensi dunia nyata. Di game online jika karakter kita mati kita bisa respawn atau hidup kembali dalam hitungan detik. Di petak umpet jika kita jatuh dari pohon saat bersembunyi lutut kita benar-benar berdarah. Kita belajar tentang risiko tentang batas kemampuan fisik kita dan tentang rasa sakit yang nyata.

jual beli akun game
Baca Juga

Jadi Peluang Bisnis, Kiosnoov Fasilitasi Jual Beli Akun Game

Ini yang oleh peneliti perkembangan anak seperti Ellen Sandseter disebut sebagai permainan berisiko (risky play). Aktivitas seperti memanjat tinggi, bermain cepat hingga nyaris jatuh, atau bersembunyi sendirian, menurutnya sangat penting untuk melatih kemampuan manajemen risiko dan ketangguhan (resilience). Saat anak mati di game ia tidak belajar apa-apa tentang konsekuensi. Saat anak jatuh dan berdarah ia belajar tentang gravitasi, batas tubuhnya, dan cara untuk bangkit kembali.

Kita tidak bisa memutar balik waktu dan game online adalah realitas yang tak terhindarkan. Saat kita mewariskan dunia digital yang canggih ini kepada anak-anak kita sudahkah kita juga mewariskan lapangan tempat mereka bisa berlari, bernegosiasi, berdarah lututnya, dan belajar menjadi manusia tanpa perlu menekan tombol Start.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/petak-umpet-dan-game-online-apa-yang-hilang-dari-masa-kecil-kita/87460/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 20.18 WITA

  • #Game Edukasi
  • #Game Online
  • #Petak Umpet

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Pilihan Editor

  1. 1 Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur
  2. 2

    Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

  3. 3

    Pasar.id BRI Bojonegoro Hadirkan Peluang Penghasilan Tambahan bagi Pengemudi Ojek Lokal

  4. 4

    Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar

  5. 5

    Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.