Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Petugas Damkar, dari Pemadam Api menjadi penolong multitalenta, Apa benar UUD (Ujung-ujungnya Damkar)?

Petugas Damkar, dari Pemadam Api menjadi penolong multitalenta, Apa benar UUD (Ujung-ujungnya Damkar)?

Foto profil Nadia
Editor: Nadia
11 Oktober 2025, 09.51 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
7 menit baca
Pemadam Api
Ilustrasi Petugas Damkar (Pixabay @Fachdozent)

Oleh: Septiono Bangun Sugiharto*

JurnalPost.com - Sejak jaman dahulu...sebuah narasi yang mungkin familiar di pembaca sekalian tentang sebuah film kartun yang akan mengupas tentang dongeng pada masa lalu. Sejak jaman dahulu pula, sebagian besar masyarakat kita dengan alasan satu-satunya menghubungi petugas pemadam kebakaran (damkar) adalah karena ada sangkut paut dengan api, kebakaran, dan korsleting listrik di rumah yang menimbulkan bara api. Situasinya sekarang ada sedikit “tranformasi” perubahan dan pergeseran, banyak kasus dan pemberitaan di media massa, ambil contoh ada ular yang masuk rumah, panggil damkar. Ada cincin terlalu sempit menyangkut di jari anak kecil yang sedang bermain, damkar dipanggil. Kucing masuk plafon rumah, panggil damkar. Sarang tawon di atap atau plafon rumah, damkar dibutuhkan. Bahkan saat banjir mengepung perkampungan, tak pelak yang diharap datang bukan hanya petugas yang memang konsen di perbencanaan, tapi juga masyarakat rindu akan gerak cepat dan “sat set” petugas damkar. Petugas Damkar menjadi garda terdepan tentang aduan-aduan unik yang terjadi di masyarakat. Kalau kita searching di pencarian google, dengan kata kunci “damkar, pasukan serba bisa” didapati kurang lebih ada 89000 lebih berita tentang damkar.

IKLAN

Fenomena dan trends yang banyak terjadi di masyarakat ini bukan hanya unik, tapi juga menunjukkan transformasi peran sosial petugas pemadam kebakaran yang patut diapresiasi. Banyak kasus-kasus anomali di masyarakat dewasa ini yang membuat masyarakat dalam situasi yang membutuhkan sarana “trauma healing”. Sehingga. Kejadian-kejadian unik di masyarakat yang membutuhkan penanganan segera, tanpa ragu masyarakat memanggil Damkar. Mereka tak lagi sekadar pemadam api, tapi seakan-akan telah menjelma sebagai pasukan “unit reaksi cepat” yang serba bisa dan diandalkan elemen masyarakat. Apabila kita hayati lebih jauh, maka di balik semua fenomena ini adalah ada alasan logis, kuat, dan menyentuh aspek kebutuhan dasar manusia terkait keselamatan, ketenangan, dan kepercayaan ditengah masyarakat, yang mana hari-hari ini ditengah keadaan ekonomi yang tidak baik-baik saja, didera berbagai riuhnya berita dan informasi yang cepat berlalu, dan berganti dalam hitungan waktu singkat.

Transparansi Zakat
Baca Juga

Transparansi Zakat di Era Digital: Antara Literasi Publik dan Tata Kelola Lembaga

Kebutuhan masyarakat akan respons cepat Di tengah isu-isu dan realita tentang birokrasi layanan publik yang kadang lambat, mosi tidak percaya, dan “zero emphathy” para pejabat yang akhir akhir ini banyak berstatement yang seperti tanpa filter, dan tak mengandung kaidah sensitifitas pada keadaan masyarakat yang sedang dilanda kesusahan, atau masih banyak jauh dari kesejahteraan, dengan segala urusan administratif yang berduit dan berbelit, maka respons damkar dikenal hadir cepat, tanpa basa-basi. Ini menjadi bargaining power dan pembeda penting yang membuat masyarakat tanpa pening, yang pertama akan dimintai tolong adalah petugas damkar. Dalam dunia kedaruratan yang kita kenal, kecepatan respons seringkali menjadi garis batas antara keselamatan dan celaka.

Contoh paling sederhana: warga yang terjebak di rumah karena banjir cenderung menelepon damkar lebih dulu ketimbang menunggu prosedur panjang dari lembaga lain. Bukan karena lembaga lain tidak kompeten, tapi karena damkar sudah dikenal “sat set”—datang cepat, kerja cepat, pulang tanpa banyak seremoni. Hmmm, seremoni dan terlebih pencitraan memang masih lekat dengan budaya baru kita, budaya yang konon mulai marak di tahun 2000an awal sampai saat ini. Dan generasi muda saat ini trends tentang pencitraan ada yang menyebutnya dengan FOMO, YOLO, ada juga istilah FOPO. Tapi kita tidak membahas lebih jauh tentang istilah-istilah anak muda tersebut, mungkin next time.

Damkar dan Kesehatan Lingkungan Saya secara pribadi mengapresiasi tugas damkar yang transformasi nya tidak hanya di job desk api, namun telah meluas pada berbagai permasalahan dan aduan unik yang ada di masyarakat, dan jika dipandang dari aspek dan paradigma bidang kesehatan lingkungan, keterlibatan damkar dalam berbagai kasus non-kebakaran sebagai bentuk dukungan tidak langsung terhadap kesehatan lingkungan dan masyarakat. Mengambil contoh penanganan ular masuk rumah, tentu tidak semua orang memiliki kemampuan, alat, atau terlebih kesiapan mental dalam mengevakuasi ular yang masuk ke plafon rumah, saluran air, dengan aman. Apalagi tidak terkecuali ular-ular yang masuk terkenal dengan daya killer yang tinggi, seperti ular cobra, sanca, phyton, dan sebagainya. Jika tidak ditangani dengan benar, bukan hanya luka fisik yang mengintai, akan tetapi juga trauma psikologis, bahkan risiko kematian. Kehadiran damkar di sini bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mencegah krisis kesehatan.

Begitu pula saat cincin logam menyangkut jari. Ini mungkin terdengar sepele, tapi bisa menjadi situasi medis serius apabila dibiarkan. Petugas damkar, dengan keahlian dan peralatan pemotong yang mereka miliki, menjadi penyelamat di luar fungsi tradisional mereka. Masyarakat butuh efisiensi untuk melanjutkan hidup, tak mau lagi berprosedur pada jalan panjang ini dan itu, apalagi menyangkut kedaruratan.

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

IKLAN

Masyarakat Butuh Solusi, Bukan Sekadar Prosedur Era modern menuntut layanan publik yang adaptif. Disamping transparan yang banyak didengunkan disana sini. Masyarakat tidak selalu tahu siapa yang harus dihubungi dalam situasi tertentu, tapi mereka tahu siapa yang bisa menyelesaikan masalah. Dan sejauh ini, petugas damkar telah membuktikan bahwa mereka dapat menjadi “first responders” dan cukup bisa diandalkan. Mungkin hal ini didasari oleh didikan mereka yang harus cepat tanggap dalam menghadapi kedaruratan. Istilah yang mereka sebut dengan segitiga api, jangan sampai salah satu unsur diberi kesempatan membuat api makin besar. Dan mereka mencoba tangap dalam mengimplementasi bantuan warga dengan segera, agar jangan sampai masalah yang dihadapi masyarakat semakin membesar karena tidak adanya penanganan yang segera. Mungkin prinsip itulah yang di internalisasi oleh para punggawa damkar.

Dari sini, ada pesan yang tersirat bahwa satu hal penting: kepercayaan publik bukan dibentuk dari seberapa lengkap regulasi dibuat, tapi dari seberapa nyata manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Di tengah banyaknya institusi yang terjebak dalam tumpukan birokrasi, damkar justru menembus sekat itu dan hadir sebagai penolong yang efisien dan bersahabat. Meneladani dan lebih jauh memberi solusi atas atensi masyarakat.

Saatnya Mendukung Transformasi Ini Kita patut mendorong transformasi ini untuk menjadi lebih terstruktur. Pemerintah daerah dan pusat perlu mengakui peran baru damkar ini dalam bentuk kebijakan yang mendukung: pelatihan lintas fungsi, mungkin penambahan anggaran tanpa takut efisiensi, hingga integrasi dengan sistem penanggulangan bencana, kesehatan masyarakat, dan atau kesehatan lingkungan.

Tak kalah penting, edukasi publik juga perlu diperkuat. Masyarakat harus tahu kapan dan bagaimana meminta bantuan yang tepat kepada damkar, agar sumber daya tetap efisien dan tidak disalahgunakan. Transformasi pemadam kebakaran menjadi penolong multitalenta adalah refleksi bahwa masyarakat butuh solusi praktis yang manusiawi dan cepat. Mereka percaya pada aksi nyata, bukan sekadar jargon. Masyarakat sudah lelah pada janji-janji yang kerap semakin riuh dan bergemuruh saat menggema di tahun-tahun politik. Serangannya bertubi-tubi untuk meraih empati dan kursi, meski kerap meninggalkan janji yang tak terealisasi ketika sudah menjadi delegasi.

kebakaran hutan di Kalimantan
Baca Juga

Hutan Kalimantan Terbakar: Bencana Alam atau Ada Campur Tangan Manusia?

Sebagai akademisi sekaligus warga, saya ikut menyuarakan apresiasi tinggi pada petugas damkar di seluruh Indonesia. Mereka bukan sekadar pemadam api. Mereka adalah garda depan ketenangan masyarakat—di kala api menyala, ular menyelinap, atau cincin tak mau lepas. Semoga mereka tetap membumi, dan selalu melakukan hal-hal positif, jauhi hal-hal yang menyangkut perilaku destruktif, dan yang terpenting tak lekas jumawa dengan pengakuan masyarakat yang bertubi-tubi. Bravo, petugas Damkar.

Purbalingga, 9 Oktober 2025

Septiono

*Penulis berprofesi sebagai dosen di salah satu PTN di Kota Satria, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis aktif di komunitas kepenulisan yang bernama IPAB (Ikatan Penulis Aktif Banyumas Raya), yang dulu bernama Ikatan Penulis Anyar Banyumas. Saat ini tinggal di Desa Babakan, Purbalingga, Jawa Tengah.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/petugas-damkar-menjadi-penolong-multitalenta/86705/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 18.33 WITA

  • #Opini Dosen
  • #Opini Mahasiswa
  • #Pemadam Api
  • #Petugas Damkar

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Pilihan Editor

  1. 1 Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta
  2. 2

    Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

  3. 3

    Biaya yang Tak Masuk Inflasi

  4. 4

    Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

  5. 5

    Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.