Oleh: Alberth Supriyanto Manurung, S.Si., M.Pd
1 Dosen Universitas Esa Unggul 2 Mahasiswa Program Doktoral Universitas Negeri Jakarta
JurnalPost.com - Di pendidikan dasar, anak-anak dari latar belakang dan budaya yang berbeda berasimilasi satu sama lain, sehingga membentuk masyarakat multikultural. Masyarakat multikultural didefinisikan sebagai masyarakat di mana berbagai budaya berkembang. Oleh karena itu, masyarakat multikultural yang berlangsung di dalamnya terdiri dari berbagai cara hidup dan orientasi nilai yang berbeda dan beragam. Perbedaan atau keragaman budaya harus dilihat sebagai hal yang lumrah, sehingga dengan bijak mengakui identitas kelompok dan merangkul perbedaan budaya yang berkembang dalam masyarakat adalah suatu anugerah, kita harus menyadari dan memahami bahwa setiap masyarakat memiliki pengalaman, budaya, aspirasi dan aspirasi. Cita-cita -berbeda, harapan. Setiap masyarakat memiliki identitas diri yang dibangun melalui hubungan yang kompleks dan unik dari ras, suku, kelas sosial, bahasa, agama, jenis kelamin, kemampuan dan keterampilan, serta pengaruh budaya lainnya.
Pendidik SD ingin belajar tentang multikulturalisme karena ini akan sangat membantu pendidik mendapatkan pandangan holistik dari beragam latar belakang anak-anak dari segala jenis. Pemahaman ini akan membantu pendidik mengembangkan strategi pembelajaran yang adil untuk semua anak, terlepas dari latar belakang budaya, pribadi, etnis, gender, gender, atau sosial ekonomi mereka. Dengan demikian, pendidik dan anak-anak dapat hidup berdampingan secara efektif di dunia yang benar-benar multikultural. Pendidik sangat memperhatikan prioritas budaya yang berbeda dan interaksi antara budaya tersebut. Hal ini terlihat pada masyarakat yang mengutamakan individualisme, yang tentunya berbeda dengan masyarakat yang mengutamakan kolektivisme. Individualisme mengutamakan tujuan pribadi dan menekankan nilai memuaskan kebutuhan sendiri. Misalnya perasaan senang, perbedaan pribadi, prestasi, dan kemandirian. Kolektivisme menekankan nilai-nilai kelompok dengan mengabaikan tujuan individu dalam rangka menjaga integritas kelompok, saling ketergantungan dan hubungan yang harmonis antar anggota. Perbedaan fokus mempengaruhi bagaimana pendidik membuat pilihan dan menanamkan nilai dan norma pada peserta didik. Dengan demikian, pendidik dapat memahami tingkat perkembangan anak yang sama atau umum atau khusus dalam budaya tertentu.
Pendidik juga perlu memahami dampak perbedaan ras terhadap perkembangan dan interaksi setiap anak. Mengakui perbedaan ras merupakan aspek penting dalam mengembangkan kehidupan yang harmonis bagi anak-anak, terutama di negara yang beragam dan multikultural. Oleh karena itu, pendidik harus mengembangkan diri sebagai pendidik yang peduli terhadap keberagaman. Pendidik yang peduli terhadap keberagaman adalah mereka yang: (1) mendidik dengan berbagai cara yang membuat kelas menyenangkan, mengajar dengan cara khusus yang membuat setiap anak senang dan siap menerima informasi; (2) menghormati dan mencintai setiap anak; ( 3) Lebih memperhatikan, lebih banyak mendengarkan, lebih banyak bertanya, dan merangsang kreativitas anak; (4) Bersikap jujur, adil, mempercayai anak, dan mengatakan yang sebenarnya dengan cara yang tepat; (5) Sebagai teman, luangkan waktu untuk memastikan bahwa setiap anak menerima dan memahami informasi, yang membantu meningkatkan keterampilan dan pengalaman anak.
Pendidik merupakan pionir dalam pendidikan guru SD karena berinteraksi langsung dengan anak, termasuk orang tua dan masyarakat. Oleh karena itu, pendidik memegang peranan yang sangat penting dalam proses pendidikan multikultural. Di bawah ini adalah beberapa peran yang dimainkan pendidik SD dalam pendidikan multikultural. Pertama, pendidik bertindak sebagai teman sebaya. Pendidik harus dapat membantu dan membimbing anak agar menjadi pengembang yang berwawasan kebangsaan, manusia yang dapat hidup dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan cita-cita bangsa. Kedua, pendidik bertindak sebagai pengembang kurikulum. Pendidik harus mampu menerapkan dan mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak. Pendidik harus mampu merancang program pembelajaran, termasuk kegiatan yang disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan setiap anak. Ketiga, pendidik berperan sebagai komunikator, dan pendidik harus berkomunikasi, terutama untuk memperoleh informasi tentang anak. Pendidik perlu berkomunikasi dan membangun hubungan yang baik dengan anak. Dengan memahami situasi dan karakteristik anak, hal ini akan membantu dalam upaya menciptakan proses pendidikan yang optimal. Keempat, pendidik berperan sebagai motivator. Pendidik harus mendorong mereka untuk selalu menghargai perbedaan dan bangga dengan budaya mereka. Kelima, pendidik berperan sebagai panutan, sehingga harus menunjukkan perilaku keteladanan dalam menyikapi keragaman latar belakang anak. Agar pendidik dapat memenuhi kelima peran tersebut, profesionalisme pendidik perlu terus dikembangkan.
Kesimpulan Upaya penanaman pemahaman dan nilai multikultural dapat dilakukan melalui pembelajaran multikultural baik di pendidikan formal maupun nonformal. Salah satunya melalui pendidikan dasar, yang saya yakini dapat memainkan peran tertentu dalam membentuk karakter siswa sekolah dasar, menjadikan mereka anggota masyarakat dengan nasionalisme yang mengakar. Oleh karena itu, perlu dikembangkan desain pembelajaran multikultural dalam pelaksanaan program pendidikan dasar. Pembelajaran multikultural dirancang dengan memperhatikan kebutuhan kelompok sasaran khususnya dalam hal pengetahuan, dipadukan dengan pembinaan dan pengembangan perpaduan sikap yang menjunjung tinggi pemahaman dan nilai, kesatuan yang berbeda, bahkan perbedaan berdasarkan uraian yang diuraikan dalam pembahasan. dapat disatukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. (1) Multikulturalisme berkaitan dengan internalisasi penerimaan keragaman lingkungan, sehingga kelak anak tumbuh dalam perbedaan, menerima dan menghargai keragaman, serta berlaku adil terhadap orang lain. (2) Pendidik perlu memiliki dua hal penting, yaitu multikulturalisme dan profesionalisme. Keduanya membantu pendidik mengembangkan rencana pembelajaran yang tepat untuk anak-anak dengan menghormati perbedaan atau keragaman. (3) Pendidik dapat mengembangkan program pembelajaran dan kurikulum yang berwawasan budaya dengan bekerja sama dengan anak, pendidik sebaya PGSD, orang tua, dan organisasi masyarakat atau masyarakat. (4) Pendidikan anak usia dini multikultural telah membentuk kemampuan sosial anak dalam masyarakat multikultural, dan dapat menganggap keragaman sebagai aset. terima kasih
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda