Oleh: Anna Abellina Matulessy, Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta
JurnalPost.com - Dalam beberapa tahun belakang, gadget sudah menjadi barang primer yang wajib dimiliki oleh setiap orang, bahkan anak-anak. Anak sekolah dasar bahkan sudah memiliki gadget pribadi yang selalu ada di tangannya setiap saat. Hal tersebut bukanlah kondisi satu atau dua orang anak saja, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan jumlah pengguna gadget anak usia dini menyentuh angka 33,44%.
Pengguna aktif anak usia 0-4 tahun sebanyak 25,5% dan 52,76% anak berusia 5-6 tahun. Ditambah lagi jika merujuk survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia, lebih dari 71,3% anak usia sekolah memiliki gadget dan memainkannya dengan porsi waktu yang lama. Kebanyakan anak diperbolehkan menggunakan gadget selain untuk belajar.
Fenomena kecanduan gadget pada anak semakin melonjak dan signifikan setiap harinya. Hal itu melahirkan beberapa dampak buruk bagi anak, diantaranya gangguan tidur, timbul sifat agresif, memicu keterlambatan kognitif, hingga kesulitan memahami pembelajaran atau informasi.
Fenomena di atas tergambarkan jelas pada Buku Panggung Ajaib karya Helvy Tiana Rosa, buku tersebut berisikan kumpulan naskah sastra anak. Secara garis besar, buku ini membahas terkait dinamika kehidupan sehari-hari dari sudut pandang anak yang berkelindan dengan dunia imajinasi, pertualangan, dan interaksi sosial si anak.
Lebih lanjut, Helvy mencoba memotret proses pembentukan karakter dan moralitas melalui kacamata dunia anak yang jujur dan apa adanya. Melalui interaksi tokoh-tokoh anak, buku ini menangkap esensi dari nilai keberanian, empati, persahabatan. serta nilai-nilai spiritualitas yang disisipkan melalui cara anak-anak dalam memandang dan menyelesaikan sebuah permasalahan.
Salah satu naskah yang membahas terkait fenomena kecanduan gadget, terdapat di Monolog Satu dengan judul Misi Rahasia di Perpustakaan. Dikisahkan seorang anak perempuan bernama Nayla yang dipergoki oleh gurunya sedang memainkan gadget di ruang kelas saat pembelajaran berlangsung.
Akibat kesalahannya, Nayla dihukum untuk merefleksikan kesalahannya di perpustakaan sekolahnya. Awalnya Nayla merasa sangat tidak betah berada di perpustakaan, Ia merasa bosan dan tidak tahu harus menghabiskan waktunya untuk apa. Di tengah kebosanannya, Nayla dikejutkan oleh pancaran cahaya dan dentuman buku jatuh.
Saat ingin mengambil bukunya, secara mengejutkan buku itu bisa berbicara dan mengajak Nayla untuk membaca si buku. Nayla awalnya terpaksa untuk membaca, halaman demi halaman Nayla justru menemukan rasa nyaman dan timbul rasa penasaran. Setelah hari itu, Nayla terus pergi ke perpustakaan untuk menuntaskan rasa penasarannya dengan terus membaca buku.
Monolog "Misi Rahasia di Perpustakaan" secara cerdik membedah fase transisi psikologis anak yang tengah mengalami ketergantungan gawai. Kebosanan dan kegelisahan yang mendera Nayla pada awal masa hukumannya merupakan representasi nyata dari penarikan dopamin (dopamine withdrawal).
Anak-anak yang terbiasa dengan stimulasi visual bergerak yang instan dan cepat dari layar gawai kerap mengalami disonansi kognitif ketika dihadapkan pada ruang fisik yang hening, lambat, dan menuntut rentang perhatian yang panjang seperti perpustakaan. Pada titik mula ini, perpustakaan diposisikan sebagai ruang hukuman, sebuah institusi pendisiplinan yang membatasi kebebasan sang anak. Namun, Helvy Tiana Rosa secara perlahan mendekonstruksi fungsi ruang tersebut melalui intervensi imajinasi.
Jika ditelaah melalui kacamata teori sastra anak yang beririsan dengan psikologi perkembangan kognitif—terutama berpijak pada tahap operasional konkret dari Jean Piaget—anak usia sekolah dasar memang mulai berpikir logis, namun mereka masih sangat reseptif terhadap elemen magis dan pemikiran animisme. Kehadiran fantasi berupa "buku yang bisa berbicara" merengkuh pola pikir tersebut dengan sangat presisi. Benda mati yang dipersonifikasi ini bertindak sebagai medium jembatan yang halus.
Alih-alih menggunakan tokoh guru atau sosok otoritas orang dewasa untuk menceramahi Nayla—yang berpotensi membuat narasi menjadi terlalu didaktis, kaku, dan menggurui—Helvy justru memilih buku itu sendiri sebagai subjek pedagogis. Buku ajaib tersebut tidak menghakimi kesalahan Nayla, melainkan memancing insting alami anak untuk bereksplorasi dan memenuhi rasa ingin tahunya.
Lebih dari sekadar resolusi atas masalah kecanduan gawai, transformasi sikap Nayla memperlihatkan proses perkembangan sosio-emosional yang esensial dalam pertumbuhan anak. Dalam kajian sastra anak, teks seringkali berfungsi sebagai sarana biblioterapi, di mana sastra menawarkan katarsis dan peta jalan keluar atas problem perilaku pembacanya.
Melalui interaksi dengan buku-buku tersebut, perpustakaan yang mula-mula terasa asing dan mengungkung perlahan berubah wujud menjadi sebuah ruang aman (safe space) secara intelektual bagi Nayla. Di ruang inilah ia belajar meregulasi kebosanannya, memantik kembali empati melalui karakter-karakter fiksi yang ia baca, dan pada akhirnya merengkuh kembali kendali atas fokus serta imajinasinya yang selama ini terdistrupsi dan didikte oleh algoritma teknologi.
Melalui pendekatan monolog ini, Panggung Ajaib berhasil menawarkan sebuah kritik struktural sekaligus solusi organik terhadap fenomena ketergantungan gawai. Narasi perjalanan Nayla membuktikan bahwa untuk menarik anak keluar dari adiksi layar digital, pendekatan represif berupa hukuman semata tidaklah cukup dan sering kali menemui jalan buntu.
Diperlukan sebuah tawaran dunia alternatif yang sama memikatnya, yakni literasi yang dibungkus dalam bentuk petualangan. Sastra anak, dalam kerangka ini, mengambil peran sentral bukan sekadar sebagai hiburan pasif, melainkan sebagai instrumen pembebasan kognitif yang mengembalikan anak pada fitrah perkembangan nalar, kemandirian, dan empatinya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda