Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Berita
  3. Maulid Nabi: Tafsir Cinta, Tafsir Peradaban

Maulid Nabi: Tafsir Cinta, Tafsir Peradaban

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
04 September 2025, 21.29 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Maulid Nabi

Oleh : Ali Amril - Aktivis Filantropi Dunia Islam, CEO QUPRO Indonesia, dan Chairman Aliansi Kemanusiaan Indonesia (AKSI)

Sejarah yang Dimulai dari Tahun Gajah Sejarah peradaban pernah berhenti sejenak di Mekah pada Tahun Gajah. Abrahah datang dengan pasukan skala besar, gajah-gajah perkasa, dengan niat paripurna untuk menghancurkan Ka’bah. Namun, yang dianggap perkasa, Allah tundukkan dengan cara “sangat biasa”, laksana burung-burung ababil yang melemparkan batu-batu sijjil. Peristiwa ini Allah abadikan dalam Al-Qur’an, sebagai pembelajaran berharga bagi umat manusia bahwa tirani tak akan pernah menang melawan kuasa Tuhan Semesta Alam.

IKLAN

Tak lama setelah peristiwa tersebut, lahirlah manusia agung Nabi Muhammad ﷺ, di bulan Rabi‘ul Awal. Kelahiran seorang bayi manusia yang kelak mengubah arah sejarah umat manusia. Nabi Muhammad ﷺ kecil saat itu bukanlah sekadar anak yatim dari keluarga Quraisy, melainkan cahaya yang menandai shifting peradaban. Dunia yang gelap oleh tirani, diskriminasi, dan penuh kegelapan, mulai disinari.

Semen Tonasa Jadikan Maulid Nabi Momentum Perkuat Akhlak dan Budaya Kerja
Baca Juga

Semen Tonasa Jadikan Maulid Nabi Momentum Perkuat Akhlak dan Budaya Kerja

Maulid sebagai Bahasa Universal Maulid Nabi adalah momentum sekaligus sejarah peradaban yang tidak boleh berhenti pada seremonial an sich. Ia adalah bahasa universal dan kemanusiaan. Bahasa yang semestinya dapat dengan mudah difahami oleh siapa saja, lintas etnis, agama, dan bangsa. Ia menegaskan bahwa kelahiran Nabi adalah milik seluruh umat manusia. Nabi Muhammad lebih dari sekadar pemimpin agama, melainkan guru kemanusiaan.

Tafsir Cinta: Berpihak dan Membela yang Tertindas Cinta Nabi bukanlah romantika hampa. Ia adalah energi sosial, keberanian menyatakan keberpihakan, dan pengorbanan yang nyata. Dari cinta itulah lahir keberpihakan kepada yatim, miskin, dan kaum yang tertindas. Dari cinta itu pula lahir semangat untuk menegakkan martabat manusia.

Bangsa ini baru saja diguncang gelombang demonstrasi. Suara rakyat tumpah ruah di jalan-jalan, menyampaikan aspirasi secara terbuka, menuntut keadilan. Suara itu sah, bahkan dijamin oleh konstitusi. Namun kita juga menyaksikan, ada korban jiwa. Ada luka sosial yang tidak bisa kita anggap sepele.

Ali Amril - Aktivis Filantropi Dunia Islam, CEO QUPRO Indonesia, dan Chairman Aliansi Kemanusiaan Indonesia (AKSI)

Sejumlah pejabat
Baca Juga

Wabup Barru Hadiri Maulid Nabi di Masjid Kurir Langit, Ajak Warga Perkuat Kepedulian

Kini suasana berangsur normal dan kondusif. Namun momentum Maulid kembali mengingatkan, menyuarakan kebenaran tidak boleh mengesampingkan akhlak. Nabi mencontohkan, amar ma’ruf harus disampaikan dengan hikmah. Suara harus tegas, namun kepala tetap dingin. Demonstrasi boleh dan harus menjadi ruang aspirasi, karena dijamin oleh Undang-undang, namun jangan berubah menjadi panggung kebencian.

IKLAN

Tafsir Peradaban: Revolusi Tanpa Senjata Cinta Nabi tidak berhenti di hati. Dari cinta lahirlah peradaban. Di Madinah, beliau membangun sebuah tatanan baru. Fondasinya bukanlah senjata, melainkan keadilan, persaudaraan, dan solidaritas.

Inilah makna revolusi tanpa senjata, revolusi nurani. Ia tidak bergemuruh dengan artileri, namun meninggalkan jejak yang lebih dalam dari perang apa pun. Revolusi ini mengguncang sejarah, melahirkan peradaban baru yang lebih manusiawi.

Indonesia hari ini memerlukan energi yang sama. Politik sering terjebak pada arogansi dan ego sektoral. Persaingan elite berubah menjadi gesekan kepentingan. Namun bangsa ini tidak bisa dibangun dengan amarah yang meledak-ledak. Peradaban hanya dapat lahir jika nurani tetap menyala, jika cinta dijadikan fondasi.

7f0e8d1b 3316 4969 9ef3 fbc7f68c4b48
Baca Juga

Bupati Barru Paparkan Agenda Pembangunan Daerah di Hadapan KKDB Makassar

Dimensi Global: Palestina sebagai Ujian Nurani Ketika kita disibukkan dengan gejolak internal negeri ini, dunia memberi cermin lain. Palestina berdarah. Anak-anak Gaza kehilangan bahkan dihilangkan masa depannya, rumah-rumah diluluhlantakkan, dan generasi dipangkas harapannya. Dunia seolah diam, membiarkan genosida berlangsung di depan mata secara telanjang.

Peduli Palestina kini bukanlah sekadar isu agama, ia adalah ujian nurani. Kita tetap perlu bertanya pada diri sendiri, apakah kita masih manusia? Apakah kita masih memiliki keberanian untuk tetap melabeli kejahatan sebagai kejahatan, dan tetap menyebut penderitaan sebagai penderitaan?

Jika cinta Nabi benar-benar hidup, ia akan melintasi batas dan sekat negara. Ia akan menjelma menjadi kepedulian global. Solidaritas terhadap Palestina adalah bukti bahwa kita meneladani Nabi, bukan hanya dalam doa, namun juga dalam sikap.

Hakikat Momentum Maulid Hakikat Maulid adalah panggilan untuk kembali ke titik asal kita sebagai manusia. Cinta yang melahirkan peradaban. Lebih dari sekadar perayaan seremonial, ia adalah momentum untuk meneguhkan siapa diri kita sesungguhnya.

Di tengah hiruk-pikuk politik negeri ini, dan di tengah jeritan Gaza-Palestina, Maulid mengingatkan setiap kita, cinta Nabi adalah cahaya yang tak boleh padam. Dari Jakarta hingga Gaza, kita diingatkan untuk kembali menjadi manusia seutuhnya, untuk menjaga nurani, untuk menyuarakan kedamaian, dan untuk tetap menyatakan keberpihakan pada kemanusiaan.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/maulid-nabi-tafsir-cinta-tafsir-peradaban/85347/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 20.16 WITA

  • #maulid nabi

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

Pilihan Editor

  1. 1 Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan
  2. 2

    Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

  3. 3

    Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

  4. 4

    Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

  5. 5

    Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.