Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Cerita yang TerNARAsi dalam Potongan yang Menyambungkan

  2. Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  3. Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  4. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  5. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Kepemimpinan yang Menanam Masa Depan: Ketika Pendidikan Menjadi Kunci Ketahanan Pangan Jawa Timur

Kepemimpinan yang Menanam Masa Depan: Ketika Pendidikan Menjadi Kunci Ketahanan Pangan Jawa Timur

M
Penulis: Mayada Putri Balqis
02 November 2026, 01.49 WITA Editor: Danang Purnama
6 menit baca
Mayada Putri Balqis
Sumber foto Dokumentasi Penulis

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang

JurnalPost.com - 

IKLAN

Kepemimpinan tidak selalu harus ditunjukkan melalui pembangunan gedung megah, peresmian infrastruktur, atau banyaknya penghargaan yang diterima pemerintah. Ada bentuk kepemimpinan yang dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi menentukan masa depan masyarakat dalam jangka panjang, yaitu kepemimpinan yang berani berinvestasi pada pendidikan dan kemampuan generasi muda. Dalam konteks pembangunan daerah, pemimpin tidak cukup hanya menyelesaikan persoalan hari ini. Ia juga harus mempersiapkan masyarakat agar mampu menghadapi tantangan di masa depan.

Salah satu contoh yang menarik untuk dibahas adalah kepemimpinan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Pada masa kepemimpinannya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendorong berbagai program pembangunan, termasuk penguatan pendidikan dan ketahanan pangan. Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP), yang mengajak lingkungan sekolah untuk terlibat dalam kegiatan budidaya dan pengembangan pangan. Program ini menarik karena menempatkan sekolah bukan hanya sebagai tempat memperoleh pengetahuan, melainkan juga sebagai ruang untuk membangun kemandirian dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

Berdasarkan pemberitaan ANTARA pada 28 Oktober 2026, Program SIKAP telah diterapkan di 1.548 sekolah di Jawa Timur. Melalui program tersebut, sekolah didorong memanfaatkan lahan yang tersedia untuk kegiatan budidaya sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing. Program ini juga mengantarkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperoleh penghargaan kategori Innovation for Public Service dalam ajang Inovasi Membangun Negeri 2026. Capaian tersebut menunjukkan adanya upaya pemerintah daerah untuk menghadirkan inovasi yang menghubungkan pendidikan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Namun, menurut saya, keberhasilan program seperti SIKAP seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah sekolah yang berpartisipasi atau penghargaan yang diperoleh. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah program tersebut benar-benar memberikan perubahan terhadap pola pikir, keterampilan, dan kemandirian peserta didik. Apakah siswa hanya diminta menanam dan merawat tanaman sebagai kegiatan tambahan, atau mereka juga diajak memahami proses produksi pangan, pengelolaan sumber daya, kewirausahaan, hingga persoalan ketahanan pangan di lingkungan sekitarnya?

Di sinilah kualitas kepemimpinan seorang kepala daerah diuji. Seorang pemimpin perlu memiliki kemampuan melihat hubungan antara berbagai persoalan yang sering dianggap terpisah. Pendidikan, kemiskinan, pengangguran, dan ketahanan pangan sebenarnya saling berkaitan. Pendidikan yang baik dapat meningkatkan keterampilan masyarakat. Keterampilan tersebut dapat membuka kesempatan kerja dan usaha. Pada akhirnya, peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat dapat membantu mengurangi kerentanan terhadap kemiskinan.

Tantangan tersebut masih relevan bagi Jawa Timur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur yang dirilis pada 5 Agustus 2026, persentase penduduk miskin pada Maret 2026 tercatat sebesar 9,06 persen atau sekitar 3,712 juta orang. Angka tersebut menurun dibandingkan September 2025, tetapi jumlah penduduk yang masih hidup dalam kemiskinan menunjukkan bahwa pekerjaan pemerintah belum selesai. Penurunan angka kemiskinan patut diapresiasi, tetapi angka tersebut juga menjadi pengingat bahwa pembangunan harus terus diarahkan kepada masyarakat yang paling membutuhkan.

