Penulis: Tubagus Melvy Syauqi Fadhia Sunartadirja Universitas Pendidikan Indonesia
JurnalPost.com - Sebagai orang yang gemar menonton film. Saya tentu memiliki sejumlah film yang membuat saya tertarik untuk menontonnya. Entah karena alur ceritanya, aktornya ataupun bisa juga soundtrack filmnya. Salah satu film yang membuat saya tertarik adalah dead poets society (1989) karya Peter Weir, karena salah satu pemainnya yaitu Robin Williams.Film Dead poets Society memiliki cerita yang cukup sederhana, yaitu sekelompok siswa yang memasuki sekolah bergengsi yang terkenal dengan sekolah yang memiliki aturan ketat tentang kedisiplinan, kehormatan dan prestasi akademik. Peraturan - peraturan ketat tersebut kadang dapat membuat siswanya sendiri jenuh. Namun hadir John Keating, seorang guru bahasa inggris yang memiliki gaya belajar yang dapat membuat aturan - aturan tersebut menjadi hal yang aneh. Keating mendorong para siswa untuk belajar dengan cara yang diluar dari buku teks sekolah.
Keating melihat suatu hal yang biasa dapat dipertanyakan kembali, karena kadang hal yang terlihat biasa saja dapat menjadi suatu hal yang sangat menarik untuk dibicarakan. Dan juga hal - hal tersebut dapat mendapatkan kehidupan kembali jika kita melakukannya dengan penuh gairah. Hal biasa saja yang bisa dijadikan contoh pada film ini adalah puisi. Mungkin saat kita duduk di bangku sekolah menulis dan membaca puisi merupakan hal biasa yang kita lakukan agar kita dapat mendapatkan nilai, namun hasilnya akan berbeda jika kita mengerjakannya dengan penuh gairah. Keating berhasil menunjukan hal itu dan menginspirasi murid - muridnya untuk melakukan hal yang ingin mereka lakukan.
Salah satu murid yang menarik untuk dibahas adalah Neil Perry. Neil Perry merupakan seorang siswa yang terlihat ceria, percaya diri dan sering dianggap oleh teman - temannya sebagai orang yang berani. Namun dibalik itu semua, ia merasakan tekanan yang besar oleh ayahnya yang memiliki pendapat mutlaknya sendiri tentang apa yang baik atau buruk untuk Neil. Tekanan itulah yang membuat ia kebingungan untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Walaupun demikian Neil mempunyai ketertarikan untuk bermain teater setelah mendapatkan kesempatan untuk mengenal dunia teater. Neil pun ikut serta untuk bermain dalam pertunjukan teater " A Midsummer Night's Dream". Neil merasa bahwa ia hidup kembali dan dapat menunjukan sisi terbaik dalam hidupnya.
Masalah mulai muncul ketika Neil mendapatkan hukuman oleh ayahnya karena ayahnya mengetahui bahwa Neil tidak menjadi "anak baik". Neil merasa bahwa teater merupakan hal yang membuatnya bebas. Namun berbeda dengan ayahnya yang merasa bahwa hal tersebut merupakan hal yang tidak berguna dan dapat membuat akademik Neil menurun. Ayahnya lalu memaksa Neil untuk berhenti bermain teater dan meninggalkan sekolahnya untuk pergi ke sekolah militer guna untuk fokus belajar. Hal ini membuat konflik dalam diri Neil semakin besar dan menimbulkan pertanyaan " Kehidupan siapakah yang harus ia jalani?". Titik puncak Neil adalah ketika Neil memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri karena lelah dengan kehidupan yang bukan untuknya, Menurut saya pribadi cerita Neil mirip seperti penggalan lirik band FSTVLST dalam lagu Jefferson " Hidup yang berarti, bukan sekedar tak mati. Mati yang berarti, mesti yang terakhir kali". Karena bagi Neil ia tidak mau hidup jika ia tidak merasa menghidupi pilihannya sendiri.
Cerita Neil dapat dipahami dengan perspektif eksistensialisme Sartre sebagai perrjuangan untuk membentuk dirinya sendiri oleh pilihannya sendiri. Menurut Sartre Seseorang tidak hanya menjadi apa yang orang lain katakan tentangnya, Manusia memiliki kemampuan untuk memilih jalan kehidupannya sendiri. Saat Neil memilih untuk bermain dalam pertunjukan teater, ia sebenarnya sedang berusaha untuk menentukan jalan kehidupannya sendiri, ia tidak ingin hanya menjadi " anak baik " yang ditentukan oleh ayahnya, Tetapi ia ingin menjadi Neil yang dapat hidup bebas karena bisa menentukan tujuan hidupnya sendiri.
Konsep kebebasan juga merupakan konsep penting dalam eksistensialisme oleh Sartre. Sartre melihat bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Namun, kebebasan tersebut tidak berarti bahwa manusia dapat melakukan semua hal dalam hidupnya tanpa batas. Manusia akan selalu berada dalam situasi tertentu, dimana ia harus bisa menentukan bagaimana ia akan berperilaku dalam situasi tertentu. Hal tersebut dapat dilihat ketika Neil memilih untuk bermain teater karena ia merasa bebas dan bahagia saat bermain teater. Akan tetapi pilihan tersebut membawa Neil kedalam masalah yang lebih besar yaitu penolakan dari ayahnya, dan ia tidak dapat lari dari itu.
Pada titik ini, Neil bukan hanya bingung untuk memilih menjadi aktor atau tidak. Namun hal ini menyangkut kebebasan neil untuk dapat menjadi dirinya sendiri tanpa paksaan orang lain. Neil telah menemukan hal yang dapat membuatnya menjadi hidup, Namun pilihan tersebut bertentangan dengan kehidupan yang telah dirancang oleh ayahnya sendiri. Ia berada dalam situasi dimana keinginannya sendiri menghadapi tantangan yaitu penentangan dari sosok yang memiliki kekuasaan yang lebih besar atas kehidupannya. Pada akhirnya, Neil memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri karena tidak ingin memilih menjadi " anak baik" . Namun hal ini bukanlah bentuk dari kebebasan menurut Sartre, Namun merupakan kondisi dimana individu mengalami konflik berat antara keinginannya untuk memilih jalan hidupnya sendiri dengan tekanan lingkungannya yang tidak mendukung pilihannya. Kematian Neil juga dapat dilihat sebagai kebebasan membutuhkan ruang yang suportif agar dapat terwujud. Sartre juga berpendapat bahwa kebebasan seseorang tidak dapat berdiri sendiri karena kebebasan manusia berkaitan dengan kebebasan orang lain juga.
Pada akhirnya, Dead Poets Society tidak hanya menceritakan tentang sekelompok siswa yang menentang aturan di sekolahnya yang kaku. Film ini pun mengajak penonton untuk dapat mempertanyakan pilihan hidupnya sendiri. Karakter Neil Perry juga memberikan refleksi bahwa pilihan seseorang untuk dapat menentukan hidupnya sendiri perlu juga didengar dan dihargai. Orang lain dapat menilai apa yang kita lakukan tapi orang lain tidak tahu pasti apakah itu hal yang baik atau buruk untuk kehidupan kita. Dead Poets Society juga menanyakan sesuatu yang mendalam yaitu, " Sejauh mana manusia dapat menjadi bebas? "
Sumber: Weir, P. (Sutradara). (1989). Dead Poets Society [Film]. Touchstone Pictures. Sartre, J.-P. (2007). Existentialism is a humanism (C. Macomber, Trans.). Yale University Press. (Original work published 1946).
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda