Oleh: Septiono Bangun Sugiharto*
JurnalPost.com - Sejak jaman dahulu...sebuah narasi yang mungkin familiar di pembaca sekalian tentang sebuah film kartun yang akan mengupas tentang dongeng pada masa lalu. Sejak jaman dahulu pula, sebagian besar masyarakat kita dengan alasan satu-satunya menghubungi petugas pemadam kebakaran (damkar) adalah karena ada sangkut paut dengan api, kebakaran, dan korsleting listrik di rumah yang menimbulkan bara api. Situasinya sekarang ada sedikit “tranformasi” perubahan dan pergeseran, banyak kasus dan pemberitaan di media massa, ambil contoh ada ular yang masuk rumah, panggil damkar. Ada cincin terlalu sempit menyangkut di jari anak kecil yang sedang bermain, damkar dipanggil. Kucing masuk plafon rumah, panggil damkar. Sarang tawon di atap atau plafon rumah, damkar dibutuhkan. Bahkan saat banjir mengepung perkampungan, tak pelak yang diharap datang bukan hanya petugas yang memang konsen di perbencanaan, tapi juga masyarakat rindu akan gerak cepat dan “sat set” petugas damkar. Petugas Damkar menjadi garda terdepan tentang aduan-aduan unik yang terjadi di masyarakat. Kalau kita searching di pencarian google, dengan kata kunci “damkar, pasukan serba bisa” didapati kurang lebih ada 89000 lebih berita tentang damkar.
Fenomena dan trends yang banyak terjadi di masyarakat ini bukan hanya unik, tapi juga menunjukkan transformasi peran sosial petugas pemadam kebakaran yang patut diapresiasi. Banyak kasus-kasus anomali di masyarakat dewasa ini yang membuat masyarakat dalam situasi yang membutuhkan sarana “trauma healing”. Sehingga. Kejadian-kejadian unik di masyarakat yang membutuhkan penanganan segera, tanpa ragu masyarakat memanggil Damkar. Mereka tak lagi sekadar pemadam api, tapi seakan-akan telah menjelma sebagai pasukan “unit reaksi cepat” yang serba bisa dan diandalkan elemen masyarakat. Apabila kita hayati lebih jauh, maka di balik semua fenomena ini adalah ada alasan logis, kuat, dan menyentuh aspek kebutuhan dasar manusia terkait keselamatan, ketenangan, dan kepercayaan ditengah masyarakat, yang mana hari-hari ini ditengah keadaan ekonomi yang tidak baik-baik saja, didera berbagai riuhnya berita dan informasi yang cepat berlalu, dan berganti dalam hitungan waktu singkat.
Kebutuhan masyarakat akan respons cepat Di tengah isu-isu dan realita tentang birokrasi layanan publik yang kadang lambat, mosi tidak percaya, dan “zero emphathy” para pejabat yang akhir akhir ini banyak berstatement yang seperti tanpa filter, dan tak mengandung kaidah sensitifitas pada keadaan masyarakat yang sedang dilanda kesusahan, atau masih banyak jauh dari kesejahteraan, dengan segala urusan administratif yang berduit dan berbelit, maka respons damkar dikenal hadir cepat, tanpa basa-basi. Ini menjadi bargaining power dan pembeda penting yang membuat masyarakat tanpa pening, yang pertama akan dimintai tolong adalah petugas damkar. Dalam dunia kedaruratan yang kita kenal, kecepatan respons seringkali menjadi garis batas antara keselamatan dan celaka.
Contoh paling sederhana: warga yang terjebak di rumah karena banjir cenderung menelepon damkar lebih dulu ketimbang menunggu prosedur panjang dari lembaga lain. Bukan karena lembaga lain tidak kompeten, tapi karena damkar sudah dikenal “sat set”—datang cepat, kerja cepat, pulang tanpa banyak seremoni. Hmmm, seremoni dan terlebih pencitraan memang masih lekat dengan budaya baru kita, budaya yang konon mulai marak di tahun 2000an awal sampai saat ini. Dan generasi muda saat ini trends tentang pencitraan ada yang menyebutnya dengan FOMO, YOLO, ada juga istilah FOPO. Tapi kita tidak membahas lebih jauh tentang istilah-istilah anak muda tersebut, mungkin next time.
Damkar dan Kesehatan Lingkungan Saya secara pribadi mengapresiasi tugas damkar yang transformasi nya tidak hanya di job desk api, namun telah meluas pada berbagai permasalahan dan aduan unik yang ada di masyarakat, dan jika dipandang dari aspek dan paradigma bidang kesehatan lingkungan, keterlibatan damkar dalam berbagai kasus non-kebakaran sebagai bentuk dukungan tidak langsung terhadap kesehatan lingkungan dan masyarakat. Mengambil contoh penanganan ular masuk rumah, tentu tidak semua orang memiliki kemampuan, alat, atau terlebih kesiapan mental dalam mengevakuasi ular yang masuk ke plafon rumah, saluran air, dengan aman. Apalagi tidak terkecuali ular-ular yang masuk terkenal dengan daya killer yang tinggi, seperti ular cobra, sanca, phyton, dan sebagainya. Jika tidak ditangani dengan benar, bukan hanya luka fisik yang mengintai, akan tetapi juga trauma psikologis, bahkan risiko kematian. Kehadiran damkar di sini bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mencegah krisis kesehatan.
Begitu pula saat cincin logam menyangkut jari. Ini mungkin terdengar sepele, tapi bisa menjadi situasi medis serius apabila dibiarkan. Petugas damkar, dengan keahlian dan peralatan pemotong yang mereka miliki, menjadi penyelamat di luar fungsi tradisional mereka. Masyarakat butuh efisiensi untuk melanjutkan hidup, tak mau lagi berprosedur pada jalan panjang ini dan itu, apalagi menyangkut kedaruratan.
Masyarakat Butuh Solusi, Bukan Sekadar Prosedur Era modern menuntut layanan publik yang adaptif. Disamping transparan yang banyak didengunkan disana sini. Masyarakat tidak selalu tahu siapa yang harus dihubungi dalam situasi tertentu, tapi mereka tahu siapa yang bisa menyelesaikan masalah. Dan sejauh ini, petugas damkar telah membuktikan bahwa mereka dapat menjadi “first responders” dan cukup bisa diandalkan. Mungkin hal ini didasari oleh didikan mereka yang harus cepat tanggap dalam menghadapi kedaruratan. Istilah yang mereka sebut dengan segitiga api, jangan sampai salah satu unsur diberi kesempatan membuat api makin besar. Dan mereka mencoba tangap dalam mengimplementasi bantuan warga dengan segera, agar jangan sampai masalah yang dihadapi masyarakat semakin membesar karena tidak adanya penanganan yang segera. Mungkin prinsip itulah yang di internalisasi oleh para punggawa damkar.
Dari sini, ada pesan yang tersirat bahwa satu hal penting: kepercayaan publik bukan dibentuk dari seberapa lengkap regulasi dibuat, tapi dari seberapa nyata manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Di tengah banyaknya institusi yang terjebak dalam tumpukan birokrasi, damkar justru menembus sekat itu dan hadir sebagai penolong yang efisien dan bersahabat. Meneladani dan lebih jauh memberi solusi atas atensi masyarakat.
Saatnya Mendukung Transformasi Ini Kita patut mendorong transformasi ini untuk menjadi lebih terstruktur. Pemerintah daerah dan pusat perlu mengakui peran baru damkar ini dalam bentuk kebijakan yang mendukung: pelatihan lintas fungsi, mungkin penambahan anggaran tanpa takut efisiensi, hingga integrasi dengan sistem penanggulangan bencana, kesehatan masyarakat, dan atau kesehatan lingkungan.
Tak kalah penting, edukasi publik juga perlu diperkuat. Masyarakat harus tahu kapan dan bagaimana meminta bantuan yang tepat kepada damkar, agar sumber daya tetap efisien dan tidak disalahgunakan. Transformasi pemadam kebakaran menjadi penolong multitalenta adalah refleksi bahwa masyarakat butuh solusi praktis yang manusiawi dan cepat. Mereka percaya pada aksi nyata, bukan sekadar jargon. Masyarakat sudah lelah pada janji-janji yang kerap semakin riuh dan bergemuruh saat menggema di tahun-tahun politik. Serangannya bertubi-tubi untuk meraih empati dan kursi, meski kerap meninggalkan janji yang tak terealisasi ketika sudah menjadi delegasi.
Sebagai akademisi sekaligus warga, saya ikut menyuarakan apresiasi tinggi pada petugas damkar di seluruh Indonesia. Mereka bukan sekadar pemadam api. Mereka adalah garda depan ketenangan masyarakat—di kala api menyala, ular menyelinap, atau cincin tak mau lepas. Semoga mereka tetap membumi, dan selalu melakukan hal-hal positif, jauhi hal-hal yang menyangkut perilaku destruktif, dan yang terpenting tak lekas jumawa dengan pengakuan masyarakat yang bertubi-tubi. Bravo, petugas Damkar.
Purbalingga, 9 Oktober 2025

*Penulis berprofesi sebagai dosen di salah satu PTN di Kota Satria, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis aktif di komunitas kepenulisan yang bernama IPAB (Ikatan Penulis Aktif Banyumas Raya), yang dulu bernama Ikatan Penulis Anyar Banyumas. Saat ini tinggal di Desa Babakan, Purbalingga, Jawa Tengah.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda