Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Saat Kebebasan Terasa Menakutkan: Mengapa Sulit Meninggalkan Hubungan Toksik?

Saat Kebebasan Terasa Menakutkan: Mengapa Sulit Meninggalkan Hubungan Toksik?

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
28 Juli 2026, 10.23 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Hubungan Toksik
Oleh: Najwa Zhafira Khairunnisa, Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia JurnalPost.com - Fenomena trauma bonding dalam hubungan toksik sering menimbulkan kebingungan bagi orang-orang yang melihatnya dari luar. Tidak sedikit yang bertanya, “Mengapa seseorang tetap bertahan, bahkan kembali, setelah berulang kali disakiti?” Pertanyaan tersebut tampak sederhana, tetapi jawabannya jauh lebih rumit daripada sekadar anggapan bahwa korban kurang tegas atau tidak mampu mengambil keputusan. Secara psikologis, trauma bonding terbentuk melalui siklus perlakuan buruk, ketakutan, permintaan maaf, dan pemberian kasih sayang secara berlebihan atau love bombing. Pergantian antara penderitaan dan perhatian inilah yang dapat menciptakan keterikatan emosional sangat kuat terhadap pelaku. Apabila dibaca melalui filsafat eksistensial Jean-Paul Sartre, trauma bonding juga dapat dipahami sebagai krisis kebebasan dan identitas diri. Sartre memperkenalkan konsep bad faith atau mauvaise foi, yaitu keadaan ketika seseorang menyangkal kebebasan dan tanggung jawabnya karena merasa takut menghadapi konsekuensi dari sebuah pilihan. Namun, konsep ini perlu diterapkan secara hati-hati dalam konteks hubungan abusif. Korban tidak boleh dianggap sengaja memilih untuk disakiti. Manipulasi, ancaman, ketergantungan ekonomi, isolasi sosial, dan gaslighting dapat secara nyata mempersempit pilihan serta melemahkan kemampuan seseorang untuk keluar dari hubungan tersebut.

Manusia yang “Dikutuk untuk Bebas”

Sartre menyatakan bahwa manusia “dikutuk untuk bebas”. Manusia tidak sekadar hadir di dunia, tetapi terus-menerus membentuk dirinya melalui keputusan yang diambil. Kebebasan tersebut bukan selalu sesuatu yang menyenangkan. Di dalamnya terdapat tanggung jawab, kecemasan, dan ketidakpastian. Dalam hubungan toksik, kebebasan korban dapat terkikis melalui manipulasi yang berlangsung secara terus-menerus. Pelaku mungkin merendahkan, menyalahkan, mengontrol, atau membuat korban meragukan penilaiannya sendiri. Perlahan-lahan, korban kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan dirinya dalam menentukan pilihan. Dalam istilah Sartre, manusia pada dasarnya merupakan l’être-pour-soi, yakni kesadaran yang aktif, terbuka, dan mampu menentukan masa depannya. Akan tetapi, korban hubungan toksik dapat mulai memandang dirinya seperti l’être-en-soi, yaitu sesuatu yang pasif, tetap, dan tidak memiliki kemungkinan untuk berubah. Pemikiran seperti “Aku bukan siapa-siapa tanpa dia”, “Tidak akan ada orang lain yang menerimaku”, atau “Aku memang pantas diperlakukan seperti ini” menunjukkan bagaimana identitas korban mulai didefinisikan oleh pandangan pelaku. Korban tidak benar-benar kehilangan kebebasannya sebagai manusia, tetapi kemampuan untuk mengenali dan menggunakan kebebasan tersebut telah ditekan oleh relasi yang manipulatif.

Ketika Hubungan Toksik Menjadi Tempat yang Familier

Siklus trauma bonding dapat membuat hubungan yang menyakitkan terasa lebih aman daripada kehidupan di luar hubungan tersebut. Bukan karena hubungan itu benar-benar aman, melainkan karena rasa sakit di dalamnya sudah dikenal dan dapat diprediksi. Sebaliknya, berpisah berarti menghadapi sesuatu yang belum pasti: kesendirian, perubahan rutinitas, kemungkinan kehilangan dukungan sosial, tekanan ekonomi, atau ketakutan bahwa pelaku akan melakukan pembalasan. Kebebasan akhirnya terasa menakutkan karena menuntut korban memasuki masa depan yang belum diketahui. Saat pelaku kembali menunjukkan kasih sayang setelah melakukan kekerasan emosional, korban memperoleh harapan bahwa hubungan tersebut masih dapat diperbaiki. Momen-momen manis itu kemudian dijadikan dasar untuk mempertahankan hubungan. Korban mungkin berpikir, “Sebenarnya dia orang yang baik, kemarin dia hanya sedang stres,” atau “Kalau aku menjadi pasangan yang lebih baik, mungkin dia tidak akan marah lagi.” Pembenaran tersebut bukan semata-mata kebohongan yang dilakukan dengan sadar. Ia dapat menjadi mekanisme pertahanan psikologis untuk mengurangi kecemasan, mempertahankan harapan, dan bertahan dalam keadaan yang terasa sulit diubah. Di sinilah gagasan bad faith dapat membantu menjelaskan kecenderungan manusia untuk meyakinkan dirinya bahwa tidak ada alternatif lain. Akan tetapi, tanggung jawab utama atas kekerasan tetap berada pada pelaku. Korban tidak dapat disalahkan karena mengalami respons psikologis akibat manipulasi dan kekerasan yang diterimanya.

Pemulihan sebagai Kebangkitan Kesadaran

Dari perspektif eksistensial, pemulihan dari trauma bonding tidak hanya berarti menghilangkan keterikatan emosional terhadap pelaku. Pemulihan juga mencakup usaha untuk menemukan kembali identitas, pilihan, dan kendali atas kehidupan sendiri. Korban perlu menyadari bahwa dirinya tetap merupakan manusia yang memiliki nilai, kehendak, dan kemungkinan untuk membangun masa depan di luar hubungan tersebut. Kesadaran ini tidak selalu muncul secara tiba-tiba. Ia dapat tumbuh melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Mengambil keputusan tanpa meminta persetujuan pelaku, kembali berhubungan dengan keluarga atau teman, menetapkan batasan, mengelola keuangan sendiri, dan mencari bantuan profesional merupakan bagian dari proses merebut kembali agensi diri. Setiap keputusan mandiri dapat menjadi latihan untuk menguatkan kembali “otot kebebasan” yang selama ini dilemahkan oleh kontrol dan manipulasi. Proses tersebut juga berkaitan dengan pembangunan kembali self-efficacy atau efikasi diri, yaitu keyakinan bahwa seseorang mampu mengambil tindakan dan menghadapi berbagai tantangan dalam hidupnya. Ketika efikasi diri meningkat, korban mulai melihat bahwa masa depan tidak sepenuhnya ditentukan oleh pelaku. Rasa cemas mungkin tetap muncul. Akan tetapi, kecemasan terhadap masa depan yang belum pasti dapat dipahami sebagai bagian dari proses menuju kehidupan yang lebih merdeka, bukan sebagai alasan untuk kembali ke dalam hubungan yang menyakitkan.

Memahami “Neraka adalah Orang Lain”

Ungkapan Sartre yang terkenal, “Neraka adalah orang lain”, sering dipahami seolah-olah semua hubungan dengan orang lain merupakan sumber penderitaan. Padahal, ungkapan tersebut lebih dekat dengan persoalan ketika seseorang terperangkap dalam penilaian orang lain dan kehilangan kemampuan untuk mendefinisikan dirinya sendiri. Dalam hubungan toksik, pelaku dapat menjadikan pandangannya sebagai satu-satunya ukuran nilai diri korban. Korban kemudian melihat dirinya melalui penghinaan, tuduhan, dan penilaian yang diberikan pelaku. “Neraka” dalam keadaan ini bukan sekadar keberadaan orang lain, tetapi kondisi ketika kebebasan seseorang dikuasai oleh tatapan dan penilaian pihak lain. Ironisnya, neraka yang familier terkadang terasa tidak semenakutkan kebebasan yang belum dikenal. Karena itulah, meninggalkan hubungan toksik bukan hanya perkara berjalan pergi, melainkan juga perjuangan untuk melepaskan identitas lama dan membangun kehidupan baru. Pada akhirnya, keluar dari trauma bonding membutuhkan pemulihan psikologis, dukungan sosial, kondisi keamanan yang memadai, dan kesadaran bahwa korban memiliki hak untuk menentukan hidupnya sendiri. Merebut kembali kebebasan berarti berhenti mengukur nilai diri melalui perkataan pelaku. Kebebasan juga berarti berani mengambil keputusan, menerima ketidakpastian, dan perlahan-lahan menulis ulang cerita hidup berdasarkan kehendak sendiri. Langkah tersebut mungkin terasa menakutkan. Namun, justru melalui keberanian untuk menghadapi ketidakpastian, seseorang dapat kembali menemukan dirinya sebagai manusia yang bebas.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/saat-kebebasan-terasa-menakutkan-mengapa-sulit-meninggalkan-hubungan-toksik/96182/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 16.59 WITA

  • #Opini Mahasiswa
  • #Universitas Pendidikan Indonesia

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

Pilihan Editor

  1. 1 Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso
  2. 2

    Resmi Dilantik, BPC GMKI Singaraja Periode 2026–2027 Fokus Kuatkan Kaderisasi dan Kolaborasi

  3. 3

    Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

  4. 4

    Modernisasi Bioproses Pangan: Inovasi Teknologi untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan Berkelanjutan

  5. 5

    Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.