Penulis : Faradina Aulia Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia
JurnalPost.com - Saya pernah iri dengan sapi yang hidup di Swiss. Bukan, bukan karena rumputnya lebih hijau. Tapi karena setiap hari ia bebas makan dan minum dengan bahagia tanpa dihantui pertanyaan sapi lain, “Umur segini kok belum punya ini itu?”.
Kalau saya hidup seperti itu, jangan-jangan akan banyak orang yang menyuruh saya segera menghadiri seminar bertema “Tips Mendapat Seratus Juta Pertama di Umur 20 Tahun” atau “Cara Menjadi CEO Muda Sukses”. Bertolak belakang sekali dengan sapi yang bisa menghabiskan waktu sore untuk mengunyah rumput tanpa ada yang mengatakan kalau usia dan prestasinya tertinggal dari sapi lain.
Di masa kini, lulus S1 dalam 3,5 tahun rasanya menjadi suatu hal yang perlu dikejar. Semakin cepat semakin baik, katanya. Padahal dosen saya mengaku bahwa di masa beliau kuliah dulu, teman-temannya justru memilih untuk memperlambat masa kuliah karena ingin lebih lama menikmati privilese sebagai mahasiswa. Entah sejak kapan “cepat” direkrut menjadi sinonim dari “berhasil”.
Kakek-nenek kita pernah bercerita kalau mereka harus bersabar menunggu berminggu-minggu untuk menerima balasan surat demi sekadar mendapat kabar dari teman atau pasangan nun jauh di sana. Kontras sekali dengan kita yang keburu merasa tidak diprioritaskan jika tidak segera melihat tanda “sedang mengetik…” setelah sepuluh menit menekan tombol send.
Di masa ketika perjalanan haji masih ditempuh menggunakan kapal, umat Muslim menghabiskan waktu berbulan-bulan menuju Tanah Suci. Hari ini, kita bisa gelisah hanya karena estimasi perjalanan mundur beberapa menit dari prediksi awal.
Jika sebelumnya kita menghabiskan banyak jam untuk membeli sebuah barang, mulai dari bersiap-siap, pergi ke lokasi perbelanjaan, berkeliling di antara rak, mengantre, lalu pulang lagi, kini hanya perlu rebahan sambil menekan tombol search dan checkout di marketplace dan dalam beberapa hari barang akan tiba sendiri ke rumah. Masih terlalu lama? Tenang, fitur instant sudah tersedia. Lapar tapi malas keluar rumah? Pilih saja makanan dari restoran terdekat lalu tunggu kurir yang mengantarkannya sampai ke pagar.
Ironisnya, setelah kita menikmati semua kemudahan dan efisiensi yang tidak pernah dirasakan oleh orang-orang di masa lalu, apa yang sebenarnya kita dapat?
Kita mengira setelah berhasil “menghemat” waktu dengan berbelanja online, sisa waktunya akan kita gunakan untuk melakukan hal yang lebih produktif. Kenyataannya, waktu yang berhasil kita hemat sering kali langsung diisi dengan aktivitas lain.
Kita merasa video satu jam terlalu lama lalu menekan tombol 2× agar video itu selesai dalam tiga puluh menit. Lantas apa yang kita lakukan dengan tiga puluh menit yang berhasil kita selamatkan? Menonton video lain.
Di dunia yang semakin cepat karena pengaruh teknologi ini, percepatan yang kita lakukan bukan menjadikan kita semakin bahagia karena menghasilkan lebih banyak waktu luang untuk menikmati hidup. Namun standar hidup kitalah yang ikut dipercepat sehingga manusia tetap merasa dikejar waktu.
Kita menyangka bisa sejenak beristirahat saat pekerjaan selesai dalam waktu singkat berkat bantuan AI, kenyataannya target kerja kita justru dinaikkan karena kita dituntut untuk bekerja secepat standar mesin.
Kita scroll pilihan produk lebih lama, stalking lebih banyak akun, bekerja lebih banyak.
Inilah yang disebut Hartmut Rosa, seorang filsuf dan sosiolog Jerman, sebagai percepatan sosial atau social acceleration. Dalam sudut pandang Rosa, peningkatan kecepatan hidup dalam berbagai bentuk ini memang ciri utama kehidupan masyarakat modern. Ketika manusia dituntut untuk terus beradaptasi dengan ritme yang dipercepat, hubungan kita dengan pekerjaan, lingkungan, bahkan diri sendiri dapat terasa semakin asing (alienasi).
Dan percepatan ini tidak akan berhenti bahkan ketika kita sudah cukup cepat, ibarat berlari di atas treadmill yang kecepatannya selalu meningkat.
Lalu apa yang kita dapat dari mengagungkan kecepatan? Semakin cepat kita berlari, semakin jauh pula garis finish-nya dipindahkan. Mungkin inilah alasan mengapa manusia modern tetap merasa kehabisan waktu meskipun dikelilingi teknologi yang memungkinkan segalanya diselesaikan dalam hitungan menit.
Namun jika kita sedikit merenung, pada dasarnya tidak selalu ada orang lain yang secara langsung menyuruh kita untuk selalu berlari cepat. Terkadang kita sendirilah yang melakukannya.
Tidak ada yang memaksa kita menonton video dengan kecepatan 2×. Tidak ada yang mengancam kita saat kita membutuhkan waktu satu jam untuk sebuah video. Kita sendiri yang merasa itu terlalu lama. Kita sendiri yang ingin menyelesaikannya lebih cepat untuk kemudian menonton video berikutnya.
Inilah yang membuat saya teringat dengan pemikiran Byung-Chul Han tentang bagaimana masyarakat modern menginternalisasi tuntutan eksternal hingga akhirnya menjadi individu yang justru mengeksploitasi diri sendiri.
Kita sendiri yang menciptakan tuntutan untuk melakukan lebih banyak hal dalam waktu yang sama. Kita merasa terlalu bersalah jika detik berlalu tanpa melakukan kegiatan besar. Akhirnya, yang bertambah bukanlah waktu luang untuk menikmati hidup secara mindful, melainkan tingginya standar untuk menambah jumlah hal yang bisa kita kerjakan dalam satu hari.
Sampai akhirnya kita lupa bahwa tidak semua waktu harus menghasilkan sesuatu. Tidak semua keterlambatan dan pengulangan berarti kegagalan dan tidak semua jeda harus diisi. Dan barangkali, tidak semua hal yang bisa dipercepat memang harus dipercepat.
Teknologi bukan musuh, kecepatan juga bukan dosa. Saya pun bersyukur hidup di zaman ketika surat tak perlu menunggu berminggu-minggu untuk tiba di tangan pemiliknya dan perjalanan tak perlu ditempuh sekian purnama.
Namun pertanyaan sebenarnya adalah setelah tanpa sadar kita terbiasa dengan kehidupan yang mengagungkan kecepatan, apa yang sebenarnya kita dapat?
Kalau suatu hari saya benar-benar hidup seperti sapi di Swiss, saya tidak akan terburu-buru mencari tahu bagaimana caranya menjadi sapi yang harus selalu produktif. Saya mungkin hanya ingin menikmati matahari senja sambil mengunyah rumput dan untuk sekali saja, tidak merasa terlambat menjalani hidup.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda