Saat Kebebasan Terasa Menakutkan: Mengapa Sulit Meninggalkan Hubungan Toksik?
Oleh: Najwa Zhafira Khairunnisa, Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia
JurnalPost.com - Fenomena trauma bonding dalam hubungan toksik sering menimbulkan kebingungan bagi orang-orang yang melihatnya dari luar. Tidak sedikit yang bertanya, “Mengapa seseorang tetap bertahan, bahkan kembali, setelah berulang kali disakiti?”
Pertanyaan tersebut tampak sederhana, tetapi jawabannya jauh lebih rumit daripada sekadar anggapan bahwa korban kurang tegas atau tidak mampu mengambil keputusan. Secara psikologis, trauma bonding terbentuk melalui siklus perlakuan buruk, ketakutan, permintaan maaf, dan pemberian kasih sayang secara berlebihan atau love bombing. Pergantian antara penderitaan dan perhatian inilah yang dapat menciptakan keterikatan emosional sangat kuat terhadap pelaku.
Apabila dibaca melalui filsafat eksistensial Jean-Paul Sartre, trauma bonding juga dapat dipahami sebagai krisis kebebasan dan identitas diri. Sartre memperkenalkan konsep bad faith atau mauvaise foi, yaitu keadaan ketika seseorang menyangkal kebebasan dan tanggung jawabnya karena merasa takut menghadapi konsekuensi dari sebuah pilihan.
Namun, konsep ini perlu diterapkan secara hati-hati dalam konteks hubungan abusif. Korban tidak boleh dianggap sengaja memilih untuk disakiti. Manipulasi, ancaman, ketergantungan ekonomi, isolasi sosial, dan gaslighting dapat secara nyata mempersempit pilihan serta melemahkan kemampuan seseorang untuk keluar dari hubungan tersebut.
Artikel Terkait
REKOMENDASI JURNALPOST
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda