Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang
JurnalPost.com -
Kepemimpinan tidak selalu harus ditunjukkan melalui pembangunan gedung megah, peresmian infrastruktur, atau banyaknya penghargaan yang diterima pemerintah. Ada bentuk kepemimpinan yang dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi menentukan masa depan masyarakat dalam jangka panjang, yaitu kepemimpinan yang berani berinvestasi pada pendidikan dan kemampuan generasi muda. Dalam konteks pembangunan daerah, pemimpin tidak cukup hanya menyelesaikan persoalan hari ini. Ia juga harus mempersiapkan masyarakat agar mampu menghadapi tantangan di masa depan.
Salah satu contoh yang menarik untuk dibahas adalah kepemimpinan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Pada masa kepemimpinannya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendorong berbagai program pembangunan, termasuk penguatan pendidikan dan ketahanan pangan. Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP), yang mengajak lingkungan sekolah untuk terlibat dalam kegiatan budidaya dan pengembangan pangan. Program ini menarik karena menempatkan sekolah bukan hanya sebagai tempat memperoleh pengetahuan, melainkan juga sebagai ruang untuk membangun kemandirian dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Berdasarkan pemberitaan ANTARA pada 28 Oktober 2026, Program SIKAP telah diterapkan di 1.548 sekolah di Jawa Timur. Melalui program tersebut, sekolah didorong memanfaatkan lahan yang tersedia untuk kegiatan budidaya sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing. Program ini juga mengantarkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperoleh penghargaan kategori Innovation for Public Service dalam ajang Inovasi Membangun Negeri 2026. Capaian tersebut menunjukkan adanya upaya pemerintah daerah untuk menghadirkan inovasi yang menghubungkan pendidikan dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Namun, menurut saya, keberhasilan program seperti SIKAP seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah sekolah yang berpartisipasi atau penghargaan yang diperoleh. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah program tersebut benar-benar memberikan perubahan terhadap pola pikir, keterampilan, dan kemandirian peserta didik. Apakah siswa hanya diminta menanam dan merawat tanaman sebagai kegiatan tambahan, atau mereka juga diajak memahami proses produksi pangan, pengelolaan sumber daya, kewirausahaan, hingga persoalan ketahanan pangan di lingkungan sekitarnya?
Di sinilah kualitas kepemimpinan seorang kepala daerah diuji. Seorang pemimpin perlu memiliki kemampuan melihat hubungan antara berbagai persoalan yang sering dianggap terpisah. Pendidikan, kemiskinan, pengangguran, dan ketahanan pangan sebenarnya saling berkaitan. Pendidikan yang baik dapat meningkatkan keterampilan masyarakat. Keterampilan tersebut dapat membuka kesempatan kerja dan usaha. Pada akhirnya, peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat dapat membantu mengurangi kerentanan terhadap kemiskinan.
Tantangan tersebut masih relevan bagi Jawa Timur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur yang dirilis pada 5 Agustus 2026, persentase penduduk miskin pada Maret 2026 tercatat sebesar 9,06 persen atau sekitar 3,712 juta orang. Angka tersebut menurun dibandingkan September 2025, tetapi jumlah penduduk yang masih hidup dalam kemiskinan menunjukkan bahwa pekerjaan pemerintah belum selesai. Penurunan angka kemiskinan patut diapresiasi, tetapi angka tersebut juga menjadi pengingat bahwa pembangunan harus terus diarahkan kepada masyarakat yang paling membutuhkan.
Selain itu, perekonomian Jawa Timur pada triwulan II 2026 tumbuh sebesar 5,72 persen secara tahunan berdasarkan data BPS. Pertumbuhan ini merupakan perkembangan positif. Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti seluruh masyarakat menikmati peningkatan kesejahteraan dengan tingkat yang sama. Sebagian masyarakat mungkin telah merasakan peluang ekonomi yang lebih baik, sementara kelompok lain masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan, pekerjaan, modal, dan pelayanan dasar. Karena itu, pemimpin daerah harus mampu memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya terlihat dalam laporan statistik, tetapi juga dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Saya memandang Khofifah memiliki peluang untuk menunjukkan model kepemimpinan yang lebih berorientasi pada pembangunan manusia. Program SIKAP dapat menjadi langkah awal yang baik karena mengajarkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya urusan pemerintah atau petani, melainkan tanggung jawab bersama. Anak-anak sekolah dapat diperkenalkan pada pentingnya produksi pangan, pemanfaatan lahan, pengelolaan lingkungan, dan pola konsumsi yang bijak. Jika dilaksanakan secara konsisten, kegiatan tersebut berpotensi membangun generasi yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis.
Meskipun demikian, program pendidikan berbasis ketahanan pangan tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pemerintah perlu memastikan tersedianya pendampingan bagi sekolah, dukungan sarana yang memadai, keterlibatan guru, serta evaluasi yang jelas. Sekolah di wilayah perkotaan tentu memiliki kondisi yang berbeda dengan sekolah di pedesaan. Ada sekolah yang memiliki lahan luas, tetapi ada pula yang memiliki keterbatasan ruang. Oleh sebab itu, kebijakan yang baik harus memberikan ruang penyesuaian, bukan memaksakan satu bentuk pelaksanaan yang sama kepada seluruh sekolah.
Selain evaluasi program, kepemimpinan yang efektif juga membutuhkan keterbukaan terhadap kritik. Pemerintah tidak seharusnya hanya menampilkan keberhasilan, tetapi juga berani menjelaskan kendala yang dihadapi dan langkah perbaikannya. Masyarakat perlu mengetahui bagaimana anggaran digunakan, bagaimana keberlanjutan program dijaga, serta apa manfaat yang benar-benar dihasilkan. Transparansi bukanlah tanda kelemahan pemerintah. Sebaliknya, keterbukaan merupakan bentuk tanggung jawab seorang pemimpin kepada masyarakat yang telah memberikan kepercayaan kepadanya.
Menurut saya, terdapat tiga hal yang perlu diperkuat dalam kepemimpinan Khofifah ke depan. Pertama, memastikan setiap program memiliki target yang terukur dan hasil yang dapat dievaluasi. Kedua, memperluas pemerataan manfaat agar sekolah dan masyarakat di wilayah yang memiliki keterbatasan tidak tertinggal. Ketiga, membangun kolaborasi antara pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, petani, dan masyarakat. Pemerintah tidak harus mengerjakan seluruh persoalan sendirian, tetapi harus mampu mengarahkan berbagai pihak untuk bergerak menuju tujuan yang sama.
Pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya tentang seberapa banyak program yang berhasil diluncurkan, melainkan seberapa besar perubahan yang dapat diwariskan. Seorang pemimpin yang baik tidak sekadar berusaha membuat masyarakat mengingat masa jabatannya, tetapi memastikan masyarakat memiliki kemampuan untuk melanjutkan kemajuan setelah masa kepemimpinannya berakhir.
Kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa di Jawa Timur akan semakin bermakna apabila pendidikan benar-benar menjadi jalan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat. Program seperti Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan merupakan gagasan yang patut diapresiasi, tetapi keberhasilannya harus dibuktikan melalui dampak yang berkelanjutan. Sebab, masa depan daerah tidak hanya ditentukan oleh apa yang dibangun pemerintah hari ini, tetapi juga oleh kualitas manusia yang dipersiapkan untuk memimpin hari esok. Pemimpin yang hebat bukan hanya meninggalkan pembangunan yang dapat dilihat, melainkan juga menumbuhkan kemampuan yang dapat diwariskan.
Identitas Penulis
Nama: Mayada Putri Balqis
NIM: 202510050110066
Program Studi: Ilmu Pemerintahan
Fakultas: Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Perguruan Tinggi: Universitas Muhammadiyah Malang
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda