SUKABUMI, JurnalPost.com — Perjalanan Suhendar yang dikenal dengan nama pena Pilopiu dari dunia konten digital menuju panggung literasi nasional terus menunjukkan perkembangan. Penulis sekaligus konten kreator di TikTok @suaratentangdia dan Instagram @suaratentangdiaa itu mencatat pencapaian setelah dua buku karyanya mendapat ruang dalam rubrik Resensi Harian Kompas.
Karya pertamanya berjudul Untukmu, Manusia Favoritku yang diterbitkan Mediakita dimuat dalam rubrik resensi Kompas edisi Kamis, 30 Januari 2025, pada halaman 7 bagian Opini/Resensi.
Pencapaian serupa kemudian diraih melalui buku Cerita Indah Tentang Cinta Terbaik terbitan Penerbit Akad. Buku tersebut turut diulas dalam edisi Senin, 22 Desember 2025, pada halaman 7 bagian Opini/Resensi.
Kehadiran dua buku tersebut di media nasional menjadi salah satu capaian penting bagi Pilopiu, terlebih perjalanan menulisnya bermula dari kebiasaan membagikan tulisan dan konten melalui media sosial.
Melalui akun Suara Tentang Dia, Pilopiu banyak mengangkat gagasan seputar perasaan, hubungan, cinta, hingga cara seseorang memahami pengalaman emosional. Tulisan-tulisan tersebut kemudian berkembang menjadi karya yang diterbitkan dalam bentuk buku.
Saat mengetahui bukunya mendapat perhatian dari media nasional, Pilopiu mengaku merasa bahagia sekaligus tidak menyangka.
“Tentu sangat senang, dari yang awalnya berpikir buku ini bakalan ada peminatnya atau enggak, sampai diliput media nasional,” ungkap Pilopiu.
Berangkat dari Pemikiran tentang Perempuan dan Cinta
Bagi Pilopiu, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa gagasan yang awalnya lahir dari keresahan dan pemikiran pribadi ternyata dapat menemukan pembacanya sendiri.
Ia memandang tulisan tidak sekadar sebagai tempat mencurahkan perasaan. Menulis juga menjadi sarana menyampaikan pesan yang mungkin memiliki keterkaitan dengan pengalaman emosional banyak orang.
Pilopiu menjelaskan, inspirasi utama di balik kedua bukunya berasal dari pemikiran mengenai bagaimana seorang perempuan ingin diperlakukan, dihargai, dan mendapatkan tempat dalam sebuah hubungan.
“Buku aku itu terinspirasi dari ‘perempuan bukan hanya ingin dicintai, tapi juga diakui, diperjuangkan, dan dirayakan’. Nah, lahirlah buku pertama, yaitu isinya adalah penyampaian pesan terhadap seseorang yang disebut manusia favorit, dan Cerita Indah Tentang Cinta Terbaik adalah sisi lain, menceritakan bagaimana perempuan ingin dicintai,” jelasnya.
Tema mengenai cinta, hubungan, dan perasaan kemudian berkembang menjadi salah satu karakter kuat dalam tulisan Pilopiu.

Kedekatan tema tersebut dengan pengalaman sehari-hari membuat karya-karyanya mampu menjangkau audiens media sosial sekaligus pembaca buku yang memiliki pengalaman emosional serupa.
Sempat Ragu dengan Tulisan Sendiri
Di balik pencapaiannya, proses kreatif Pilopiu tidak selalu berjalan dengan penuh keyakinan. Pada masa awal menulis, ia mengaku sempat diliputi keraguan terhadap kualitas maupun penerimaan pembaca terhadap tulisannya.
Salah satu hal yang menjadi pertanyaannya saat itu adalah apakah tulisan yang dibuat mampu mewakili perasaan orang lain.
“Awalnya cukup ragu dengan tulisannya, apakah sesuai dengan isi hati orang lain, bisa diterima atau enggak,” kenangnya.
Keraguan tersebut perlahan terjawab setelah tulisan-tulisannya mendapatkan respons dari pembaca. Karya yang sebelumnya berkembang melalui media sosial mulai menjangkau khalayak lebih luas setelah diterbitkan dalam bentuk buku.
Masuknya kedua buku ke rubrik Resensi Harian Kompas juga menjadi pengalaman tersendiri yang semakin memperkuat keyakinannya untuk terus berkarya di dunia literasi.
Ingin Terus Melahirkan Buku Baru
Pilopiu berharap karya-karyanya tidak berhenti sekadar dibaca, tetapi juga mampu meninggalkan kesan dan diterima dengan baik oleh para pembaca.
“Semoga mereka suka dengan tulisan-tulisan aku dan bisa diterima dengan baik,” ujarnya.
Sorotan yang diterima dari media nasional juga menjadi energi baru bagi Suhendar untuk melanjutkan perjalanan kreatifnya.
Dari aktivitas sederhana berbagi tulisan melalui media sosial, kini karyanya telah hadir dalam bentuk buku dan memperoleh perhatian di tingkat nasional.
Pencapaian tersebut menjadi dorongan bagi Pilopiu untuk terus mengembangkan ide dan menghadirkan karya-karya literasi berikutnya.
“Harapan ke depannya semoga bisa membuat buku lainnya,” pungkas Pilopiu.
Keterangan Foto: Potret Suhendar “Pilopiu” bersama karyanya. (Sumber: Dokumentasi Pilopiu)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda