SLEMAN, JurnalPost.com — Menulis puisi tidak selalu harus dimulai dengan mencari kata-kata indah. Sebuah gambar sederhana pun bisa menjadi sumber inspirasi untuk merangkai bait-bait puisi. Cara belajar inilah yang diperkenalkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) kepada siswa kelas VI SD Negeri Srowolan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Melalui pelatihan alih wahana sastra yang digelar pada 14 Agustus 2026, mahasiswa KKN Mandiri Kelompok 30487 mengajak siswa mengubah gambar menjadi karya puisi. Kegiatan tersebut berlangsung di SD Negeri Srowolan, Sembung, Purwobinangun, Pakem, Sleman, sebagai bagian dari program pengabdian mahasiswa yang ditempatkan di Dusun Gandok Kadilobo.
Pelatihan ini dirancang untuk membantu siswa mengembangkan imajinasi, kemampuan berbahasa, dan kreativitas melalui pendekatan pembelajaran yang lebih dekat dengan pengalaman mereka.
Alih-alih langsung meminta siswa menulis puisi, mahasiswa terlebih dahulu memperkenalkan gambar sebagai sumber gagasan. Siswa diajak mengamati objek, memperhatikan suasana, serta memahami pesan yang dapat ditangkap dari gambar sebelum menuangkannya ke dalam bentuk tulisan.
Dari Mengamati Gambar hingga Merangkai Puisi
Kegiatan dimulai dengan pengenalan konsep alih wahana sastra, yaitu proses mengubah suatu bentuk karya atau media menjadi bentuk ekspresi lainnya. Dalam pelatihan ini, gambar digunakan sebagai media visual yang kemudian diterjemahkan menjadi karya sastra berupa puisi.
Mahasiswa juga memberikan penjelasan mengenai pengertian puisi dan unsur-unsur pembangunnya. Materi disampaikan melalui media pembelajaran yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa sekolah dasar.
Setelah memperoleh penjelasan, siswa mulai mempraktikkan materi melalui lembar kerja yang telah disiapkan. Mereka diberi kesempatan memilih gambar, mengamati unsur visual, dan mengembangkan gagasan berdasarkan imajinasi masing-masing.
Selama proses penulisan, mahasiswa KKN memberikan pendampingan kepada siswa yang mengalami kesulitan menemukan kata maupun menyusun kalimat menjadi bait puisi.
Kegiatan tidak berhenti pada proses menulis. Sejumlah siswa juga mendapat kesempatan membacakan hasil karya mereka di hadapan teman-teman sekelas.
Melalui sesi tersebut, siswa tidak hanya belajar mengekspresikan gagasan melalui tulisan, tetapi juga berlatih berbicara di depan umum dan menghargai karya orang lain.
Belajar Sastra Lewat Praktik Langsung
Pelatihan ini menerapkan pendekatan learning by doing, yakni pembelajaran yang menekankan pengalaman dan keterlibatan langsung peserta didik.
Pendekatan tersebut memberi ruang bagi siswa untuk memahami puisi melalui proses penciptaan karya, bukan sekadar menghafal pengertian maupun unsur-unsurnya.
Penggunaan gambar menjadi bagian penting dalam kegiatan karena dapat membantu siswa menemukan ide awal. Bagi anak yang belum terbiasa menulis puisi, media visual dapat memberikan gambaran konkret tentang objek, suasana, atau peristiwa yang ingin diceritakan.
Meski demikian, pelaksanaan pelatihan juga memperlihatkan sejumlah tantangan.
Berdasarkan evaluasi kegiatan, beberapa siswa masih cenderung mengikuti contoh yang diberikan mahasiswa. Akibatnya, sejumlah puisi yang dihasilkan memiliki kemiripan dari segi pilihan kata maupun pengembangan gagasan.
Perbedaan kemampuan literasi antarsiswa juga memengaruhi proses pembelajaran. Ada siswa yang mampu menyusun puisi secara mandiri, sementara siswa lainnya masih memerlukan arahan lebih intensif.
Selain itu, perhatian sebagian siswa yang mudah teralihkan menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga keterlibatan peserta selama kegiatan berlangsung.
Keterbatasan waktu turut menjadi bahan evaluasi. Proses pendalaman materi, pengembangan imajinasi, dan penyuntingan hasil puisi belum dapat dilakukan secara maksimal.
Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya menyediakan waktu eksplorasi yang lebih luas serta metode pendampingan yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa.
Dorong Kreativitas dan Literasi Sejak Sekolah Dasar
Pelatihan alih wahana sastra ini juga memiliki keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keempat tentang Pendidikan Berkualitas.
Tujuan tersebut menekankan pentingnya menyediakan pendidikan yang inklusif, adil, dan berkualitas, sekaligus memperluas kesempatan belajar bagi semua.
Dalam konteks pendidikan dasar, pembelajaran sastra melalui media gambar dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengembangkan keterampilan berbahasa, kemampuan berpikir kreatif, dan keberanian siswa dalam mengekspresikan gagasan.
Dukungan pihak SD Negeri Srowolan turut membantu kelancaran program, mulai dari penyediaan tempat hingga pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
Keterlibatan mahasiswa dan pihak sekolah juga memperlihatkan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat dapat diarahkan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang bermanfaat bagi peserta didik.
Melalui kegiatan ini, puisi diperkenalkan bukan sebagai tugas menulis yang sulit, melainkan sebagai sarana menyampaikan perasaan, pengalaman, dan imajinasi dengan cara yang kreatif.
Walaupun pelaksanaannya masih memiliki sejumlah keterbatasan, pelatihan tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa kelas VI SD Negeri Srowolan.
Ke depan, pendekatan serupa berpotensi dikembangkan melalui pemilihan gambar yang lebih beragam, kesempatan berdiskusi, serta waktu tambahan untuk memperbaiki hasil tulisan.
Dengan demikian, pembelajaran sastra di sekolah dasar tidak hanya berfokus pada kemampuan memahami teks, tetapi juga memberi kesempatan kepada siswa untuk menciptakan dan mengapresiasi karya mereka sendiri.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda