Penulis: Nayla Arifani Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia.
JurnalPost.com - Hari ini dipuja, besok dikecam — begitu cepat nasib seseorang bisa berubah karena satu unggahan. Di tengah gemuruh cancel culture, kita jarang bertanya: apakah kita sedang menegakkan keadilan, atau sekadar ikut-ikutan karena semua orang melakukannya?
Fenomena semacam ini bukan lagi sesuatu yang asing. Hampir setiap saat, media sosial memperlihatkan bagaimana seorang publik figur maupun influencer bisa mendadak menjadi pusat perhatian karena sebuah ucapan, tindakan, atau kontroversi. Apa yang awalnya hanya satu unggahan dapat berkembang menjadi perbincangan luas, memenuhi linimasa, mengundang ribuan komentar, hingga memengaruhi cara publik melihat sosok tersebut.
Sebagai contoh, kasus yang sangat ramai diperbincangkan datang dari seorang influencer bernama Julia Prastini atau lebih dikenal sebagai Jule yang pada tahun 2025 lalu, ia mendapat kecaman setelah kontroversi mengenai kehidupan pribadinya viral di media sosial. Peristiwa tersebut kemudian ramai diperbincangkan hingga memunculkan berbagai komentar, kecaman, serta seruan untuk berhenti memberikan dukungan kepadanya. Kontroversi tersebut bahkan turut memengaruhi kerja samanya dengan sejumlah brand.
Kasus Jule menunjukkan bahwa hukuman sosial di media sosial tidak lagi berhenti pada komentar atau kecaman. Ketika opini publik semakin besar, dampaknya bisa merembet ke kehidupan profesional seseorang. Di titik ini, cancel culture menjadi lebih dari sekadar tren di media sosial. Ia menjadi cara masyarakat memberikan sanksi kepada seseorang yang dianggap telah melewati batas.
Namun, ada hal yang menarik dari fenomena ini. Mengapa begitu banyak orang merasa perlu ikut mengecam? Apakah semuanya benar-benar telah membentuk penilaian sendiri, atau sebagian hanya mengikuti suara yang sudah lebih dulu ramai?
Ketika ribuan orang sudah mengecam seseorang, kita mungkin merasa tidak perlu lagi mencari tahu dari awal. Melihat begitu banyak orang berada di posisi yang sama dapat membuat kita terdorong untuk ikut mengambil sikap. Dalam psikologi sosial, kecenderungan menyesuaikan perilaku atau pendapat dengan kelompok ini dikenal sebagai konformitas.
Bisa jadi, sebagian orang memang memiliki alasan sendiri untuk mengecam. Namun, sebagian lainnya mungkin hanya mengikuti arus yang sudah terbentuk. Di media sosial, menjadi berbeda dari mayoritas terkadang terasa lebih sulit daripada sekadar ikut bersuara.
Persoalannya tidak berhenti pada keinginan untuk mengikuti orang lain. Kita juga punya kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu. Melalui konsep social identity, kita dapat melihat bahwa sebagian dari identitas diri terbentuk melalui keanggotaan kita dalam kelompok sosial. Dalam konteks cancel culture, ikut mengecam seseorang bisa menjadi cara untuk menunjukkan bahwa kita berada di pihak yang dianggap benar. Jadi, yang dipertahankan bukan hanya penilaian kita terhadap orang lain, tetapi juga gambaran tentang siapa diri kita sendiri.
Ketika orang-orang yang sama-sama mengecam berkumpul di satu ruang digital, kemarahan mereka tidak berhenti pada titik awal. Mereka saling membenarkan, saling menguatkan, dan akhirnya bisa menjadi semakin yakin bahwa kecaman mereka memang pantas. Dalam psikologi sosial, kecenderungan sikap kelompok menjadi semakin kuat setelah berdiskusi dengan orang-orang yang memiliki pandangan serupa disebut group polarization.
Dilihat dari sudut pandang lain, René Girard memperkenalkan konsep hasrat mimetik dimana manusia sering kali menginginkan sesuatu karena melihat orang lain menginginkannya. Kita belajar apa yang layak diinginkan, dibenci, bahkan diperjuangkan melalui orang-orang di sekitar kita.
Dalam cancel culture, pola serupa dapat terlihat dalam cara kemarahan menyebar. Seseorang melihat orang lain mengecam seorang publik figur, kemudian ikut mengecam. Ketika kecaman semakin ramai, semakin mudah bagi orang lain untuk menganggap bahwa orang tersebut memang pantas mendapatkan kecaman. Pada akhirnya, kemarahan tidak hanya menyebar, tetapi juga saling memperkuat.
Di sinilah pertanyaan tentang “ikut-ikutan” menjadi menarik. Bisa jadi kita memang memiliki alasan untuk tidak menyukai atau mengkritik seseorang. Namun, seberapa banyak dari sikap tersebut benar-benar merupakan penilaian kita sendiri, dan seberapa banyak yang terbentuk karena kita melihat orang lain melakukan hal yang sama?
Mungkin kita tidak selalu sadar ketika sedang mengikuti arus. Kita merasa sedang memilih, padahal pilihan kita telah dipengaruhi oleh apa yang sedang ramai, siapa yang paling banyak didukung, dan pendapat mana yang paling sering muncul di layar.
Di tengah keramaian itu, mungkin pertanyaan yang paling penting bukan “siapa yang harus di-cancel?”, melainkan “kenapa aku ikut?”
Jangan-jangan, yang kita sebut sebagai suara hati hanyalah gema dari suara mayoritas.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda