Penulis: Anindya mahsa Mahasiswa Universitas Mercubuana Yogyakarta
JurnalPost.com - Rahma, seorang dosen muda di Universitas Mercu Buana Yogyakarta, menempuh perjalanan hidup yang tidak selalu terencana hingga akhirnya menemukan panggilan hatinya di dunia pendidikan tinggi.
Rahma memulai kisahnya dengan tawa ringan.
“Awalnya aku nggak pernah berpikir bakal jadi dosen,” ujarnya. Ia mengaku bukan tipe orang yang punya cita-cita tinggi atau ambisi besar sejak kecil. “Aku orangnya jalanin aja. Nggak punya cita-cita yang wah. Tapi di keluargaku, pendidikan itu penting banget,” kenangnya.
Ia tumbuh dalam keluarga yang menempatkan pendidikan sebagai hal utama, terutama karena ibunya menjadi teladan tentang bagaimana pendidikan dapat membuka jalan hidup.
“Sejak kecil, saya melihat bagaimana ibu memperjuangkan pendidikannya di masa ketika belum banyak perempuan kuliah tinggi. Dari beliau, saya belajar bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang,” ujar Rahma.
Masa SMP Rahma diwarnai pengalaman mondok di pesantren modern. Meskipun suasananya tidak sepenuhnya sesuai dengan dirinya, Rahma tetap bertahan berkat dukungan penuh orang tua yang rutin menjenguk setiap akhir pekan.
“Saya sempat merasa tidak cocok dengan kehidupan pondok, tapi perhatian orang tua membuat saya kuat menjalaninya sampai lulus,” kenangnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren, Rahma melanjutkan ke SMA Negeri dan menjalani kehidupan sebagai siswa biasa tanpa tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik. Ia menikmati masa remajanya dengan santai, sambil tetap menjaga semangat belajar.
Selepas SMA, orang tua memberi tantangan agar Rahma mencoba masuk universitas negeri. Meskipun belum berhasil, ia akhirnya kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengambil jurusan Komunikasi Penyiaran Islam. Masa kuliah menjadi titik penting dalam pembentukan dirinya di sana Rahma mulai mengenal kemandirian, aktif berorganisasi, dan belajar mengelola kebebasan yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.
“Kuliah di UIN membuka banyak hal untuk saya. Saya belajar mengenal diri sendiri dan menemukan bahwa belajar bukan sekadar mengejar nilai, tapi memahami makna dari setiap prosesnya,” ungkapnya.
Keinginannya untuk terus berkembang membawanya melanjutkan studi ke jenjang Magister di Universitas Gadjah Mada. Tantangan terbesar datang dari banyaknya referensi berbahasa Inggris yang harus dipahami. Namun, Rahma menjalaninya dengan tekun hingga akhirnya mampu menyesuaikan diri dan menyelesaikan studi dengan baik.
Setelah lulus S2, Rahma sempat bekerja sebagai freelancer sambil mencari arah karier yang sesuai. Kesadaran bahwa ia membutuhkan lingkungan kerja yang menantang mendorongnya untuk mencoba dunia akademik. Kesempatan datang ketika Universitas Mercu Buana Yogyakarta membuka rekrutmen dosen dan Rahma pun diterima.
“Saya ingin berada di lingkungan yang terus menantang pola pikir. Mengajar ternyata bukan hanya soal menyampaikan materi, tapi juga belajar bersama mahasiswa,” tuturnya.
Pada awal kariernya sebagai dosen, Rahma menghadapi masa penyesuaian mulai dari mencari strategi pembelajaran yang efektif hingga memahami karakter mahasiswa yang beragam. Dukungan dari rekan-rekan dosen membuat proses adaptasi tersebut lebih ringan. Dalam menghadapi tekanan pekerjaan, Rahma memilih untuk menjaga keseimbangan hidup.
“Kalau mulai lelah, saya biasanya memberi waktu untuk diri sendiri makan makanan favorit, olahraga ringan, atau sekadar beristirahat tanpa merasa bersalah,” katanya sambil tersenyum.
Bagi Rahma, menjadi dosen adalah perjalanan belajar dua arah. Ia menekankan pentingnya bagi mahasiswa untuk mengenali diri sendiri dalam proses akademik, memahami gaya belajar masing-masing, dan menjaga keseimbangan antara tugas dan istirahat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda