JurnalPost - Mahasiswa dan Dosen Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura yang tergabung dalam kegiatan Pembentukan Pusat Riset dan Pengembangan Sapi Madura melakukan wawancara ke peternak sapi Madura di 4 kecamatan yang ada di Kabupaten Pamekasan, yaitu Kecamatan Pakong, Pasean, Batumarmar, dan Waru (PAPABARU) Selasa (12/10/2021).
Kegiatan wawancara ke peternak sapi didaerah (PAPABARU) bertujuan untuk menggali informasi dan pengumpulan data untuk menunjang kegiatan penelitian dan rencana pembentukan pusat riset dan pengembangan sapi madura di Kabupaten Pamekasan.
Menurut Wakil Dekan Bidang Penelitian Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerjasama Fakultas Peternakan UGM, Ir. Bambang Suwignyo, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., ASEAN. Eng populasi sapi yang berada di pulau Madura mencapai 25% dari jumlah populasi sapi nasional.
“Populasi sapi yang berada di pulau Madura mencapai kurang lebih 900.000 ekor dan jumlah penduduk di pulau Madura mencapai 4.000.000 jiwa. Artinya, paling tidak dari 4 rumah tangga terdapat 1 rumah tangga yang memelihara sapi,” Tutur Bambang
Hal ini menunjukkan bahwa ternak sapi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Madura karena Sapi Madura memiliki nilai ekonomi serta memiliki nilai kebudayaan dan historis tinggi yang patut dijaga.
Beternak sapi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pamekasan, khususnya masyarakat di wilayah Pakong, Pasean, Batumarmar, dan Waru (PAPABARU) yang saat ini telah ditetapkan sebagai Kawasan konservasi dan pengembangan sapi Madura.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan peternak sapi ketua kemompok tani “Setia Kawan” di Desa Waru Barat, terdapat beberapa fakta menarik dalam memelihara sapi Madura. Mursyid selaku ketua kelompok tani “Setia Kawan” menyebutkan bahwa terdapat beberapa pantangan dalam memelihara sapi madura khususnya jenis sapi sonok.
“Setiap pemilik sapi sonok yang hendak menjual sapinya harus melakukan pelaporan kepada ketua paguyuban, selain itu masyarakat juga dilarang untuk memotong sapi betina yang masih produktif,” ujar Mursyid
“Kami menyadari bahwa jika kami memotong sapi betina yang masih produktif artinya kami melenyapkan kehidupan satu generasi sapi Madura yang secara tidak langsung artinya kami menyebabkan populasi sapi madura semakin berkurang” imbuh Mursyid.
Kesadaran peternak untuk terus meningkatkan populasi sapi madura sangat penting untuk dipertahankan. Selain kesadaran diri peternak terdapat beberapa hal yang mendorong mereka untuk terus beternak sapi. Salah satunya adalah Abdurrohman, (25 tahun) seorang peternak sapi madura dari desa Dempo Barat yang memiliki 2 ekor sapi sonok.
Abdurrohman menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang mendorong ia melakukan usaha ternak sapi Madura diantaranya adalah beternak sapi untuk mendapatkan penghasilan tambahan, sebagai tabungan keluarga, adanya rasa bangga karena mampu menjaga dan melestarikan budaya leluhurnya, simbol kemakmuran, dan beternak sebagai hobi.
“Saya melakukan usaha ternak sapi karena dapat warisan sapi dari kedua orang tua saya, awalnya dulu orang tua saya merantau lalu saya disuruh merawat sapinya, Dulu hanya ada 1 ekor sekarang sudah beranak, dan akhirnya saya punya 2 ekor sekarang. Dari situ lama lama jadi hobi, saya ikutkan sapi saya ke beberapa kontes sapi sonok dan saya belikan beberapa aksesoris untuk mempercantik. Saya juga merasa bangga menjadi peternak sapi karena saya bisa melestarikan budaya asli Mdura.” Ujar Abdurrohman.
Selain faktor dari dalam diri peternak, faktor dari luar juga memiliki peran penting dalam usaha peternakan sapi, salah satunya adalah keberadaan paguyuban kolom taccek.
Paguyuban kolom taccek berperan dalam pelaksanaan kegiatan kumpul rutin yang dilakukan setiap satu bulan sekali, dalam perkumpulan tersebut terdapat banyak hal yang dibahas seperti berapa kali akan melaksanakan kontes sapi sonok dalam setahun, arisan sebagai ajang silaturrahmi dan mempererat kerukunan sesama peternak, serta acing penyaluran dan bertukar informasi mengenai cara perawatan sapi. Selain paguyuban kolom taccek, Pemerintah Desa juga berperan besar dan sangat mendukung masyarakat yang melakukan usaha peternakan sapi madura. Seperti yang dikatakan oleh Mursyid selaku ketua kelompok Tani “Setia Kawan” di Desa Waru Barat.
“Pemerintah Desa Waru Barat sangat berperan dan memberikan dukungan besar bagi para peternak sapi Madura, mereka memberi kami fasilitas lapangan SOCA Center (Sport and Cultural Center) sebagai tempat melaksanakan kontes sapi sonok, mengadakan kontes sapi sonok setiap tahun, sertaa menyediakan trophy dan souvenir” ungkap Mursyid
Dengan adanya dukungan dan fasilitas yang telah diberikan, pemerintah desa berharap masyarakat menjadi termotivasi untuk terus beternak dan mempertahankan populasi sapi asli madura serta tidak tergiur untuk melakukan usaha ternak sapi jenis lain, atau bahkan melakukan kawin silang antara sapi asi madura dengan sapi jenis lain yang dapat mengancam keaslian benih sapi madura.
Penulis : Melisa Hayatul Maryam Mahasiswa Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda