Pemalang, JurnalPost.com – Tim peneliti Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melakukan penelitian lapangan di PT Rimatex Putra Nusantara, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Penelitian ini menjadi bagian dari riset bertajuk “Pengembangan Model Desain Kemasan Berbasis Budaya Lokal untuk Pemberdayaan UMKM Sarung Goyor Pemalang.”
Tim penelitian dipimpin Palupi Argani, S.Ds., M.Ds., dengan fokus menggali potensi budaya Sarung Goyor sekaligus mengembangkan pendekatan desain kemasan yang mampu memperkuat identitas, meningkatkan nilai produk, dan mendukung daya saing tekstil tradisional khas Pemalang tersebut.
Dalam penelitian lapangan, tim melakukan observasi langsung serta wawancara mendalam dengan Priyadi dan Novita Haryanti sebagai narasumber. Penggalian data mencakup sejarah dan perkembangan Sarung Goyor, proses produksi, karakteristik produk, motif, nilai budaya, hingga tantangan dalam memperkenalkan produk kepada pasar yang lebih luas.
Menggali Cerita di Balik Sarung Goyor
Sarung Goyor tidak hanya dipandang sebagai produk tekstil, tetapi juga bagian dari pengetahuan dan keterampilan masyarakat yang diwariskan lintas generasi.
Melalui observasi di lokasi produksi PT Rimatex Putra Nusantara, tim peneliti mempelajari tahapan pembuatan Sarung Goyor, mulai dari pengolahan benang, penyusunan pola dan motif, proses penenunan, hingga produk siap dipasarkan.
Wawancara dengan Priyadi dan Novita Haryanti turut memberikan gambaran mengenai perkembangan pengetahuan serta tradisi produksi Sarung Goyor di tengah perubahan pasar dan perilaku konsumen.
Informasi yang diperoleh kemudian dipetakan menjadi sejumlah unsur budaya, visual, dan naratif untuk digunakan sebagai dasar dalam proses perancangan kemasan.
Kemasan sebagai Media Cerita Budaya
Palupi Argani menjelaskan bahwa pengembangan desain kemasan untuk produk berbasis budaya membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan produk komersial pada umumnya.
Menurutnya, identitas budaya tidak cukup direpresentasikan hanya dengan menempatkan motif tradisional sebagai ornamen pada permukaan kemasan.
Kemasan juga perlu menjelaskan nilai produk, siapa yang membuatnya, bagaimana proses produksinya, serta cerita budaya yang menyertai produk tersebut.
Karena itu, penelitian ini mengembangkan konsep kemasan sebagai media visual storytelling. Berbagai unsur budaya yang ditemukan dalam penelitian lapangan diterjemahkan ke dalam strategi visual, struktur informasi, warna, tipografi, ilustrasi, motif, dan narasi.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu konsumen tidak sekadar membeli produk tekstil, tetapi juga memperoleh pengetahuan dan pengalaman mengenai warisan budaya yang berada di balik Sarung Goyor.
Desain Didorong Tingkatkan Nilai Produk Lokal
Penelitian tersebut turut berangkat dari pandangan bahwa bidang desain komunikasi visual dapat memberikan kontribusi langsung terhadap pemberdayaan perajin dan pelaku usaha lokal.
Kemasan yang dirancang secara strategis dinilai mampu meningkatkan persepsi kualitas produk, membangun diferensiasi, memperkuat identitas merek, serta membuka peluang bagi Sarung Goyor untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
Hasil observasi dan wawancara selanjutnya digunakan tim peneliti untuk mengembangkan sejumlah alternatif konsep desain kemasan.
Tahapan pengembangan meliputi pemetaan identitas budaya, penyusunan konsep dan moodboard, eksplorasi visual, pengembangan struktur kemasan, hingga pembuatan prototipe.
Desain yang dihasilkan nantinya akan dievaluasi dan disempurnakan bersama mitra sehingga tidak hanya memiliki kekuatan visual serta representasi budaya, tetapi juga dapat menyesuaikan kebutuhan produksi dan pemasaran.
Dari Pemalang untuk Pemberdayaan UMKM Berbasis Budaya
Penelitian ini tidak berhenti pada pembuatan desain kemasan baru. Keseluruhan proses penelitian akan dirumuskan menjadi model pengembangan desain kemasan berbasis budaya lokal.
Model tersebut akan mengintegrasikan riset budaya, kebutuhan pelaku usaha, strategi desain komunikasi visual, proses perancangan, implementasi, hingga evaluasi.
Melalui model tersebut, UMKM dan pelaku industri kreatif diharapkan dapat memandang budaya lokal bukan hanya sebagai unsur dekoratif, tetapi juga sebagai sumber nilai, identitas, dan diferensiasi produk.
Pendekatan yang dikembangkan melalui penelitian Sarung Goyor Pemalang juga diharapkan dapat menjadi salah satu referensi bagi pengembangan berbagai produk berbasis budaya lainnya di Indonesia.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pelaku usaha, perajin, dan masyarakat melalui penelitian ini sekaligus menunjukkan bagaimana keilmuan desain dapat berkontribusi terhadap dua kepentingan, yakni menjaga keberlanjutan warisan budaya serta meningkatkan nilai dan daya saing produk lokal.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda