
Banyuwangi, JurnalPost.com – Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir melalui program pengabdian masyarakat. Kali ini, tim dosen dan mahasiswa melaksanakan kegiatan penerapan teknologi fish finder dan pemanggil ikan bagi nelayan tradisional di Desa Pondok Nongko, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi.
Program ini bertujuan untuk membantu nelayan mengatasi masalah klasik yang selama ini mereka hadapi, yakni kesulitan menemukan lokasi ikan secara cepat dan akurat. Kondisi tersebut sering kali membuat nelayan menghabiskan banyak bahan bakar dan waktu di laut, sementara hasil tangkapan tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan.
Dosen Politeknik Negeri Banyuwangi, melalui tim pengabdian masyarakat, menjelaskan bahwa teknologi fish finder berfungsi mendeteksi keberadaan ikan di bawah permukaan laut dengan memanfaatkan gelombang sonar. Sementara itu, alat pemanggil ikan bekerja dengan menghasilkan gelombang suara tertentu yang mampu menarik ikan agar berkumpul di sekitar area jaring tangkap. Kombinasi kedua teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi serta produktivitas tangkapan nelayan tradisional.

Kegiatan yang berlangsung sejak awal September ini diawali dengan sosialisasi kepada kelompok nelayan Desa Pondok Nongko. Tim pengabdian memberikan penjelasan tentang prinsip kerja teknologi, manfaat yang bisa diperoleh, serta cara penggunaan yang sederhana. Selanjutnya, dilakukan pelatihan langsung bersama nelayan di laut untuk mengoperasikan perangkat dan memadukannya dengan teknik tangkap tradisional.
Hasil uji coba menunjukkan bahwa penggunaan fish finder mampu mempercepat nelayan dalam menentukan titik kumpul ikan, sehingga waktu pencarian dapat ditekan hingga 40 persen. Selain itu, dengan memanfaatkan pemanggil ikan, nelayan mampu meningkatkan peluang ikan masuk ke area tangkap. Data lapangan mencatat adanya efisiensi bahan bakar hingga 30 persen dan peningkatan hasil tangkapan rata-rata 25 persen dibandingkan metode konvensional.

Respon nelayan terhadap teknologi ini pun sangat positif. Menurut salah satu nelayan Desa Pondok Nongko, penggunaan fish finder dan pemanggil ikan dinilai praktis dan membantu mereka mengurangi biaya operasional. “Biasanya kami harus melaut lebih lama dan kadang pulang dengan hasil sedikit. Dengan alat ini, kami bisa lebih cepat menemukan ikan dan hasil tangkapan lebih banyak,” ungkapnya.
Selain memberikan pelatihan teknis, Poliwangi juga menekankan pentingnya keberlanjutan program. Tim dosen dan mahasiswa mendampingi nelayan dalam perawatan perangkat serta memberikan panduan pemanfaatan jangka panjang agar teknologi ini tidak hanya sekadar digunakan saat program berlangsung, tetapi terus berlanjut untuk mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir.

Program pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat menjadi model penerapan teknologi tepat guna di sektor perikanan tradisional. Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan kelompok nelayan, teknologi modern dapat diintegrasikan dengan kearifan lokal sehingga memberikan manfaat nyata.
Dengan keberhasilan penerapan teknologi fish finder dan pemanggil ikan di Desa Pondok Nongko, Politeknik Negeri Banyuwangi menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan vokasi yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga aktif berkontribusi langsung dalam memecahkan persoalan nyata di masyarakat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda