JurnalPost.com — Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan teknologi Fishballer untuk membantu meningkatkan efisiensi pengolahan ikan lele di UMKM Gading, RW 06 Kelurahan Rungkut Kidul, Surabaya.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penerapan Iptek (PKM-PI) 2026 dengan mengintegrasikan sejumlah tahapan pengolahan lele dalam satu sistem produksi.
Fishballer tidak hanya diarahkan untuk membantu pengolahan daging lele menjadi produk pangan, tetapi juga memperhatikan bagian ikan yang tersisa setelah proses produksi agar dapat dimanfaatkan lebih lanjut.
Program tersebut tercatat dalam pendanaan PKM 2026 dengan judul resmi “Implementasi Sistem Integrasi Modular Pengolah Bakso Lele untuk Peningkatan Efisiensi Produksi dan Pemanfaatan Limbah pada UMKM Gading.”
Tim mahasiswa ITS tersebut diketuai oleh Muhammad Rafi Fauzan yang beranggotakan Faris Ahmad Holili, Rivaldi Satrio Wicaksono, Adri Fadhlansyah Aldinata, dan Karina Azzahra Rohmah serta dosen pendamping oleh Ira Dwitasari, S.ST., M.T. Program Fishballer menjadi salah satu proposal ITS yang memperoleh pendanaan pada bidang PKM Penerapan Iptek atau PKM-PI tahun 2026.
Berangkat dari Proses Produksi UMKM Gading
UMKM Gading merupakan salah satu usaha pengolahan ikan di kawasan Rungkut Kidul yang memproduksi berbagai makanan berbahan dasar ikan lele.
Produk yang dihasilkan antara lain bakso lele, dimsum lele, hingga kerupuk lele.
Dalam proses produksi, pengolahan ikan harus melewati sejumlah tahapan mulai dari penyiapan bahan baku, pemotongan, pemisahan daging dari bagian lainnya, hingga pengolahan daging menjadi adonan.
Apabila tahapan tersebut masih banyak dilakukan secara terpisah dan manual, proses produksi membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar. Kondisi inilah yang menjadi salah satu dasar tim mahasiswa ITS merancang Fishballer.
Teknologi tersebut dikembangkan dengan konsep sistem modular yang menghubungkan beberapa tahapan pengolahan ikan dalam satu rangkaian.
Prosesnya mencakup pemotongan ikan, pemisahan bagian daging dari kulit dan tulang, pengolahan daging, hingga penanganan bagian ikan yang tersisa dari proses produksi.
Dengan sistem yang lebih terintegrasi, pekerjaan yang sebelumnya dilakukan melalui beberapa tahapan terpisah diharapkan dapat berjalan lebih terstruktur.
Pendekatan tersebut sejalan dengan karakter PKM-PI. Dalam panduan PKM 2026, Penerapan Iptek memang ditujukan untuk menghadirkan solusi teknologi berdasarkan permasalahan nyata yang dihadapi mitra produktif, termasuk persoalan dalam proses produksi dan pengembangan usaha.
Tidak Berhenti pada Daging Lele
Salah satu aspek menarik dalam pengembangan Fishballer adalah perhatian terhadap hasil samping pengolahan ikan.
Ketika ikan lele diolah, tidak seluruh bagian menjadi bahan utama produk seperti bakso atau dimsum. Kepala, tulang, kulit, serta bagian lainnya dapat tersisa setelah daging dipisahkan.
Karena itu, tim mengembangkan pendekatan yang tidak hanya mengejar peningkatan produksi daging olahan, tetapi juga mengarah pada konsep zero waste production atau produksi dengan meminimalkan limbah.
Bagian ikan yang tidak digunakan sebagai bahan utama masih memiliki peluang untuk diolah menjadi produk turunan setelah melewati proses yang sesuai.
Salah satu pemanfaatannya dapat diarahkan menjadi bahan baku tepung ikan maupun bahan pakan.
Potensi tersebut bukan tanpa dasar. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat bahwa hasil samping industri pengolahan ikan dapat berupa kepala, tulang, kulit, sirip hingga jeroan. Sejumlah bagian itu masih mempunyai potensi ekonomi ketika diproses menjadi produk lain, termasuk bahan tepung ikan dan pakan.
Bagi UMKM, pendekatan tersebut membuka kemungkinan agar sisa produksi tidak semata-mata dipandang sebagai limbah yang harus dibuang.
Pemanfaatannya berpotensi mengurangi sisa produksi sekaligus membuka peluang penciptaan nilai tambah dari bahan yang sebelumnya tidak digunakan.
Fishballer Diserahkan kepada UMKM Gading
Implementasi program kemudian dilanjutkan dengan penyerahan teknologi kepada mitra.
Tim Fishballer PKM-PI ITS menyerahkan alat pengolahan ikan lele kepada UMKM Gading pada Jumat, 31 Juli 2026, di Balai RW 06 Rungkut Kidul, Surabaya.
Kegiatan tersebut turut diikuti unsur masyarakat setempat, termasuk ketua RW, pengurus RT, Karang Taruna, serta pelaku UMKM Gading.
Penyerahan alat juga disertai sosialisasi mengenai pengoperasian dan pemanfaatan teknologi dalam proses pengolahan ikan lele. Tim turut menyediakan buku panduan agar penggunaan dan perawatan alat dapat dilakukan oleh mitra secara mandiri.
Pendampingan menjadi bagian penting karena keberhasilan penerapan teknologi tidak hanya ditentukan oleh keberadaan alat.
Pelaku UMKM perlu memahami cara pengoperasian, prosedur keselamatan kerja, pemeliharaan rutin, hingga penanganan apabila terjadi kendala saat teknologi digunakan.
Dengan pendekatan tersebut, Fishballer diharapkan tetap dapat digunakan setelah rangkaian kegiatan PKM-PI berakhir.
Teknologi Berangkat dari Kebutuhan Pelaku Usaha
Pengembangan Fishballer menunjukkan bagaimana inovasi mahasiswa dapat diarahkan untuk menjawab persoalan yang ditemui langsung oleh pelaku usaha.
Teknologi tidak hanya dikembangkan sebagai prototipe, tetapi ditempatkan dalam proses produksi nyata milik UMKM.
Bagi UMKM Gading, sistem pengolahan yang lebih terintegrasi berpotensi membantu memangkas tahapan pekerjaan manual, membuat proses pengolahan lebih terstruktur, sekaligus membuka ruang peningkatan kapasitas produksi.
Pada saat yang sama, perhatian terhadap kepala, tulang, kulit, dan bagian ikan lainnya memberikan perspektif berbeda terhadap hasil samping produksi.
Bagian yang sebelumnya berpotensi berakhir sebagai limbah dapat dipertimbangkan sebagai bahan baku untuk produk berikutnya apabila memenuhi proses pengolahan dan standar yang diperlukan.
Melalui Fishballer, mahasiswa ITS berupaya mempertemukan teknologi, kebutuhan UMKM, efisiensi produksi, dan pemanfaatan hasil samping dalam satu sistem pengolahan lele.
Jika penerapannya dapat dilakukan secara konsisten, pendekatan semacam ini tidak hanya berpotensi membantu meningkatkan produktivitas UMKM, tetapi juga mendorong model produksi pangan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda