Jakarta, JurnalPost.com — Ridwan Hisjam menolak keras berkembangnya narasi provokatif yang dinilai menyudutkan Presiden terpilih Prabowo Subianto di tengah situasi geopolitik global yang semakin memanas. Ia menilai, kritik yang tidak proporsional justru berpotensi melemahkan konsolidasi nasional saat Indonesia menghadapi tekanan eksternal yang kompleks.
Dalam keterangannya, Ridwan Hisjam menegaskan bahwa dinamika global saat ini—mulai dari konflik di Timur Tengah, rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok, hingga ketidakpastian ekonomi dunia—menuntut stabilitas politik dalam negeri. Oleh karena itu, menurutnya, narasi yang cenderung memecah belah publik perlu disikapi secara bijak.
“Dalam situasi global seperti sekarang, yang dibutuhkan adalah persatuan dan kehati-hatian dalam menyampaikan kritik. Jangan sampai narasi yang berkembang justru dimanfaatkan oleh pihak luar untuk melemahkan posisi Indonesia,” ujar Ridwan.
Ia juga menyoroti meningkatnya intensitas disinformasi di ruang digital yang kerap membingkai kebijakan pemerintah secara tendensius. Menurutnya, kritik tetap penting dalam demokrasi, namun harus berbasis data dan tidak mengarah pada delegitimasi yang berlebihan.
Ridwan menilai, Prabowo sebagai pemimpin mendatang menghadapi tantangan berat dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan tekanan global. Dalam konteks ini, ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk kalangan intelektual dan aktivis, untuk tidak terjebak dalam polarisasi politik yang kontraproduktif.
“Perbedaan pendapat itu wajar, tetapi harus tetap dalam koridor menjaga kepentingan bangsa. Jangan sampai kita terpecah hanya karena narasi yang tidak konstruktif,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ridwan juga mengingatkan pentingnya memperkuat ketahanan nasional, baik di sektor ekonomi, energi, maupun pangan, sebagai respons terhadap ketidakpastian global. Ia menyebut bahwa stabilitas politik merupakan fondasi utama dalam menghadapi tantangan tersebut.
Pengamat politik menilai, pernyataan Ridwan Hisjam mencerminkan kekhawatiran sebagian elite terhadap meningkatnya tensi politik domestik yang beririsan dengan isu global. Di sisi lain, mereka juga mengingatkan bahwa ruang kritik tetap harus dijaga sebagai bagian dari prinsip demokrasi yang sehat.
Dengan situasi global yang terus bergejolak, perdebatan di dalam negeri diharapkan tetap berada pada jalur substantif dan tidak terjebak dalam provokasi yang dapat memperlemah kohesi sosial.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda