Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Cengkraman Kapitalisme Dalam Dunia Pendidikan

Cengkraman Kapitalisme Dalam Dunia Pendidikan

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
06 Oktober 2025, 23.24 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Cengkraman Kapitalisme

Penulis: Valensi Annora Syandana Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Dosen : Dr. Hj. Uchy Khadijah. M.Psi, Cht, CH, NNLP. Asdos : Ahmad Khoirudin, S.Ag. M.Psi.

JurnalPost.com - Pendidikan sejatinya merupakan sarana pembentukan moral, nilai, dan keadilan sosial. Namun di era kapitalisme global, pendidikan justru mengalami komersialisasi yang menajamkan ketimpangan sosial. Lalu apa jadinya bila pendidikan yang seharusnya non profit malah menjadi ladang bisnis. Pendidikan yang seharusnya menjadi hak setiap warga negara, malah terbatasi untuk mereka yang mampu saja, terlebih lagi ketimpangan dalam dunia pendidikan sangat terasa. Banyak sekolah SD, SMP, SMA diluar sana yang terjangkau atau bahkan gratis namun sayangnya kualitas pendidikan yang mereka dapatkan cukup buruk. Sehingga untuk mendapat Pendidikan dengan kualitas yang cukup layak seseorang harus mampu mencapai ekonomi yang cukup untuk membayarnya.

IKLAN

Mokshagundam Visvesvaraya pernah berkata “Progress in every country depends mainly on the education of its people. Without education, we are a nation of children …” Nelson Mandela juga pernah mengatakan hal serupa “No country can really develop unless its citizens are educated.” Hal ini menguatkan bahwa kesejahteraan suatu negara, masyarakat, atau kelompok bertanda dengan suatu SDM yang maju, dan Sumber Daya Manusia yang baik dapat diwujudkan dengan Pendidikan. Segala bentuk patologi sosial dapat diselesaikan melalui pendidikan. Penyimpangan moral, kenakalan remaja, kemiskinan, ketimpangan sosial, semua berakar dari lemahnya kesadaran dan nilai kemanusiaan, Karena Setiap penyakit sosial pada dasarnya berakar dari kebodohan dan kehilangan nilai kemanusiaan. Karena itu, pendidikan yang benar bukan sekadar mencerdaskan otak, tetapi juga menyembuhkan jiwa dan menata moral masyarakat.

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

Data menunjukkan bahwa biaya pendidikan di Indonesia terus mengalami kenaikan, yang berdampak pada inflasi. Pada Juli 2025, biaya sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan perguruan tinggi menjadi penyumbang utama inflasi. Biaya pendidikan di Papua Barat mencapai Rp 16,83 juta per peserta didik, menjadikannya provinsi dengan biaya pendidikan tertinggi di Indonesia. Di Jakarta, biaya pendidikan juga tinggi, namun berada di posisi ketiga. Komponen biaya pendidikan yang paling signifikan adalah uang saku, yang menyumbang hingga 55% dari total biaya pendidikan di jenjang pendidikan dasar.

IKLAN

Dengan harga Pendidikan yang terus meningkat setiap tahunya bagaimana mungkin Visi Indonesia Emas 2045 dapat terwujud, terlebih lagi dilansir dari Perpustakaan Bappenas 4 pilar visi Indonesia Emas 2045 nomor satunya adalah Pembangunan Manusia serta Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Meningkatkan kualitas manusia (pendidikan, kesehatan, kompetensi, inovasi) dan penguasaan teknologi sebagai modal daya saing. Namun sekarang 2025 biaya Pendidikan tidak menurun secara signifikan namun malah melonjak naik. Jika terus seperti ini Visi Indonesia Emas 2045 hanyalah mimpi. kesejahteraan, kemakmuran, kejayaan, kekayaan, hanya akan terus menerus dimiliki oleh segelintir orang yaitu orang kaya itu sendiri. Dalam dunia kapitalisme seseorang yang kaya akan semakin kaya dan mereka yang miskin akan semakin miskin dan hal ini diperkuat oleh data.

BPS (Badan Pusat Statistik) merilis bahwa kemiskinan menurun secara signifikan pertahunya, namun fakta dilapanganya di tahun 2025 ini banyak orang yang mengeluh kesulitan dalam ekonomi bahkan sering muncul trend di sosial media “in this economy we don’t do..” trend ini bertujuan menyindir bahwa kondisi ekonomi semakin sulit sehingga banyak yang merasa bahwa hal-hal yang dulu dianggap biasa atau terjangkau sekarang jadi “kemewahan” atau tidak mungkin dilakukan. Hal ini memperkuat bahwa fakta dilapangan menyatakan bahwa mereka yang semakin kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Data BPS yang menyatakan penurunan signifikan pada kemiskinan dapat terjadi karena penurunan kemiskinan versi BPS bersifat statistik, bukan fungsional. Artinya, meskipun secara data jumlah penduduk miskin menurun, tekanan ekonomi riil masyarakat justru meningkat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, termasuk biaya Pendidikan.

Dalam perspektif kritisisme pendidikan, Paulo Freire (1970) menyebut sistem pendidikan kapitalistik cenderung menjadikan manusia sebagai “objek produksi” bukan “subjek pembebasan.” Pendidikan dijalankan layaknya industri, di mana akses dan mutu ditentukan oleh kemampuan ekonomi, bukan oleh kebutuhan kemanusiaan. Dan hal ini terbukti nyata di Indonesia, seseorang Dalam kemiskinan dan kewajiban sekaligus hak dalam pendidikan masyaralat Indonesia tidak bisa melakukan banyak selain bersekolah pada sekolah yang mampu mereka biayai bukan sekolah yang mereka inginkan dengan kualitas yang seharusnya. Akibatnya mereka yang kaya mendapat Pendidikan lebih eksklusif dan layak sehingga membuat mereka keluar dari kebodohan lepas sekian persen dari patologi sosial dan membuatnya semakin kaya atau setidaknya tetap menjaga kekayaanya. Sementara mereka yang tidak memiliki cukup biaya memiliki kecil sekali kemungkinan untuk keluar dari patologi sosial.

kebakaran hutan di Kalimantan
Baca Juga

Hutan Kalimantan Terbakar: Bencana Alam atau Ada Campur Tangan Manusia?

Pendidikan sejatinya bukan sekadar ruang untuk mencerdaskan otak, melainkan sarana pembebasan manusia dari kebodohan, kemiskinan, dan ketimpangan. Namun, ketika kapitalisme mencengkeram dunia pendidikan, nilai kemanusiaan berubah menjadi komoditas, dan cita-cita keadilan sosial tergantikan oleh logika pasar. Sekolah dan universitas kini lebih banyak menilai kemampuan ekonomi daripada potensi diri, sehingga mereka yang miskin makin sulit mengakses pendidikan berkualitas, sementara yang kaya semakin mudah mempertahankan dominasinya. Data mungkin menunjukkan kemiskinan menurun, tetapi realitas di lapangan berkata lain: banyak masyarakat yang harus menunda mimpi karena biaya pendidikan yang terus melambung. Jika keadaan ini terus dibiarkan, maka pendidikan hanya akan menjadi alat reproduksi ketimpangan sosial, bukan jalan menuju kemajuan bangsa. Karena itu, jika Indonesia sungguh ingin mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045, maka langkah pertama yang harus diambil adalah membebaskan pendidikan dari cengkraman kapitalisme menjadikannya kembali sebagai hak dasar setiap manusia, bukan privilese bagi mereka yang mampu membayar.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/cengkraman-kapitalisme-dalam-dunia-pendidikan/86512/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.35 WITA

  • #Opini Mahasiswa

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

Pilihan Editor

  1. 1 Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3
  2. 2

    Keamanan Pangan pada Jajanan Kaki Lima: Tantangan Higiene dan Sanitasi dalam Pengolahan Makanan

  3. 3

    Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

  4. 4

    Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

  5. 5

    DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.