IKLAN

Selain itu, perekonomian Jawa Timur pada triwulan II 2026 tumbuh sebesar 5,72 persen secara tahunan berdasarkan data BPS. Pertumbuhan ini merupakan perkembangan positif. Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti seluruh masyarakat menikmati peningkatan kesejahteraan dengan tingkat yang sama. Sebagian masyarakat mungkin telah merasakan peluang ekonomi yang lebih baik, sementara kelompok lain masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan, pekerjaan, modal, dan pelayanan dasar. Karena itu, pemimpin daerah harus mampu memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya terlihat dalam laporan statistik, tetapi juga dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya memandang Khofifah memiliki peluang untuk menunjukkan model kepemimpinan yang lebih berorientasi pada pembangunan manusia. Program SIKAP dapat menjadi langkah awal yang baik karena mengajarkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya urusan pemerintah atau petani, melainkan tanggung jawab bersama. Anak-anak sekolah dapat diperkenalkan pada pentingnya produksi pangan, pemanfaatan lahan, pengelolaan lingkungan, dan pola konsumsi yang bijak. Jika dilaksanakan secara konsisten, kegiatan tersebut berpotensi membangun generasi yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis.

Meskipun demikian, program pendidikan berbasis ketahanan pangan tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pemerintah perlu memastikan tersedianya pendampingan bagi sekolah, dukungan sarana yang memadai, keterlibatan guru, serta evaluasi yang jelas. Sekolah di wilayah perkotaan tentu memiliki kondisi yang berbeda dengan sekolah di pedesaan. Ada sekolah yang memiliki lahan luas, tetapi ada pula yang memiliki keterbatasan ruang. Oleh sebab itu, kebijakan yang baik harus memberikan ruang penyesuaian, bukan memaksakan satu bentuk pelaksanaan yang sama kepada seluruh sekolah.

Selain evaluasi program, kepemimpinan yang efektif juga membutuhkan keterbukaan terhadap kritik. Pemerintah tidak seharusnya hanya menampilkan keberhasilan, tetapi juga berani menjelaskan kendala yang dihadapi dan langkah perbaikannya. Masyarakat perlu mengetahui bagaimana anggaran digunakan, bagaimana keberlanjutan program dijaga, serta apa manfaat yang benar-benar dihasilkan. Transparansi bukanlah tanda kelemahan pemerintah. Sebaliknya, keterbukaan merupakan bentuk tanggung jawab seorang pemimpin kepada masyarakat yang telah memberikan kepercayaan kepadanya.

Menurut saya, terdapat tiga hal yang perlu diperkuat dalam kepemimpinan Khofifah ke depan. Pertama, memastikan setiap program memiliki target yang terukur dan hasil yang dapat dievaluasi. Kedua, memperluas pemerataan manfaat agar sekolah dan masyarakat di wilayah yang memiliki keterbatasan tidak tertinggal. Ketiga, membangun kolaborasi antara pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, petani, dan masyarakat. Pemerintah tidak harus mengerjakan seluruh persoalan sendirian, tetapi harus mampu mengarahkan berbagai pihak untuk bergerak menuju tujuan yang sama.

Pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya tentang seberapa banyak program yang berhasil diluncurkan, melainkan seberapa besar perubahan yang dapat diwariskan. Seorang pemimpin yang baik tidak sekadar berusaha membuat masyarakat mengingat masa jabatannya, tetapi memastikan masyarakat memiliki kemampuan untuk melanjutkan kemajuan setelah masa kepemimpinannya berakhir.

Kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa di Jawa Timur akan semakin bermakna apabila pendidikan benar-benar menjadi jalan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat. Program seperti Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan merupakan gagasan yang patut diapresiasi, tetapi keberhasilannya harus dibuktikan melalui dampak yang berkelanjutan. Sebab, masa depan daerah tidak hanya ditentukan oleh apa yang dibangun pemerintah hari ini, tetapi juga oleh kualitas manusia yang dipersiapkan untuk memimpin hari esok. Pemimpin yang hebat bukan hanya meninggalkan pembangunan yang dapat dilihat, melainkan juga menumbuhkan kemampuan yang dapat diwariskan.


Identitas Penulis

Nama: Mayada Putri Balqis
NIM: 202510050110066
Program Studi: Ilmu Pemerintahan
Fakultas: Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Perguruan Tinggi: Universitas Muhammadiyah Malang

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/kepemimpinan-yang-menanam-masa-depan-ketika-pendidikan-menjadi-kunci-ketahanan-pangan-jawa-timur/98473/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 01.28 WITA

  • #Badan Gizi Nasional
  • #Evaluasi Program
  • #Makan Bergizi Gratis
  • #Universitas Muhammadiyah Malang
  • #keamanan pangan
  • #kebijakan publik
  • #kesehatan anak
  • #stunting

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Pilihan Editor

  1. 1 Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso
  2. 2

    Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

  3. 3

    HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

  4. 4

    Pasar.id BRI Bojonegoro Hadirkan Peluang Penghasilan Tambahan bagi Pengemudi Ojek Lokal

  5. 5

    Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.