GUNUNGKIDUL, JurnalPost.com –Tim dosen Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY) menyelenggarakan pelatihan penguatan resiliensi usaha bagi 35 pelaku UMKM dari Padukuhan Kenteng dan Padukuhan Kepuh, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul.Kegiatan tersebut dilaksanakan di Balai Padukuhan Kenteng pada Sabtu, 27 Juni 2026.
Mengangkat tema “Penguatan Resiliensi UMKM melalui Entrepreneurial Mindset dan Akuntansi Berbasis Risiko pada UMKM di Kecamatan Semanu Kabupaten Gunungkidul”, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan pelaku UMKM dalam menghadapi perubahan pasar dan berbagai risiko bisnis.
Program pengabdian diketuai oleh Fitria Ningrum Sayekti, S.E., M.Acc., dengan anggota tim Prof. Sukirno, S.Pd., M.Si., Ph.D., C.P.M., S.M.A.C., Ch.M.A.; Dr. RR. Indah Mustikawati, S.E., M.Si., Ak., CA; serta Dr. R. Andro Zylio Nugraha, S.Ak., M.Acc. Kegiatan ini turut melibatkan empat mahasiswa, yaitu Khoirun Nisa, Yovi Martifah, Fadillah Yudan Pradana, dan Ari Nugroho.
Pelatihan disusun dalam empat materi yang saling terintegrasi, yaitu Pelatihan Entrepreneurial Mindset, Pendampingan Mitigasi Risiko, Penerapan Akuntansi Berbasis Risiko, dan Digitalisasi CRM (WhatsApp Business).
Materi pertama berupa Pelatihan Entrepreneurial Mindset yang memotivasi pelaku UMKM agar proaktif menangkap peluang bisnis dan berani mengambil keputusan strategis demi keberlanjutan usaha. Peserta juga dikenalkan dengan pendekatan effectuation, yaitu mengembangkan usaha dengan mengoptimalkan pengetahuan, pengalaman, jaringan, dan sumber daya yang telah dimiliki.
Melalui pola pikir tersebut, pelaku UMKM didorong agar tidak hanya berfokus pada keterbatasan modal. Mereka dapat memulai inovasi dari langkah kecil dan terukur, kemudian melakukan penyesuaian strategi sesuai perkembangan pasar dan kebutuhan konsumen.
Materi kedua adalah Pendampingan Mitigasi Risiko. Peserta diajak mengidentifikasi dan mengevaluasi berbagai potensi ancaman yang dapat memengaruhi keberlangsungan bisnis, baik dari aspek operasional, pasar, maupun finansial. Risiko tersebut antara lain kenaikan harga dan keterbatasan bahan baku, kerusakan peralatan, keamanan tempat usaha, piutang pelanggan, serta ketidaklancaran arus kas.
Melalui pemetaan risiko sederhana, peserta diarahkan untuk menentukan risiko prioritas, memperkirakan dampaknya, dan menyiapkan langkah pencegahan. Pelaku UMKM diharapkan tidak hanya bereaksi setelah masalah terjadi, tetapi mulai mempunyai rencana antisipasi untuk melindungi keberlanjutan usahanya.
Materi ketiga berupa Penerapan Akuntansi Berbasis Risiko. Pencatatan keuangan diperkenalkan sebagai sarana untuk mendeteksi masalah dan mencegah kerugian sejak dini. Peserta dilatih memisahkan uang pribadi dan uang usaha, mencatat pemasukan serta pengeluaran, memantau arus kas, dan menyediakan dana cadangan untuk menghadapi kebutuhan tidak terduga.
Pemisahan keuangan pribadi dan usaha diperlukan agar pelaku UMKM dapat mengetahui kondisi bisnis yang sebenarnya. Melalui pencatatan yang lebih tertib, pelaku usaha diharapkan mempunyai informasi yang lebih akurat untuk mengendalikan biaya, menghitung keuntungan, menjaga modal, dan mengambil keputusan bisnis secara lebih aman.
Materi keempat adalah Digitalisasi CRM (WhatsApp Business). Peserta memperoleh pendampingan mengenai pemanfaatan WhatsApp Business untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan pelanggan. Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan dapat mendukung pelayanan yang lebih efektif, teratur, dan responsif.
Peserta dikenalkan dengan fitur profil bisnis, katalog produk, label pelanggan, dan balasan otomatis. Fitur katalog dapat digunakan untuk menampilkan foto, informasi, dan harga produk, sedangkan fitur label membantu pelaku usaha mengelompokkan pelanggan atau pesanan berdasarkan status transaksi.
Ketua tim pengabdi, Fitria Ningrum Sayekti, menjelaskan bahwa ketangguhan UMKM tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk. Pelaku usaha juga perlu memiliki pola pikir adaptif, mampu mengenali risiko, disiplin mengelola keuangan, dan memanfaatkan teknologi untuk menjaga hubungan dengan pelanggan.
Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif melalui pemaparan materi, diskusi, simulasi, dan praktik. Peserta diarahkan untuk menghubungkan setiap materi dengan kondisi nyata yang mereka hadapi dalam menjalankan usaha sehari-hari. Mahasiswa turut mendampingi peserta dalam memahami pemetaan risiko, pencatatan keuangan, dan penggunaan fitur-fitur digital.
Untuk mengetahui pemahaman peserta, tim pengabdi melaksanakan evaluasi melalui pre-test dan post-test. Sebanyak 34 dari 35 peserta mengikuti kedua tahapan evaluasi tersebut.
Hasil post-test menunjukkan bahwa seluruh responden atau 100 persen memahami bahwa inovasi usaha dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Sebanyak 32 peserta atau 94,1 persen juga mampu menentukan tindakan yang tepat untuk mencegah risiko operasional di tempat usaha.
Pada aspek keuangan, sebanyak 33 peserta atau 97,1 persen memahami manfaat pencatatan pemasukan dan pengeluaran untuk mengetahui kondisi kas usaha serta mencegah kerugian sejak dini. Dalam jawaban uraian, 33 peserta menyampaikan rencana tindakan yang akan diterapkan setelah mengikuti pelatihan. Sebagian besar berencana memisahkan uang pribadi dan uang usaha dengan menggunakan dompet, wadah, atau rekening berbeda serta mencatat transaksi secara lebih teratur.
Evaluasi pada materi WhatsApp Business menunjukkan bahwa 21 peserta atau 61,8 persen telah mampu mengidentifikasi fitur label untuk mengelompokkan pelanggan berdasarkan status transaksi. Temuan tersebut menjadi masukan bagi tim pengabdi untuk memberikan penguatan lanjutan mengenai penggunaan fitur-fitur WhatsApp Business secara praktis.
Kegiatan ini dirancang tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan. Tim pengabdi merencanakan pendampingan dan evaluasi lanjutan untuk melihat penerapan pencatatan keuangan, pengelolaan risiko, serta penggunaan teknologi digital dalam kegiatan usaha peserta.
Melalui kolaborasi antara dosen, mahasiswa, pelaku UMKM, dan masyarakat setempat, kegiatan ini diharapkan dapat mendukung terbentuknya UMKM Kenteng dan Kepuh yang lebih adaptif, tertib dalam mengelola keuangan, tanggap terhadap risiko, dan mampu memanfaatkan teknologi digital secara berkelanjutan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda