Jombang, JurnalPost.com – Tim dosen dan mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional UPN Veteran Jawa Timur kembali melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Balai Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, pada Rabu (24/6). Kegiatan yang didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UPN Veteran Jawa Timur ini merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Mengusung tema "Trash to Treasure", kegiatan ini merupakan rangkaian pengabdian yang telah dilaksanakan sebanyak tiga kali sejak tahun 2025. Program tersebut dirancang secara bertahap agar masyarakat tidak hanya memahami pentingnya pengelolaan sampah, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi sumber manfaat ekonomi.
Pada pelaksanaan tahun 2025, tim pengabdian mengawali program dengan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari rumah, sekaligus mengedukasi warga agar tidak lagi membakar sampah maupun membuangnya ke sungai. Kegiatan tersebut menggandeng PT. Energi Agro Nusantara sebagai salah satu mitranya. Tahap berikutnya difokuskan pada pemanfaatan sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna lebih tinggi melalui berbagai kegiatan daur ulang dan pemanfaatan kembali limbah rumah tangga.
Memasuki tahun kedua pelaksanaan program, fokus kegiatan diarahkan pada pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF). Pelatihan menghadirkan narasumber, Bapak Umar Subhan Basri, pegiat budidaya maggot dari TPS3R Rejoagung, Jombang, yang telah berpengalaman mengembangkan sistem pengolahan sampah organik berbasis maggot.
Sekitar 15 orang bapak-bapak dari Dusun Jombatan mengikuti pelatihan yang berlangsung secara interaktif. Tidak hanya memperoleh materi, peserta juga diajak mempraktikkan secara langsung tahapan budidaya maggot mulai dari persiapan hingga proses panen.
Dalam praktik tersebut, peserta diperkenalkan dengan berbagai bahan dan peralatan yang dibutuhkan, mulai dari pemilihan lokasi yang teduh dengan sirkulasi udara yang baik, pembuatan kandang lalat menggunakan insect net, hingga penyediaan media bertelur menggunakan baskom.
Peserta kemudian mempelajari tahapan pemeliharaan maggot. Pada fase awal, bayi maggot diberi pakan berupa ampas tahu atau dedak halus selama sekitar 1-5 hari. Setelah memasuki fase pertumbuhan berikutnya (hari ke-6 hingga ke-15), pakan diganti menggunakan limbah dapur organik seperti sisa makanan, sayuran, buah yang mulai membusuk, ampas kelapa, maupun ampas kopi. Memasuki usia sekitar 15 hari, maggot telah siap dipanen untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang kaya protein.
Dalam pelatihan tersebut juga dijelaskan pentingnya menyisakan sekitar 10–20 persen maggot sebagai calon indukan. Maggot tersebut selanjutnya dipisahkan ke kandang lalat untuk melanjutkan siklus hidupnya menjadi prepupa, pupa, hingga berubah menjadi lalat BSF dalam waktu sekitar dua minggu. Setelah menjadi lalat dewasa, BSF tidak lagi mengonsumsi makanan, melainkan hanya meminum air, kawin, dan bertelur sebelum akhirnya mati. Dari telur inilah siklus budidaya kembali dimulai sehingga proses produksi dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Menurut Bapak Umar Subhan Basri, budidaya maggot menawarkan berbagai manfaat, terutama sebagai solusi pengelolaan sampah organik yang mampu menghasilkan produk bernilai ekonomis. Dengan modal yang relatif terjangkau, sekitar Rp100.000 hingga Rp200.000 untuk skala rumah tangga, masyarakat sudah dapat memulai usaha budidaya maggot. Selain itu, siklus budidayanya yang hanya memerlukan waktu sekitar 35–45 hari menjadikannya sangat potensial dikembangkan oleh masyarakat, khususnya rumah tangga yang memiliki usaha peternakan unggas maupun perikanan.
Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung. Warga Dusun Jombatan mengakui bahwa hingga saat ini mereka masih menghadapi kendala dalam pengelolaan sampah, baik organik maupun anorganik, sehingga pelatihan tersebut dinilai memberikan solusi yang aplikatif dan mudah diterapkan.
Dalam kesempatan tersebut, Bapak Umar berharap pelatihan ini dapat menjadi motivasi bagi masyarakat untuk mulai memilah dan mengelola sampah secara mandiri. Menurutnya, sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai justru dapat diolah menjadi sumber ekonomi baru bagi keluarga, sekaligus mengurangi volume sampah yang berakhir di lingkungan.

Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, tim pengabdian kepada masyarakat menyerahkan sejumlah hibah kepada masyarakat Desa Jombatan, berupa dua set perangkat budidaya maggot, tong sampah khusus botol untuk mendukung pengelolaan sampah anorganik, papan infografis mengenai tata cara pengelolaan sampah rumah tangga, serta desain industri sederhana berupa kursi berbahan dasar papan daur ulang sebagai contoh pemanfaatan limbah menjadi produk yang bernilai guna.
Salah satu dosen tim pengabdian masyarakat, Walda Okvi Juliana Ningsih, menyampaikan bahwa program Trash to Treasure tidak hanya bertujuan mengurangi permasalahan sampah di tingkat desa, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui pendekatan ekonomi sirkular. Menurutnya, kegiatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Tujuan 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penyediaan alternatif pakan ternak yang lebih terjangkau, Tujuan 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penciptaan peluang usaha baru, Tujuan 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat, Tujuan 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui pengurangan sampah organik yang berpotensi menghasilkan emisi gas rumah kaca, serta Tujuan 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, praktisi, dan masyarakat.
Melalui program pengabdian yang berkelanjutan ini, Program Studi Hubungan Internasional UPN Veteran Jawa Timur berharap masyarakat Desa Jombatan dapat semakin mandiri dalam mengelola sampah sekaligus mengembangkan potensi ekonomi berbasis lingkungan. Program Trash to Treasure diharapkan menjadi contoh bahwa permasalahan sampah dapat diubah menjadi peluang yang memberikan manfaat bagi lingkungan, masyarakat, dan pembangunan desa secara berkelanjutan.
Penulis: Januari Pratama Nurratri T., Sari Lustina Simanullang, dan Rahmadhanti Budi Purwanti
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda