Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Pendidikan
  3. Peran Pendidik PGSD dalam Pendidikan Multikulturalisme

Peran Pendidik PGSD dalam Pendidikan Multikulturalisme

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
15 November 2022, 01.29 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Peran Pendidik PGSD dalam Pendidikan Multikulturalisme

Oleh: Alberth Supriyanto Manurung, S.Si., M.Pd

1 Dosen Universitas Esa Unggul 2 Mahasiswa Program Doktoral Universitas Negeri Jakarta

IKLAN

JurnalPost.com - Di pendidikan dasar, anak-anak dari latar belakang dan budaya yang berbeda berasimilasi satu sama lain, sehingga membentuk masyarakat multikultural. Masyarakat multikultural didefinisikan sebagai masyarakat di mana berbagai budaya berkembang. Oleh karena itu, masyarakat multikultural yang berlangsung di dalamnya terdiri dari berbagai cara hidup dan orientasi nilai yang berbeda dan beragam. Perbedaan atau keragaman budaya harus dilihat sebagai hal yang lumrah, sehingga dengan bijak mengakui identitas kelompok dan merangkul perbedaan budaya yang berkembang dalam masyarakat adalah suatu anugerah, kita harus menyadari dan memahami bahwa setiap masyarakat memiliki pengalaman, budaya, aspirasi dan aspirasi. Cita-cita -berbeda, harapan. Setiap masyarakat memiliki identitas diri yang dibangun melalui hubungan yang kompleks dan unik dari ras, suku, kelas sosial, bahasa, agama, jenis kelamin, kemampuan dan keterampilan, serta pengaruh budaya lainnya.

Foto Bersama
Baca Juga

UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

IKLAN

Pendidik SD ingin belajar tentang multikulturalisme karena ini akan sangat membantu pendidik mendapatkan pandangan holistik dari beragam latar belakang anak-anak dari segala jenis. Pemahaman ini akan membantu pendidik mengembangkan strategi pembelajaran yang adil untuk semua anak, terlepas dari latar belakang budaya, pribadi, etnis, gender, gender, atau sosial ekonomi mereka. Dengan demikian, pendidik dan anak-anak dapat hidup berdampingan secara efektif di dunia yang benar-benar multikultural. Pendidik sangat memperhatikan prioritas budaya yang berbeda dan interaksi antara budaya tersebut. Hal ini terlihat pada masyarakat yang mengutamakan individualisme, yang tentunya berbeda dengan masyarakat yang mengutamakan kolektivisme. Individualisme mengutamakan tujuan pribadi dan menekankan nilai memuaskan kebutuhan sendiri. Misalnya perasaan senang, perbedaan pribadi, prestasi, dan kemandirian. Kolektivisme menekankan nilai-nilai kelompok dengan mengabaikan tujuan individu dalam rangka menjaga integritas kelompok, saling ketergantungan dan hubungan yang harmonis antar anggota. Perbedaan fokus mempengaruhi bagaimana pendidik membuat pilihan dan menanamkan nilai dan norma pada peserta didik. Dengan demikian, pendidik dapat memahami tingkat perkembangan anak yang sama atau umum atau khusus dalam budaya tertentu.

Pendidik juga perlu memahami dampak perbedaan ras terhadap perkembangan dan interaksi setiap anak. Mengakui perbedaan ras merupakan aspek penting dalam mengembangkan kehidupan yang harmonis bagi anak-anak, terutama di negara yang beragam dan multikultural. Oleh karena itu, pendidik harus mengembangkan diri sebagai pendidik yang peduli terhadap keberagaman. Pendidik yang peduli terhadap keberagaman adalah mereka yang: (1) mendidik dengan berbagai cara yang membuat kelas menyenangkan, mengajar dengan cara khusus yang membuat setiap anak senang dan siap menerima informasi; (2) menghormati dan mencintai setiap anak; ( 3) Lebih memperhatikan, lebih banyak mendengarkan, lebih banyak bertanya, dan merangsang kreativitas anak; (4) Bersikap jujur, adil, mempercayai anak, dan mengatakan yang sebenarnya dengan cara yang tepat; (5) Sebagai teman, luangkan waktu untuk memastikan bahwa setiap anak menerima dan memahami informasi, yang membantu meningkatkan keterampilan dan pengalaman anak.

Pendidik merupakan pionir dalam pendidikan guru SD karena berinteraksi langsung dengan anak, termasuk orang tua dan masyarakat. Oleh karena itu, pendidik memegang peranan yang sangat penting dalam proses pendidikan multikultural. Di bawah ini adalah beberapa peran yang dimainkan pendidik SD dalam pendidikan multikultural. Pertama, pendidik bertindak sebagai teman sebaya. Pendidik harus dapat membantu dan membimbing anak agar menjadi pengembang yang berwawasan kebangsaan, manusia yang dapat hidup dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan cita-cita bangsa. Kedua, pendidik bertindak sebagai pengembang kurikulum. Pendidik harus mampu menerapkan dan mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak. Pendidik harus mampu merancang program pembelajaran, termasuk kegiatan yang disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan setiap anak. Ketiga, pendidik berperan sebagai komunikator, dan pendidik harus berkomunikasi, terutama untuk memperoleh informasi tentang anak. Pendidik perlu berkomunikasi dan membangun hubungan yang baik dengan anak. Dengan memahami situasi dan karakteristik anak, hal ini akan membantu dalam upaya menciptakan proses pendidikan yang optimal. Keempat, pendidik berperan sebagai motivator. Pendidik harus mendorong mereka untuk selalu menghargai perbedaan dan bangga dengan budaya mereka. Kelima, pendidik berperan sebagai panutan, sehingga harus menunjukkan perilaku keteladanan dalam menyikapi keragaman latar belakang anak. Agar pendidik dapat memenuhi kelima peran tersebut, profesionalisme pendidik perlu terus dikembangkan.

Kesimpulan Upaya penanaman pemahaman dan nilai multikultural dapat dilakukan melalui pembelajaran multikultural baik di pendidikan formal maupun nonformal. Salah satunya melalui pendidikan dasar, yang saya yakini dapat memainkan peran tertentu dalam membentuk karakter siswa sekolah dasar, menjadikan mereka anggota masyarakat dengan nasionalisme yang mengakar. Oleh karena itu, perlu dikembangkan desain pembelajaran multikultural dalam pelaksanaan program pendidikan dasar. Pembelajaran multikultural dirancang dengan memperhatikan kebutuhan kelompok sasaran khususnya dalam hal pengetahuan, dipadukan dengan pembinaan dan pengembangan perpaduan sikap yang menjunjung tinggi pemahaman dan nilai, kesatuan yang berbeda, bahkan perbedaan berdasarkan uraian yang diuraikan dalam pembahasan. dapat disatukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. (1) Multikulturalisme berkaitan dengan internalisasi penerimaan keragaman lingkungan, sehingga kelak anak tumbuh dalam perbedaan, menerima dan menghargai keragaman, serta berlaku adil terhadap orang lain. (2) Pendidik perlu memiliki dua hal penting, yaitu multikulturalisme dan profesionalisme. Keduanya membantu pendidik mengembangkan rencana pembelajaran yang tepat untuk anak-anak dengan menghormati perbedaan atau keragaman. (3) Pendidik dapat mengembangkan program pembelajaran dan kurikulum yang berwawasan budaya dengan bekerja sama dengan anak, pendidik sebaya PGSD, orang tua, dan organisasi masyarakat atau masyarakat. (4) Pendidikan anak usia dini multikultural telah membentuk kemampuan sosial anak dalam masyarakat multikultural, dan dapat menganggap keragaman sebagai aset. terima kasih

Hima Care
Baca Juga

Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/peran-pendidik-pgsd-dalam-pendidikan-multikulturalisme/39187/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 06.43 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Mengenal Dasar Hukum Pemerintahan Nagari di Sumatera Barat, dari Warisan Adat hingga Tantangan Penerapannya

Pilihan Editor

  1. 1 Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan
  2. 2

    Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  3. 3

    Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

  4. 4

    Kepemimpinan yang Menanam Masa Depan: Ketika Pendidikan Menjadi Kunci Ketahanan Pangan Jawa Timur

  5. 5

    Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.