Oleh: Rakha Aditya Putra, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
JurnalPost.com - The Architecture of Love¬¬ tidak hanya menyajikan sebuah kisah cinta yang romantis, akan tetapi juga banyak perpesktif yang dapat di eksplorasi secara kompleks. Misalnya terhadap kisah cinta, penyembuhan, dan makna hidup. Sehingga film ini mengajak penonton untuk merenung sejenak, terlebih lagi apabila jalan ceritanya berkesinambungan dengan kisah cinta yang dialami dari tiap individu penonton. Meliputi kedua aktor ternama, film ini berhasil merubah pandangan penonton untuk melihat lebih jauh film bertemakan romansa yang tidak biasa dengan konflik yang dibawakannya.
Dalam perspektif Cultural Studies, penayangan film kisah cinta mereka dapat dipahami sebagai arena produksi makna dan penguatan identitas. Menegaskan bahwa dengan adanya melalui pembuatan film The Architecture of Love menjadi daya tarik sendiri dari kacamata penonton untuk mengenal keterbukaan antar identitas romansa dalam suatu hubungan. Meski demikian, pada film ini juga memunculkan budaya kultural sebagai bumbu keindahan kisah cinta yang diperankan kedua karakter tersebut. Pada momen ini juga mengajak penonton untuk mengkritisi sikap mereka yang sebenarnya tidak disangka-sangka dramatisnya.
Pada film ini menjelaskan bahwa sebuah kisah cinta tak semestinya berjalan mulus seperti apa yang dibayangkan kedua pasangan pada umumnya. Akan tetapi, memberikan pengalaman baru bahkan pandangan baru terhadap hubungan menjalin kisah cinta. Maka dari itu, film ini menjadi salah satu representasi sinema Indonesia yang berani menghadirkan isu-isu agak nyeleneh dari kisah cinta yang seringkali dimuat untuk produksi sinema. Film ini juga memuat pendekatan secara Diskursus Kesehatan Mental, dapat dilihat dari karakter River Yusuf yang diperankan oleh Nicholas Saputra (Hartono, V. D. ,2024). Peran River mengangkat isu tersebut dilihat dari rasa traumatis yang Ia dapatkan setelah usai kisah cintanya bersama mantan kekasihnya. Hal ini berkaitan dengan perjalanan kisah cintanya bersama Raia Risjad yang diperankan oleh Putri Marino.
Terlebih lagi latar belakang pekerjaan kedua karakter tersebut sangat bertolak belakang, River sebagai Arsitektur dan Raia sebagai Penulis buku. Pada momen ini saling merepresentasikan sikap mereka kepada lawan bicaranya, berdasarkan apa yang mereka kerjakan (Amin, M. M. N., & Hidayat, M). Seperti yang sering River ucapkan ketika asik berjalan berdua dengan Raia, Ia sering memanfaatkan gedung – gedung bersejarah untuk memberikan kesan menarik untuk Raia. Sama hal-nya dengan yang Raia terapkan, melalui diksi tulisannya yang bisa membuat River kagum kepadanya. Sehingga menyebabkan timbulnya perbedaan subkultur dalam menjalin kisah cintanya, keduanya bersama memikul rasa penasaran yang begitu dalam untuk berusaha mengetahui satu sama lain.
Praktis budaya yang terjalin pada kisah cinta mereka yaitu saling mempertahankan hubungan, dengan cara menguatkan satu sama lain saat keduanya bersama untuk menghilangkan rasa traumatis yang kerap dimiliki kedua peran tersebut. Akan tetapi, konflik pada film ini menjelaskan bahwa proses penyembuhan akibat cinta tidak segampang yang dipikirkan. Melainkan cukup rumit, hingga melibatkan banyak pihak untuk bisa merayakannya. Ideologi nyata dapat dibuktikkan langsung meliputi kedua peran, dengan cara mengenal satu sama lain dan tentu memiliki tujuan untuk lepas dari bayang – bayang masa lalunya. Sehingga pada momen ini Raia cukup terdominasi dengan sikap yang River kerahkan kepadanya, output dari kasus ini yaitu membawa dampak perubahan pada karakter antar kedua peran tersebut.
Sebenarnya kisah perjalanan cinta mereka bisa dianggap rumit, karena dianggap tidak jelas arahnya bagaimana. Keduanya berusaha mempertahankan hubungan yang terjalin, akan tetapi di sisi lain juga terkesan acuh yang menyebabkan ricuh. Konflik yang terjadi bisa dibilang seperti arah jarum jam yang diulang setiap harinya, berdetak semestinya dengan kasus yang sama. Puncak permasalahan pada film ini yaitu ketika Raia mengetahui ternyata River mengidap rasa trauma yang dialaminya setelah kehilangan kekasihnya dulu, mulai dari situ juga Raia bersikap mengerti dan tidak pernah membahas hal yang serupa untuk membuat River tetap nyaman didekatnya. Kisah cinta mereka bisa dibilang cukup dramatis, melibatkan rasa penasaran dan penyembuhan sesama lain.
Menurut saya, teori pada fenomena ini cukup krusial untuk dibicarakan antar kedua belah pihak. Bertujuan sebagai keterbukaan satu sama lain, dan tidak adanya kesalahpahaman dari tiap individu yang terlibat. Seharusnya dapat memberikan kesan yang menarik bila peran River lebih terbuka di awal pada Raia, sehingga Raia tidak bisa memahami situasi River pada saat itu. Hal ini lumrah dilakukan guna untuk memberikan dampak menyenangkan dan berkesan untuk diskusi bagaimana komunikasi yang terjalin antar kedua belah pihak.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda