Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Saat Hidup Semakin Cepat, Apa yang Kita Dapat?

Saat Hidup Semakin Cepat, Apa yang Kita Dapat?

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
13 Agustus 2026, 13.01 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Saat Hidup

Penulis : Faradina Aulia Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia

JurnalPost.com - Saya pernah iri dengan sapi yang hidup di Swiss. Bukan, bukan karena rumputnya lebih hijau. Tapi karena setiap hari ia bebas makan dan minum dengan bahagia tanpa dihantui pertanyaan sapi lain, “Umur segini kok belum punya ini itu?”.

IKLAN

Kalau saya hidup seperti itu, jangan-jangan akan banyak orang yang menyuruh saya segera menghadiri seminar bertema “Tips Mendapat Seratus Juta Pertama di Umur 20 Tahun” atau “Cara Menjadi CEO Muda Sukses”. Bertolak belakang sekali dengan sapi yang bisa menghabiskan waktu sore untuk mengunyah rumput tanpa ada yang mengatakan kalau usia dan prestasinya tertinggal dari sapi lain.

Peneliti DKV UPI
Baca Juga

Peneliti DKV UPI Kembangkan Model Kemasan Berbasis Budaya untuk Sarung Goyor Pemalang

Di masa kini, lulus S1 dalam 3,5 tahun rasanya menjadi suatu hal yang perlu dikejar. Semakin cepat semakin baik, katanya. Padahal dosen saya mengaku bahwa di masa beliau kuliah dulu, teman-temannya justru memilih untuk memperlambat masa kuliah karena ingin lebih lama menikmati privilese sebagai mahasiswa. Entah sejak kapan “cepat” direkrut menjadi sinonim dari “berhasil”.

Kakek-nenek kita pernah bercerita kalau mereka harus bersabar menunggu berminggu-minggu untuk menerima balasan surat demi sekadar mendapat kabar dari teman atau pasangan nun jauh di sana. Kontras sekali dengan kita yang keburu merasa tidak diprioritaskan jika tidak segera melihat tanda “sedang mengetik…” setelah sepuluh menit menekan tombol send.

Di masa ketika perjalanan haji masih ditempuh menggunakan kapal, umat Muslim menghabiskan waktu berbulan-bulan menuju Tanah Suci. Hari ini, kita bisa gelisah hanya karena estimasi perjalanan mundur beberapa menit dari prediksi awal.

Jika sebelumnya kita menghabiskan banyak jam untuk membeli sebuah barang, mulai dari bersiap-siap, pergi ke lokasi perbelanjaan, berkeliling di antara rak, mengantre, lalu pulang lagi, kini hanya perlu rebahan sambil menekan tombol search dan checkout di marketplace dan dalam beberapa hari barang akan tiba sendiri ke rumah. Masih terlalu lama? Tenang, fitur instant sudah tersedia. Lapar tapi malas keluar rumah? Pilih saja makanan dari restoran terdekat lalu tunggu kurir yang mengantarkannya sampai ke pagar.

Cancel Culture
Baca Juga

Cancel Culture: Keadilan atau Sekadar Ikut-ikutan?

Ironisnya, setelah kita menikmati semua kemudahan dan efisiensi yang tidak pernah dirasakan oleh orang-orang di masa lalu, apa yang sebenarnya kita dapat?

Kita mengira setelah berhasil “menghemat” waktu dengan berbelanja online, sisa waktunya akan kita gunakan untuk melakukan hal yang lebih produktif. Kenyataannya, waktu yang berhasil kita hemat sering kali langsung diisi dengan aktivitas lain.

Kita merasa video satu jam terlalu lama lalu menekan tombol 2× agar video itu selesai dalam tiga puluh menit. Lantas apa yang kita lakukan dengan tiga puluh menit yang berhasil kita selamatkan? Menonton video lain.

Di dunia yang semakin cepat karena pengaruh teknologi ini, percepatan yang kita lakukan bukan menjadikan kita semakin bahagia karena menghasilkan lebih banyak waktu luang untuk menikmati hidup. Namun standar hidup kitalah yang ikut dipercepat sehingga manusia tetap merasa dikejar waktu.

Neil Perry
Baca Juga

Antara keinginan dan keadaan: Konflik eksistensialisme Neil Perry dalam Dead Poets Society

Kita menyangka bisa sejenak beristirahat saat pekerjaan selesai dalam waktu singkat berkat bantuan AI, kenyataannya target kerja kita justru dinaikkan karena kita dituntut untuk bekerja secepat standar mesin.

IKLAN

Kita scroll pilihan produk lebih lama, stalking lebih banyak akun, bekerja lebih banyak.

Inilah yang disebut Hartmut Rosa, seorang filsuf dan sosiolog Jerman, sebagai percepatan sosial atau social acceleration. Dalam sudut pandang Rosa, peningkatan kecepatan hidup dalam berbagai bentuk ini memang ciri utama kehidupan masyarakat modern. Ketika manusia dituntut untuk terus beradaptasi dengan ritme yang dipercepat, hubungan kita dengan pekerjaan, lingkungan, bahkan diri sendiri dapat terasa semakin asing (alienasi).

Dan percepatan ini tidak akan berhenti bahkan ketika kita sudah cukup cepat, ibarat berlari di atas treadmill yang kecepatannya selalu meningkat.

Lalu apa yang kita dapat dari mengagungkan kecepatan? Semakin cepat kita berlari, semakin jauh pula garis finish-nya dipindahkan. Mungkin inilah alasan mengapa manusia modern tetap merasa kehabisan waktu meskipun dikelilingi teknologi yang memungkinkan segalanya diselesaikan dalam hitungan menit.

Namun jika kita sedikit merenung, pada dasarnya tidak selalu ada orang lain yang secara langsung menyuruh kita untuk selalu berlari cepat. Terkadang kita sendirilah yang melakukannya.

Tidak ada yang memaksa kita menonton video dengan kecepatan 2×. Tidak ada yang mengancam kita saat kita membutuhkan waktu satu jam untuk sebuah video. Kita sendiri yang merasa itu terlalu lama. Kita sendiri yang ingin menyelesaikannya lebih cepat untuk kemudian menonton video berikutnya.

Inilah yang membuat saya teringat dengan pemikiran Byung-Chul Han tentang bagaimana masyarakat modern menginternalisasi tuntutan eksternal hingga akhirnya menjadi individu yang justru mengeksploitasi diri sendiri.

Kita sendiri yang menciptakan tuntutan untuk melakukan lebih banyak hal dalam waktu yang sama. Kita merasa terlalu bersalah jika detik berlalu tanpa melakukan kegiatan besar. Akhirnya, yang bertambah bukanlah waktu luang untuk menikmati hidup secara mindful, melainkan tingginya standar untuk menambah jumlah hal yang bisa kita kerjakan dalam satu hari.

Sampai akhirnya kita lupa bahwa tidak semua waktu harus menghasilkan sesuatu. Tidak semua keterlambatan dan pengulangan berarti kegagalan dan tidak semua jeda harus diisi. Dan barangkali, tidak semua hal yang bisa dipercepat memang harus dipercepat.

Teknologi bukan musuh, kecepatan juga bukan dosa. Saya pun bersyukur hidup di zaman ketika surat tak perlu menunggu berminggu-minggu untuk tiba di tangan pemiliknya dan perjalanan tak perlu ditempuh sekian purnama.

Namun pertanyaan sebenarnya adalah setelah tanpa sadar kita terbiasa dengan kehidupan yang mengagungkan kecepatan, apa yang sebenarnya kita dapat?

Kalau suatu hari saya benar-benar hidup seperti sapi di Swiss, saya tidak akan terburu-buru mencari tahu bagaimana caranya menjadi sapi yang harus selalu produktif. Saya mungkin hanya ingin menikmati matahari senja sambil mengunyah rumput dan untuk sekali saja, tidak merasa terlambat menjalani hidup.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/saat-hidup-semakin-cepat-apa-yang-kita-dapat/96993/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 14.50 WITA

  • #Universitas Pendidikan Indonesia

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

Pilihan Editor

  1. 1 Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP
  2. 2

    Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

  3. 3

    Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

  4. 4

    Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

  5. 5

    Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.